Nur Khotimah
Selasa, 29 September 2026 | 19:45 WIB
Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul pada Selasa (29/9/2026). (Ist)
Baca 10 detik
  • Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko melaksanakan Panen Raya Jagung pada 29 September 2026 di Gunungkidul guna memperkuat ekonomi perdesaan.
  • Kanwil Ditjen Imigrasi Yogyakarta menggunakan pertunjukan wayang kulit untuk mengedukasi warga dan generasi muda tentang migrasi aman.
  • Imigrasi Yogyakarta menugaskan delapan Petugas Imigrasi Pembina Desa di lima belas desa binaan guna mencegah tindak pidana perdagangan orang.

SuaraJogja.id - Upaya mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Perdagangan Manusia (TPPM) tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum.

Imigrasi Yogyakarta juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat dan pendekatan budaya sebagai bagian dari pencegahan hingga tingkat akar rumput.

Langkah tersebut dilakukan melalui sinergi Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA), program ketahanan pangan, serta pendekatan kultural menggunakan wayang kulit.

Upaya ini menyasar masyarakat perdesaan yang dinilai perlu mendapat penguatan dari sisi ekonomi sekaligus pemahaman mengenai risiko migrasi nonprosedural.

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan TPPO dan migrasi nonprosedural kerap berawal dari kerentanan ekonomi masyarakat di perdesaan.

Keterbatasan lapangan pekerjaan dan rendahnya tingkat kesejahteraan dapat membuat masyarakat lebih mudah tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal.

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko saat Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul pada Selasa (29/9/2026). (Ist)

"Kami coba mencegah migrasi nonprosedural dengan menyasar dari sisi ketahanan pangan," ujar Hendarsam Marantoko saat menghadiri Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul pada Selasa (29/9/2026).

"Mengapa? karena kerentanan ekonomi dan kesulitan pangan membuat masyarakat di daerah rentan tergiur oleh iming-iming janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal," lanjutnya.

Upaya tersebut ditopang oleh program ketahanan pangan melalui penanaman jagung seluas 2,5 hektare di lima kelurahan.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Terancam Akibat Cuaca Ekstrem? Varietas Padi Lokal Disebut Bisa Jadi Solusi

Melalui kolaborasi bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian, program ini berfungsi sebagai instrumen penguatan ekonomi akar rumput agar masyarakat memiliki sumber penghidupan alternatif yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yuni Santi Nurani, menjelaskan bahwa selain optimalisasi ketahanan pangan, Imigrasi juga menggunakan pendekatan kultural untuk edukasi mengenai migrasi aman dan risiko keberangkatan nonprosedural.

Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul pada Selasa (29/9/2026). (Ist)

"Kami adakan pertunjukan wayang kulit yang menjangkau warga umum hingga generasi muda di SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta," jelas Yuni.

Desa Binaan Imigrasi di wilayah kerja Kanwil Ditjen Imigrasi Yogyakarta menjadi ruang kolaborasi di mana masyarakat bisa mendapatkan akses informasi keimigrasian dan migrasi aman secara lebih dekat melalui PIMPASA sekaligus memperoleh manfaat yang lebih luas melalui kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Saat ini, di wilayah kerja Kantor Imigrasi Yogyakarta terdapat 15 desa binaan imigrasi yang didampingi oleh 8 PIMPASA, yang tersebar di wilayah Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.

Kehadiran PIMPASA menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus memperkuat penyebarluasan informasi mengenai keimigrasian, migrasi aman, serta pencegahan TPPO dan keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural.

Load More