Kerugian Akibat Banjir dan Longsor di Bantul Mencapai Rp 402 Miliar

Agung Sandy Lesmana
Kerugian Akibat Banjir dan Longsor di Bantul Mencapai Rp 402 Miliar
Situasi banjir di Yogyakarta (Suara.com/Sri Handayani)

Pascakejadian tersebut, ada tiga wilayah terdampak yang menetapkan status tanggap darurat, yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo.

Suara.com - Bencana banjir, longsor, dan angin kencang yang terjadi di Kabupaten Bantul, DIY pada 17 Maret 2019 telah menimbulkan kerusakan serius di sejumlah infrastruktur.  Bahkan, total kerugian material terkait kerusakan akibat bencana itu mencapai Rp 402 miliar. 

"Kerugian sarana prasarana Rp 402 milyar lebih, ini laporan dari Bupati Bantul. Ada sekolah, rumah penduduk, jembatan, jalan, talud, gorong-gorong, peternakan, kandang, perikanan, kolam ikan, karamba, pertanian bawang padi sayuran, UMKM dan tempat usaha dan peralatan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana kepada wartawan. 

Pascakejadian tersebut, ada tiga wilayah terdampak yang menetapkan status tanggap darurat, yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Bantul dan Kulon Progo menetapkan tanggap darurat hingga 30 Maret 2019, sementara Gunungkidul hingga 28 Maret 2019. 

Status tanggap darurat di Gunungkidul diperpanjang hingga 14 hari ke depan dimulai dari 28 Maret. Di Bantul, status diperpanjang hingga 7 Maret dalam rangka normalisasi. 

"Wilayah yang lain saya belum dapat laporan (diperpanjang)," kata Biwara. 

Hingga saat ini, Baru Pemkab Bantul yany sudah menyerahkan laporan total kerugian. BPBD DIY masih menunggu laporan dari kedua wilayah lain. Rencananya, akan dilakukan rapat pekan depan untuk membahas laporan dan penanganan selanjutnya. 

"Kita undang semua, Bantul sudah mendahului laporan tertulis," kata dia. 

Kekinian, penanganan darurat, pemulihan, dan normalisasi fungsi pelayanan publik di daerah-daerah terdampak masih terus dilakukan. Ia mencontohkan, jalan-jalan longsor untuk sementara ditutup dengan karung pasir. Begitu pula tanggul-tanggul kali yang jebol diterjang banjir. Ia memastikan kondisi aman untuk sementara. 

Sementara, penanganan darurat untuk area longsor di Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri telah ditutup terpal. Biwara menjelaskan, kegiatan ini membutuhkan 220 unit terpal untuk menutup area seluas lebih dari 400 meter persegi. Hal ini merupakan solusi jangka pendek untuk mencegah terjadinya longsor susulan.

"Di atas ada makam yang tidak ternilai harganya dan di bawah ada pemukiman yang harus kita lindungi," ujar dia. 

Pembersihan lingkungan telah selesai dilakukan. Selain itu, ada pula proses sterilisasi ribuan sunur yang tercemar akibat banjir. Adapun penanganan pascabencana tersebut dibiayai dari dana APBD maupun APBN.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS