Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:16 WIB
Warga Gunungkidul mengambil air di sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • BMKG DIY meminta masyarakat mewaspadai kekeringan serta karhutla akibat curah hujan rendah hingga awal November 2026.
  • Masa peralihan musim di DIY juga berpotensi memicu cuaca ekstrem seperti angin kencang, petir, dan hujan lebat.
  • Masyarakat diimbau melakukan mitigasi dini dan memantau informasi resmi guna mengantisipasi bencana hidrometeorologi.

SuaraJogja.id - Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta mewaspadai potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring prakiraan curah hujan yang masih rendah hingga awal November 2026. Kondisi ini terjadi di tengah masa peralihan musim yang juga berpotensi memicu cuaca ekstrem.

Stasiun Klimatologi Kelas II DIY Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan pada dasarian III Oktober 2026 atau periode 21–31 Oktober berada pada kategori rendah, berkisar 10–50 milimeter per dasarian. Sifat hujan di sebagian besar wilayah juga diprakirakan berada di bawah normal.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II DIY, Mamenun, mengatakan kondisi serupa diperkirakan berlanjut pada dasarian I November 2026 atau periode 1–10 November. Curah hujan masih berada pada kategori rendah, yakni 10–50 milimeter per dasarian, dengan sifat hujan di seluruh wilayah diprediksi di bawah normal.

"Sementara curah hujan dasarian II November diprediksi dalam kategori rendah-menengah antara 20–75 mm/dasarian dengan sifat hujan seluruhnya bawah normal," kata Mamenun di Yogyakarta dikutip dari ANTARA pada Rabu (21/10/2026).

Prakiraan tersebut menunjukkan bahwa tambahan pasokan air dari hujan masih berpotensi terbatas hingga awal November. Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengantisipasi dampak kondisi kering, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekurangan air maupun kebakaran vegetasi.

BMKG mengingatkan bahwa curah hujan yang rendah dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan atau membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang mudah terbakar.

Cuaca ekstrem tetap mengintai saat peralihan musim

Meski hujan diprediksi masih minim, masyarakat DIY tidak lantas bisa mengabaikan potensi cuaca ekstrem. Pada masa peralihan atau akhir musim kemarau, perubahan kondisi atmosfer dapat memicu hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat menimbulkan dampak berbeda dari risiko kekeringan. Hujan lebat dalam waktu singkat, misalnya, berpotensi menyebabkan genangan di kawasan rawan, sementara angin kencang dapat mengakibatkan pohon tumbang maupun kerusakan bangunan.

Baca Juga: Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan

Untuk mengurangi risiko tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat melakukan langkah mitigasi sejak dini. Upaya yang disarankan meliputi membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan bangunan dan papan reklame atau baliho dalam kondisi kuat.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Antisipasi kebutuhan air dan puncak musim hujan

BMKG turut mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim, termasuk dampak puncak musim hujan yang dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah.

Dengan prakiraan hujan yang masih rendah pada akhir Oktober hingga awal November, pengelolaan sumber air dan upaya pencegahan kebakaran perlu menjadi perhatian. Pada saat bersamaan, kesiapan infrastruktur drainase dan lingkungan juga penting untuk menghadapi kemungkinan hujan lebat yang terjadi secara tiba-tiba.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas serta mengambil langkah antisipasi sesuai kondisi di wilayah masing-masing.

Load More