- Uji coba penutupan jalan sirip Malioboro pada Agustus dan September 2026 berdampak buruk pada pedagang kecil, kusir andong, serta tukang becak.
- Kebijakan tersebut menyebabkan penurunan pendapatan pedagang hingga tujuh puluh persen serta memaksa pengemudi transportasi tradisional memutar rute lebih jauh.
- Pemerintah Daerah DIY menyatakan akan mengevaluasi dan merancang ulang kebijakan penataan kawasan guna mengakomodasi seluruh kepentingan warga dan budaya setempat.
SuaraJogja.id - Uji coba penutupan jalan sirip dengan pemasangan Regol Ayom dalam rangka menjadikan Malioboro jadi kawasan pedesterian pada November 2026 mendatang mulai bermasalah.
Meski membuat nyaman pejalan kaki, ada cerita tentang pedagang yang dagangannya sepi, tukang becak yang harus mengayuh lebih jauh, hingga kusir andong yang harus menghitung ulang rute dan tarif hingga merugi sejak diberlakukan empat kali setiap Rabu dan Kamis.
Bilamana tidak, walaupun masih belum menjadi keputusan final, penutupan sirip-sirip Malioboro membuat mereka yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari lalu-lalang orang dan kendaraan di kawasan tersebut sangat terasa dampaknya. Sebut saja Marcel, pedagang cilok di kawasan tersebut yang mengaku merugi.
Menurut dia, penutupan jalan membuat arus wisatawan yang biasanya melewati jalan sirip berubah. Sebagian wisatawan kini hanya melintas tanpa berhenti di kawasan tempatnya berjualan. Dia bahkan menyebut penurunan pendapatannya bisa mencapai 60 hingga 70 persen.
"Kalau misalnya warung, itu sangat memengaruhi, penjualan menurun. Tukang parkir, asongan, pedagang kaki lima, itu juga bisa terdampak. Penurunannya lebih dari 50 persen, biasanya saya turun 60 sampai 70 persen," kata Marcel di Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Bagi Marcel, persoalannya bukan sekadar jalan ditutup atau dibuka. Ada rantai ekonomi kecil yang ikut bergerak setiap kali wisatawan berhenti, membeli makanan, menggunakan jasa parkir, atau menaiki kendaraan tradisional.
"Kalau wisatawan, kebanyakan langsung lewat. Kadang ada yang melirik juga masuk, tetapi yang bikin pengaruh dan paling kasihan itu andong sama becak," ungkapnya.
Di titik ini, wajah penataan Malioboro menjadi lebih kompleks. Jalan yang bagi pemerintah merupakan bagian dari desain kawasan pedestrian, namun bagi sebagian warga adalah ruang untuk mencari nafkah.
Marcel sebenarnya tidak menolak penataan. Dia hanya berharap kebijakan tersebut tidak membuat kelompok masyarakat tertentu harus kehilangan sumber penghidupannya.
Baca Juga: Penataan Sumbu Filosofi Yogyakarta Meluas, Panggung Krapyak hingga Eks ABA Direvitalisasi
"Menurut saya, kalau menutup jalan untuk kendaraan jadi satu arah tidak masalah, asalkan tidak memengaruhi hajat hidup yang lain," katanya.
Cerita lain datang dari Adit, kusir andong asal Wirobrajan. Bagi pengemudi andong, jalan sirip bukan sekadar jalan alternatif.
Buatnya, sirip-sirip tersebut selama ini menjadi bagian dari rute untuk mengantar maupun menjemput wisatawan, termasuk menuju hotel-hotel yang berada di dalam gang.
"Bagi kami terdampaknya pada perputaran andong yang biasanya bisa sampai masuk gang-gang (jalan sirip-red). Kadang berangkat atau pulang lewat situ, sekarang jadi kendala karena tidak bisa dan harus memutar lewat jalan raya," jelasnya.
Jarak tempuh yang bertambah bukan persoalan kecil. Tarif andong selama ini sangat bergantung pada rute perjalanan.
Ketika wisatawan ingin menuju hotel di dalam jalan sirip, persoalannya semakin rumit. Pengemudi harus memutar lebih jauh, sementara wisatawan juga harus diberi penjelasan mengenai perubahan rute dan kemungkinan perubahan tarif.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Nasi di Rice Cooker Cepat Bau dan Kuning? Begini 10 Cara Mengatasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Soroti Isu Ketahanan Pangan, Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Ikuti Forum Rembuk Pangan di Jogja
-
Perkuat Layanan Diaspora, BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026
-
Unisa Yogyakarta Sambut Mahasiswi Biarawati Katolik, Bukti Komitmen Inklusivitas
-
AI Digunakan Sehari-hari, Sleman Dorong Kampus dan UMKM Bertransformasi Digital
-
5 Merek Laptop Paling Andal dan Awet untuk Jangka Panjang