- Jogja Police Watch mengkritik pengangkatan Komjen Pol Suyudi Ario Seto karena kasus lama berpotensi tetap mangkrak.
- JPW menuntut penyelesaian kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis dan skandal diskriminasi hukum di Surabaya.
- Polri didesak menghentikan praktik pungli, tindakan represif terhadap demonstran, serta segera memproses hukum oknum yang terlibat.
SuaraJogja.id - Jogja Police Watch (JPW) melontarkan kritik tajam terhadap pengangkatan Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) yang baru.
Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch (JPW), Baharuddin Kamba, menilai pergantian pucuk pimpinan di tubuh Korps Bhayangkara tersebut tidak akan memberikan dampak berarti bagi masyarakat selama tumpukan kasus lama dibiarkan mangkrak.
"JPW menilai tidak berdampak secara signifikan bagi masyarakat atas terpilihnya Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri jka berbagai kasus yang masih menjadi 'pekerjaan rumah' sekaligus warisan dari Kapolri sebelumnya tidak terselesaikan sesuai dengan harapan masyarakat yang rindu akan keadilan dan kepastian hukum," kata Kamba, Kamis (1/10/2026).
Ia menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan di tingkat pusat hanyalah formalitas semata jika janji penegakan hukum yang adil dan transparan tidak terwujud. Masyarakat dinilai sudah jenuh dengan retorika reformasi yang tak kunjung menyentuh akar permasalahan di lapangan.
Kamba menyoroti langsung kelambanan polisi dalam menangani kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menelan ribuan korban dari masyarakat kecil.
"Berbagai kasus yang hingga kini masih menjadi perhatian publik adalah kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini telah ribuan korban mengalami keracunan MBG, namun tidak satu pun diproses hukum," tandasnya.
Isu perlakuan diskriminatif hukum juga berhembus kencang dari wilayah Jawa Timur menyusul skandal Restorative Justice (RJ) bagi wakil rakyat pencandu narkoba.
Keputusan Polresta Surabaya yang membebaskan sejumlah anggota DPRD dengan dalih aturan SEMA dianggap melukai rasa keadilan dan memicu kecurigaan adanya penegakan hukum yang tebang pilih.
"Kasus ini tentunya menjadi salah satu momentum bagi Kapolri terpilih Komjen Pol Suyudi Ario Seto untuk mengevaluasi ulang pemberian RJ terhadap sejumlah oknum anggota dewan ini," ujarnya.
Di sisi lain, JPW mendesak adanya pembersihan praktik pungutan liar (pungli) di daerah, termasuk skandal yang merusak citra pariwisata di kawasan Alun-Alun Kidul Kota Yogyakarta.
Penanganan internal berupa hukuman penempatan khusus (patsus) bagi oknum polisi dianggap tidak cukup untuk memberi efek jera tanpa adanya proses pidana yang transparan.
"Jangan hanya berhenti pada 'mempatsuskan' anggota Polri saja tetapi siapapun yang terlibat harus diproses hukum secara adil, transparan dan akuntabel tanpa tebang pilih," tandasnya.
Pendekatan represif aparat terhadap gerakan sipil dan demonstran juga tak luput dari sorotan kritis. Polisi diminta membongkar pola-pola kekerasan, menghentikan pemburuan terhadap para aktivis, serta mengakhiri pemanfaatan organisasi masyarakat (ormas) untuk mengadang massa aksi secara ilegal.
"Kapolri terpilih Komjen Pol Suyudi Ario Seto diharapkan menghentikan segala bentuk tindakan represif. Termasuk juga mengurangi kekuatan Polri saat berhadapan dengan massa aksi," ucapnya.
Guna memastikan kepemimpinan Kapolri Suyudi tidak terperosok ke dalam lubang kegagalan yang sama, masyarakat sipil diimbau untuk menyatukan barisan. Pengawasan ketat secara konsisten menjadi kunci utama agar janji perbaikan di internal kepolisian benar-benar terealisasi.
Berita Terkait
-
Jejak Karier Komjen Suyudi Ario Seto, dari Reserse Jadi Kapolri
-
Jabat Kepala BRAN, Dedi Prasetyo Berharap Polri Bisa Lebih Baik di Kepemimpinan Suyudi
-
Prabowo Lantik Kapolri dan Sejumlah Pejabat Negara di Istana
-
Tahu Bakal Jadi Kapolri Saat Kamis Pagi, Jenderal Suyudi Ngaku Ditelpon Pimpinan Istana
-
Fokus Kapolri Baru Jenderal Suyudi: Dekat Rakyat, Berantas Judol dan Narkoba
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
Terkini
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi
-
BRI Peduli Buka Peluang Bagi Penyandang Disabilitas di Makassar Dengan Pembekalan Kewirausahaan
-
Erna dan Ari, Pasangan Atlet Disabilitas yang Tumbuh Bersama Lewat Warung Kelontong
-
DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran