Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:10 WIB
Rumah Produksi Arumanis Haji Ardi berlokasi di Ngrangsang, Selomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (13/10/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Sejak 2011 di Kabupaten Sleman, Ardi Sahami memproduksi arum manis tradisional untuk mempertahankan jajanan tempo dulu.
  • Usaha yang awalnya memiliki tiga pekerja itu kini mempekerjakan sekitar 30 karyawan dengan jangkauan pemasaran hingga Bali.
  • Meskipun menghadapi kenaikan harga bahan baku dan penurunan omzet, ia tetap berupaya mempertahankan kelangsungan usaha serta para pekerjanya.

SuaraJogja.id - Bagi Ardi Sahami atau yang akrab disapa Haji Ardi, arum manis bukan sekadar camilan tradisional. Di balik teksturnya yang lembut dan rasa manisnya, ada usaha yang telah ia rawat sejak 2011.

Lebih dari itu, arum manis sekaligus menjadi saksi perjuangan mempertahankan mata pencaharian puluhan pekerja di tengah tekanan ekonomi.

Dari rumah produksi Arumanis Haji Ardi di Ngrangsang, Selomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ia berusaha menjaga keberadaan jajanan tempo dulu yang perlahan harus bersaing dengan beragam makanan modern. 

Perjalanan selama sekitar 15 tahun itu membawanya dari pemasaran antarkota hingga menjangkau pasar di luar Pulau Jawa.

Merawat Camilan yang Mulai Dilupakan Zaman

Pria yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menekuni usaha arum manis, salah satu makanan khas Jawa yang dikenalnya melalui perjalanan usaha dan cerita keluarga, terutama dari mertuanya yang berasal dari Kebumen.

Menurut cerita yang ia dengar, arum manis dahulu banyak dijajakan di lingkungan sekolah. Penjualnya memiliki bunyi khas untuk menarik perhatian anak-anak, sebelum jajanan itu dibungkus dengan kertas sederhana.

"Arum itu dari tepung yang digoreng menjadi harum. Kemudian manisnya itu dari gula yang direbus jadi karamel," kata Ardi ditemui di rumah produksinya, Selasa (13/10/2026).

Seiring perkembangan zaman, pola konsumsi masyarakat berubah. Makanan instan dan produk industri semakin mudah ditemukan, sementara arum manis tradisional membutuhkan ketelatenan dalam pembuatannya. 

Baca Juga: Sambut HUT ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Gelar Donor Darah: Perkuat Kepedulian Terhadap Sesama

Bagi Haji Ardi, proses yang tidak sederhana itu menjadi salah satu alasan mengapa jajanan lawas tersebut perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.

Ia mengungkap terdapat perbedaan proses produksi dan penyajian antara arum produksinya dengan arum manis yang lazim ditemukan di pasar malam.

"Kok beda ya dengan arum manis yang di pasar malam misalnya ya? Kalau itu mungkin namanya arum manis modern. Nah ini namanya arum manis tradisional atau snack jadul," ujarnya.

Berawal dari Tiga Pekerja, Kini Memiliki Puluhan Karyawan

Sebelum berfokus pada arum manis, Haji Ardi lebih dahulu bekerja sebagai tenaga penjualan untuk berbagai produk makanan. Ia pernah memasarkan roti cokelat, emping jagung, keripik pisang, onde-onde, hingga arum manis.

Setelah melihat respons pasar yang cukup baik, ia memutuskan memusatkan perhatian pada produksi arum manis pada 2011. Usaha itu tidak dimulai dengan modal yang berlimpah, melainkan meminjam dana dari koperasi.

Ia justru harus mencari pendanaan dan membangun usaha secara bertahap, dengan merekrut tiga pekerja untuk menangani produksi dan pengemasan.

"Dulu saya mengawali itu bukan yang istilahnya tanpa modal, tapi ini minus ya," ucapnya.

Pada masa awal, di rumah produksinya yang lama ia mengambil peran langsung dalam pemasaran. Dimulai dari wilayah Kota Yogyakarta sebelum memperluas jangkauan ke berbagai daerah.

Ia menjalankan pemasaran secara langsung dari satu kota ke kota lain. Ketika perjalanan belum memungkinkan untuk pulang pada hari yang sama, ia memilih menginap agar dapat melanjutkan penjualan ke wilayah berikutnya.

"Sistemnya waktu itu saya dari kota ke kota. Jadi direct selling-nya gitu, direct selling-nya dari kota ke kota," tandasnya.

Pola pemasaran tersebut perlahan membangun jaringan distribusi arum manisnya. Setelah pasar mulai terbentuk, Haji Ardi menambah tenaga kerja untuk meneruskan kegiatan pemasaran dan mengembangkan usaha.

