Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Selasa, 22 September 2020 | 13:02 WIB
Muhammad Agung Wahyudi (16), pelajar SMA N 1 Rongkop Gunungkidul yang hampir setiap hari harus 'nebeng' ponsel milik temannya untuk mengikuti proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) - (SuaraJogja.id/Julianto)

"Ndak enak kalau tidak bantu beli pulsa. Dia tidak minta sih, saya sendiri yang ngasih," ujar Agung.

Siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini hanya berharap pandemi segera usai. Ia tak mau banyak tuntutan kepada kakek dan neneknya.

"Ya bagaimana lagi, sekarang ya saya cuma nebeng HP temen, kadang ngasih sepuluh ribu seminggu untuk uang ganti kuota," tutur Agung.

Saat dikonfirmasi, Kepala SMAN 1 Rongkop Sariyah mengatakan, hanya ada satu siswa di sekolahnya yang tidak memiliki ponsel. Ia sendiri terpaksa meminta Agung datang ke sekolah untuk mendapatkan fasilitas laptop dari sekolah untuk mengerjakan PTS.

Baca Juga: Mau Dapat Bantuan Kuota Data Internet dari Kemendikbud, Begini Caranya

"Kami mengeluarkan opsi ini karena di lokasi rumahnya tidak ada sinyal, disini kan ada wifi," jelasnya.

Sari mengatakan, selama pandemi ini pihaknya telah melalukan pembelajaran dalam jaringan dan luar jaringan. Pembelajaran dalam jaringan digunakan selama pandemi bagi siswa yang memiliki ponsel.

"Tapi di sekolah kami hanya ananda Agung yang tidak punya, kami dampingi jika ujian kami persilakan ke sekolah dengan protokol ketat, saya rasa tidak masalah ya karena di SE Gubernur juga enggak masalah kalau ini mendesak," tandas Sari.

Kontributor : Julianto

Baca Juga: Guru dan Orang Tua Harus Bijak Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Load More