SuaraJogja.id - Hujan es disertai angin kencang mengguyur sejumlah wilayah di DIY, seperti Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, sekitar pukul 13.00 WIB, Rabu (3/3/2021). Akibatnya, beberapa pohon besar di kawasan UGM pun tumbang dan rumah mengalami kerusakan.
"Hujan es jatuh segede jempol. Tiba-tiba pohon besar di dekat kantor tumbang karena hujannya deras ditambah angin kencang," ujar karyawan RSH dr Soeparwi UGM, Rhiana, yang menjadi saksi mata, saat dikonfirmasi, Rabu siang.
Rhiana menjelaskan, dua pohon besar tumbang ambruk di kawasan Fakultas Kedokteran Hewan, sedangkan satu pohon lagi di depan Lapangan Pancasila.
Walaupun sempat kaget, Rhiana bersyukur, pohon tumbang tidak mengenai mobil atau orang yang lewat.
Saat ini tim damkar UGM tengah menggergaji pohon ambruk agar tidak menghalangi jalan.
"Sempat kaget karena ada suara "mak grubyuk" waktu hujan es sama angin kencang, takut kalau ada apa-apa. Untungnya tidak ada korban," ungkapnya.
Sementara, Lia, warga Lempuyangan, mengatakan bahwa hujan es dan angin kencang membuat atap rumahnya bocor. Es sebesar kerikil masuk ke rumah karena atap seng rumahnya terlempar saat angin kencang. Listrik di kawasan rumahnya langsung padam.
"Hujan es sampai masuk rumah karena atap seng hilang," ungkapnya.
Berdasarkan data dari Stasiun Klimatologi BMKG, fenomena hujan es terjadi di Turi dan Kota Yogyakarta pada musim hujan dan juga pada saat pancaroba.
Baca Juga: Hujan Es di Jogja, Butiran Sebesar Satu Ruas Jari Kelingking
Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Reni Kraningtyas mengungkapkan, hujan es ini sifatnya sangat lokal dengan radius 2 km, yang disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus lebih dari 10 km.
Saat udara hangat, lembap, dan labil terjadi di permukaan bumi, maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas/atmosfer dan mengalami pendinginan.
Setelah terjadi kondensas,i akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb).
Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level.
Freezing level ini terbentuk kristal es dengan ukuran yang cukup besar.
"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air maka terjadi hujan lebat disertai es. Es yang turun ini bergesekan dengan udara, sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Hujan Es di Jogja, Butiran Sebesar Satu Ruas Jari Kelingking
-
Hujan Es Guyur Sejumlah Titik di Jogja, Jalan AM Sangaji Hingga Area UGM
-
Pertama Kali Digempur Hujan Es, Warga di Kabupaten Paser Mendadak Heboh
-
Viral! Video Hujan Es di Long Ikis Kabupaten Paser Kalimantan Timur
-
Padang Diguyur Hujan Deras dan Angin Kencang, Puluhan Pohon Tumbang
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan
-
Perusakan Makam Mertua Seniman Djaduk Berakhir Damai, Polisi Ungkap Alasan Juru Kunci
-
Prabowo Rombak Buku Pelajaran karena Font Kekecilan, Dewan Pendidikan DIY Sebut Tak Urgen