- Pemerintah Daerah DIY menata fasad 23 bangunan di Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo pada 2026.
- Program bernilai lebih dari Rp 1,17 miliar ini menggunakan Dana Keistimewaan melalui konsep Malioboro Mulyo.
- Penataan menerapkan prinsip selaras dan bukan seragam guna merawat identitas arsitektur kawasan bersejarah tersebut.
SuaraJogja.id - Pemda DIY terus mengebut penataan wajah Malioboro. Sebanyak 23 bangunan di Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo menjadi sasaran penataan fasad pada 2026 ini dengan dukungan Dana Keistimewaan (Danais) lebih dari Rp 1,17 miliar melalui konsep Malioboro Mulyo.
Bangunan yang menjadi sasaran penataan 2026 antara lain Toko Haramain Rizqi, Bakpia Juwara Satoe, Yogyakarta Fashion, Istana Sari Batik, Yogyakarta Distro, Toko Luwes, Batik Soenardi, Cerita Yogyakarta, Nalendra, D’RB Batik, Punokawan, Batik Duta, Batik Bima, Tas dan Koper Dewata, Oblong Van Java (OVJ) Mall, Mumuso, APECO, Bakpia Pathok 145, JP Clothes, Invider, hingga Toko Obat Tay Antjan.
"Mulyo itu juga mengandung makna yang cukup dalam, yaitu memuliakan sumber dayanya, memuliakan lingkungannya, dan memuliakan kebudayaannya," ujar Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti di Yogyakarta, Senin (19/10/2026).
Namun, penataan kawasan bersejarah ini bukan sekadar urusan mempercantik tampilan bangunan. Pemerintah juga dihadapkan pada tantangan menjaga karakter budaya, mempertahankan jejak sejarah, sekaligus memastikan perubahan tersebut membawa manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha setempat.
Made mengatakan, penataan kawasan Sumbu Filosofis, khususnya Malioboro, harus dipahami lebih luas daripada perubahan fisik semata. Melalui konsep Malioboro Mulyo, pemerintah ingin mengangkat nilai pemuliaan sumber daya manusia, lingkungan, dan kebudayaan.
Karena itu penataan kawasan diharapkan tidak hanya mengubah tampilan bangunan, tetapi juga memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam penataannya, konsep Malioboro Mulyo diklaim bukan semata-mata membangun branding baru.
Pemda ingin memberikan pemaknaan lebih dalam terhadap kawasan yang menjadi bagian penting Sumbu Filosofis Yogyakarta tersebut. Namun Made mengakui, perubahan kawasan bisa dimaknai berbeda oleh masyarakat. Ada yang menyambut positif, tetapi ada pula yang memandangnya secara negatif.
"Ketika ada perubahan, itu tergantung dari bagaimana setiap orang memaknainya. Ada yang bicara positif, ada yang bicara negatif. Sebenarnya kita tidak mem-branding, tetapi memberikan pemaknaan yang cukup dalam untuk itu," ungkapnya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengungkapkan, penataan fasad pada 2026 menyasar 23 bangunan di Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo. Program ini menggunakan Danais melalui skema hibah barang yang melibatkan Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY).
Baca Juga: Wacana Gaji ASN Dibayar Kopdes Bikin Geger, Pemda DIY Pusing, DPRD Sebut Tak Masuk Akal
"Penataan Malioboro prinsipnya selaras, bukan seragam yang dilakukanberdasarkan kajian terhadap sejarah bangunan, keaslian, kondisi fisik, fungsi, serta konteks lingkungannya. Elemen yang memiliki nilai sejarah dan keaslian tetap dipertahankan," jelasnya.
Anggaran dalam program tersebut mencapai sekitar Rp 1,17 miliar yang dialokasikan sebesar Rp 7,493 juta untuk perencanaan, Rp 1,128 miliar untuk pelaksanaan pekerjaan fasad, serta Rp 37,441 juta untuk pengawasan.
Penataan fasad tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan seluruh bangunan di Malioboro. Prinsip yang digunakan adalah selaras, bukan seragam, dengan tetap mempertimbangkan sejarah dan keaslian setiap bangunan.
Pendekatan tersebut penting karena karakter arsitektur Malioboro terbentuk dari akulturasi berbagai pengaruh, mulai dari Jawa, Tionghoa, hingga kolonial yang melahirkan corak Indis.
"Perpaduan berbagai gaya itu menjadi bagian dari identitas kawasan bersejarah yang harus dirawat, bukan dihapus demi menciptakan keseragaman visual," jelasnya.
Dian menambahkan, program teknis penataan fasad telah dirancang sejak 2018 dan mulai dilaksanakan secara fisik pada 2022. Pelaksanaannya dilakukan bertahap, yakni lima bangunan pada 2022, 25 bangunan pada 2023, 15 bangunan pada 2024, lima bangunan pada 2025, dan 23 bangunan pada 2026.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Bedak Marcks Bisa Buat Apa Aja? Ini 3 Kegunaannya untuk Rawat Kulit Wajah
- 4 Body Lotion Malam untuk Mencerahkan dan Melembapkan, Bikin Kulit Lebih Glowing
Pilihan
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
Terkini
-
Rp1,17 Miliar untuk Poles Fasad Malioboro, Sejarah dan Ekonomi Warga Diklaim Tak Tersisih
-
Duit Sudah Disetor, Perekrut Menghilang, Calon Pekerja Migran di DIY Jadi Korban
-
Konsumsi Ayam dan Telur RI Masih Terendah di ASEAN, Ini Penyebab Utama Peternak Menjerit
-
Inklusi Keuangan DIY Capai 98,74 Persen, OJK Waspadai Gap Literasi Masyarakat
-
Sultan HB X Pertanyakan Mekanisme Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih