Yohanes Endra
Kamis, 24 September 2026 | 17:48 WIB
Yayasan Biennale Yogyakarta kembali menorehkan jejak penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia dengan suksesnya penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2026. (ist)
Baca 10 detik
  • Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2026 bertema Niti Rumat untuk merefleksikan praktik kuratorial seni rupa.
  • Acara tersebut menghadirkan berbagai narasumber untuk membahas epistemologi, riset sejarah, dan politik pengetahuan dalam kerja kuratorial Indonesia.
  • Kegiatan ini sukses menjadi ruang belajar bersama lintas disiplin guna memperluas jaringan serta keberlanjutan ekosistem seni Indonesia.

SuaraJogja.id - Yayasan Biennale Yogyakarta kembali menorehkan jejak penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia dengan suksesnya penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2026. Mengangkat tema “Niti Rumat: Curatorial Practice and Questions of Urgencies”, edisi kali ini tampil dengan pendekatan yang berbeda. Jika penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya lebih berfokus pada upaya membangun ruang dialog antar-pelaku seni dengan beragam praktiknya, Simposium Khatulistiwa 2026 secara khusus telah mengajak publik untuk merefleksikan kerja-kerja kuratorial di tengah situasi sosial-politik yang terus berubah.

Acara ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar yang memantik diskusi sepanjang simposium: Bagaimana kerja kurator(ial) dimaknai hari ini?

Dalam dua dasawarsa terakhir, disadari bahwa praktik kuratorial telah mengalami berbagai pergeseran signifikan, baik dalam metode kerja maupun dalam relasinya dengan kuasa pengetahuan, pasar, modal, gender, serta berbagai kepentingan yang membentuk lanskap seni di Indonesia. Perubahan ekosistem seni, dinamika geopolitik, dan berbagai bentuk perlawanan terhadap struktur yang mapan turut menempatkan praktik ini sebagai entitas yang harus terus ditinjau, diperdebatkan, dan digugat agar tetap relevan dengan konteks zamannya.

Di Indonesia sendiri, praktik kuratorial terbukti tidak selalu berlangsung di dalam institusi mapan atau di bawah logika pasar seni yang masif. Praktik ini justru kerap tumbuh subur di "ruang antara"—tempat di mana berbagai kepentingan, pengetahuan, ideologi, dan pengalaman saling bertemu dan bernegosiasi. Dalam ekologi yang cair inilah, para kurator yang hadir membagikan bagaimana mereka mengembangkan pendekatan, metode, dan posisi etiknya masing-masing.

Merespons situasi tersebut, konsep Niti Rumat diajukan sebagai proposisi utama dalam simposium ini untuk membaca kembali praktik kuratorial yang berpijak pada etik perawatan sebagai strategi politik dan epistemik. Secara harfiah, niti berarti menata atau menggambar peta, sementara rumat menunjuk pada laku memelihara dengan cermat. Perpaduan keduanya sukses membingkai diskursus kuratorial sebagai kerja yang menata sekaligus merawat: menata ulang arsip dan sejarah yang terpinggirkan, sembari merawat relasi, medium, pengetahuan, dan berbagai kemungkinan yang membuat ekosistem seni terus hidup melampaui batas-batas ruang pamer.

Yayasan Biennale Yogyakarta kembali menorehkan jejak penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia dengan suksesnya penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2026. (ist)

Sepanjang pelaksanaannya, Simposium Khatulistiwa 2026 menjadi wadah di mana gagasan "Niti Rumat" dibedah melalui praktik para kurator dari berbagai generasi, pendekatan, perspektif, dan lintasan kerja. Alih-alih berusaha merumuskan satu definisi tunggal mengenai kerja kuratorial, forum ini berhasil membuka ruang refleksi bersama untuk saling belajar (learning) dan meninjau ulang (unlearning) berbagai metode, asumsi, serta historiografi kanon yang selama ini membentuk praktik kuratorial di Tanah Air.

Rangkaian simposium menghadirkan sejumlah sesi padat yang membedah praktik kuratorial dari beragam pintu masuk. Topik yang dibahas membentang luas, mulai dari epistemologi kuratorial, riset dan penulisan ulang sejarah, partisipasi dan mediasi pengetahuan, proses belajar dan unlearning generasi baru, perubahan ekologi media digital, hingga politik pengetahuan dalam diskursus kuratorial. Setiap sesi diisi oleh narasumber kompeten yang membagikan lintasan praktik, metode kerja, dan refleksi mereka, yang kemudian disambut dengan dialog interaktif dan bernas bersama para peserta.

Antusiasme terhadap perhelatan ini terbukti dari luasnya spektrum peserta yang hadir. Simposium ini diikuti oleh para kurator, penulis, peneliti seni, seniman dan pekerja seni lintas disiplin, mahasiswa, akademisi, pengelola museum dan lembaga kebudayaan, pengelola arsip, pegiat literasi, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan pada praktik kuratorial.

Pada akhirnya, Simposium Khatulistiwa 2026 terbukti tidak sekadar berhenti sebagai forum diskusi satu arah. Acara ini telah berhasil berkembang menjadi ruang perjumpaan dan belajar bersama lintas disiplin, lintas generasi, dan lintas pengalaman. Dari titik kumpul ini, simposium telah memperluas pertukaran pengetahuan serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi pengembangan diskursus, perluasan jejaring, dan keberlanjutan praktik kuratorial dalam ekosistem seni di Indonesia.

Baca Juga: Dari Wayang hingga Seni Kontemporer: Biennale Jogja 2025 Siap Gebrak Yogyakarta

Load More