Kini, jumlah pekerja di rumah produksi Arumanis Haji Ardi mencapai sekitar 30 orang. Dari tiga pekerja pada awal usaha, pertumbuhan itu menjadi salah satu capaian yang ingin dipertahankannya meski kondisi bisnis belakangan tidak lagi semudah sebelumnya.

Menjaga Pasar dari Jogja hingga Bali

Jangkauan pemasaran Arumanis Haji Ardi kini tidak hanya bergantung pada penjualan di sekitar Sleman. Untuk wilayah DIY, ia memiliki delapan tenaga penjualan yang menggunakan sepeda motor. 

Sementara itu, pemasaran ke luar daerah ditopang dua armada yang bergerak ke wilayah berbeda. Satu armada melayani jalur ke arah timur hingga Bali, sedangkan armada lainnya bergerak ke arah barat sampai sekitar Ciamis, Jawa Barat. 

Selain menyasar toko oleh-oleh, produk tersebut juga dipasarkan melalui warung-warung agar lebih dekat dengan konsumen sehari-hari.

Haji Ardi ingin arum manis tradisional tidak hanya dipandang sebagai buah tangan yang dibeli ketika seseorang bepergian. Ia berharap camilan tersebut dapat kembali menjadi bagian dari pilihan makanan masyarakat.

Selain toko fisik, ia kini turut merambah penjualan melalui saluran daring atau marketplace. 

Harga Tepung-Gula Naik, Harga Jual Sulit Mengikuti

Salah satu persoalan yang paling dirasakan Haji Ardi adalah kenaikan harga bahan baku, terutama tepung dan gula yang menjadi komponen utama produksi arum manis. Ia mengatakan harga tepung yang dahulu berkisar Rp50.000–Rp60.000 per sak berisi 25 kilogram pada awal usahanya, kini mendekati Rp250.000.

Kenaikan itu membuat biaya produksi semakin berat. Namun, menaikkan harga jual bukan perkara mudah karena ia berhadapan dengan kekhawatiran para pemilik toko yang menjual produknya.

"Jadi ini menjadi problem, ya, akhirnya ya jalanin aja," ucapnya.

Menurut Haji Ardi, keberatan menaikkan harga justru kerap datang dari pemilik toko, bukan langsung dari konsumen. Para pedagang khawatir produk akan semakin sulit terjual apabila harga diubah.

Sehingga produsen berada dalam posisi sulit ketika harus menyesuaikan harga dengan kenaikan biaya bahan baku.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena produsen kecil tidak selalu memiliki keleluasaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pembeli. 

Ketika harga jual dipertahankan, margin usaha tertekan. Sebaliknya, ketika harga dinaikkan, ada risiko produk kehilangan tempat di rak penjualan.

Mempertahankan Pekerja di Tengah Omzet yang Menurun

Namun, keberadaan berbagai jalur pemasaran itu belum cukup untuk mengembalikan kondisi usaha seperti sebelum pandemi Covid-19.

"Wah, kita sekarang omset menurun drastis. Jadi sejak covid itu ya, sampai sekarang," ungkapnya.

Di tengah tekanan ekonomi, Haji Ardi mengaku berusaha tidak menjadikan pekerja sebagai pihak pertama yang harus menanggung dampak penurunan usaha. 

"Kami anggap karyawan itu adalah aset, kita pertahankan sambil menunggu ekonomi kita ini bagus sampai kapan," tegasnya.

Ia tak menampik kemampuan usahanya dalam memberikan upah masih terbatas. Menurut dia, gaji pekerja di rumah produksinya belum mencapai upah minimum regional (UMR). 

Kondisi itu ia sampaikan sebagai gambaran kesulitan yang dihadapi pelaku usaha kecil ketika harus menjaga operasional di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

Meski menghadapi tekanan, Haji Ardi tetap menjalankan produksi dengan mempertahankan rasa original. Produk tersebut tersedia dalam beragam ukuran dan kemasan, mulai dari bungkus satuan yang terjangkau, kemasan kecil dan besar, hingga toples untuk disajikan kepada tamu di rumah.

Arum manis dalam kemasan sederhana dijual mulai Rp3.000 per bungkus. Sementara itu, kemasan toples berisi 14 buah dibanderol Rp30.000, termasuk wadahnya, agar konsumen memiliki pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan belanja.

Bagi Haji Ardi, perjalanan mempertahankan arum manis tradisional belum selesai. Di satu sisi, ia ingin menjaga jajanan lawas agar tetap dikenal lintas generasi. 

Di sisi lain, ia harus memastikan usaha tetap berjalan ketika harga bahan baku terus meningkat, omzet belum pulih, dan kemampuan menaikkan harga jual terbatas.

Lima belas tahun setelah memulai usaha dengan tiga pekerja, tantangannya kini bukan lagi sekadar memperluas pasar. Namun harus berjuang mempertahankan puluhan orang yang menggantungkan penghasilan pada rumah produksi tersebut, sembari menjaga agar arum manis tradisional tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Load More