SuaraJogja.id - Meroketnya harga kedelai membuat para perajin tahu dan tempe di Kulon Progo harus mengasah akal. Untuk menekan biaya produksi, mereka menyusutkan ukuran produknya.
Hal tersebut seperti yang dilakukan Mamik Sudiyanto. Salah satu pemilik rumah industri pembuatan tahu dan tempe di Kapanewonan Temon itu terpaksa menyusutkan volume tahu dan tempe produksinya yang semula 5 cm kini jadi 4 cm.
"Ukurannya kami perkecil, tapi harga di pasar masih tetap sama. Ini kami lakukan untuk menyiasati harga kedelai yang terus naik," kata Mamik seperti dilansir dari Harianjogja.com.
Langkah menyusutkan ukuran produk itu sudah dilakukan Mamik sejak harga kedelai merangkak naik sekitar satu bulan lalu. Kala itu harganya masih normal yakni Rp6.500 per Kg. Namun terus melonjak hingga kini jadi sekitar Rp9.500 per Kg.
Jika langkah menyusutkan ukuran tidak dilakukan, dikhawatirkan usaha keluarga ini bisa bangkrut. Pasalnya kenaikan harga itu juga telah membuat permintaan konsumen anjlok hingga 30 persen.
"Sejak harga naik permintaan anjlok sampai 30 persen," ungkap Mamik.
Rumah industri ini dalam sehari bisa menghabiskan sekitar 82 kg kedelai. Itu meliputi 50 kg untuk pembuatan tahu, 30 kg pembuatan tempe dan sisanya 2 kg untuk pembuatan susu kedelai.
"Yang paling berpengaruh itu tahu dan tempe karena bahan baku utamanya 100 persen dari kedelai, sementara untuk produk susu tidak terlalu berpengaruh," ujar pengusaha yang memasarkan produknya di pasar-pasar tradisional di Temon itu.
Di samping mengecilkan ukuran produk, langkah lain yang dilakukan Mamik untuk menekan biaya produksi adalah dengan membatasi waktu produksi. Dari yang awalnya rutin setiap hari, saat ini diberlakukan sistem libur setiap beberapa hari sekali. Mamik juga menghilangkan cap merek di produk tempe buatanya untuk sementara waktu.
Baca Juga: Keluh Kesah Produsen Tahu Tempe, Dilema Kurangi Ukuran hingga Naikkan Harga
"Sebelumnya kan plastik produk kami kasih cap stempel merek sendiri, nah sekarang kami biarkan polosan, biar lebih irit," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Setelah Langka di Pasaran, Perajin Tahu dan Tempe Mulai Produksi
-
Dilema Perajin Tahu Tempe dari Perkecil Ukuran Sampai Naikan Harga
-
Tahu Tempe Langka di Pasaran, Perajin di Lebak Banten Mulai Produksi
-
Keluh Kesah Produsen Tahu Tempe, Dilema Kurangi Ukuran hingga Naikkan Harga
-
Perajin Tempe di Malang: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
5 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Pilihan Terbaik Mulai 1 Jutaan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
Terkini
-
7 Fakta Penggerebekan Markas Scammer Jaringan Internasional di Sleman
-
BRI VISA Infinite Tawarkan Kemudahan Transaksi Lintas Negara dan Rewards yang Kompetitif
-
Jadwal KRL Jogja-Solo Periode 6-11 Januari 2026 PP
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Kasus Dugaan Korupsi Eks Bupati Sleman, Pengamat Hukum Sebut Tak Tepat Diproses Pidana