Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Senin, 24 Mei 2021 | 10:07 WIB
Pegiat media sosial Denny Siregar.[YouTuber/COKROTV]

SuaraJogja.id - Pegiat sosial media, Denny Siregar beberapa waktu lalu mengulas mengenai isu capres yang mulai menghangat. Lewat kicauannya, ia menyentil bahwa pemilik partai maupun jendral tak jaminan bisa jadi presiden.

Kontestasi Pilpres 2024 memang masih jauh, tapi hiruk pikuknya sudah mulai terasa dalam kurun belakangan. Hangatnya isu perihal capres yang berpotensi maju di Pilpres 2024 pun turut dikomentari Denny Siregar.

Lewat kicauannya di Twitter, pegiat sosial media itu menyentil bab perjalanan Jokowi yang mampu menikung para pemilik partai maupun jendral merebut kursi presiden.

Ia menegaskan bahwa persoalan presiden tidak hanya diukur dari darah biru, kaya hingga latar pemilik partai. Rakyat memiliki bahasanya sendiri untuk menentukan siapa pilihannya.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Dicuekin, Denny Siregar: Mbak Puan, Hati-hati Lho

"Sesudah @jokowi terpilih, gua percaya kalau rakyat biasa yang bukan berdarah biru, bukan pemilik partai, bukan jenderal, bukan orang kaya ternyata bisa jadi presiden. Hanya rakyat yang mengerti bahasa rakyat. Kita punya cara komunikasi tersendiri yang tidak mereka mengerti," tulisnya.

Sebelum itu, Denny juga sempat mengomentari perihal sosok Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang tak diundang dalam pengarahan seluruh kader PDI Perjuangan di Jateng dalam rangka menyambut Pemilu 2024 yang dihadiri Puan Maharani.

Denny Siregar, menilai kasus Ganjar seperti mengulah kisah Jokowi.

Dia pun menceritakan bagaimana Jokowi yang pada tahun 2013 menjadi kandidat terkuat untuk Pilpres. Namun, Almarhum Taufik Kiemas, tokoh besar PDIP menegaskan Jokowi tidak akan nyapres.

"Disaat itu Jokowi baru saja jadi Gubernur Jakarta dan muncul desas desus bahwa dialah calon terkuat untuk menjadi Capres 2014, karena suara Megawati setiap survey selalu di bawah Prabowo," tulisnya.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Dimarahin Karena Medsos, Denny Siregar: Gubernur Milenial

Memang bukan sesuatu yang umum waktu itu, seorang kader partai jadi Capres, karena Capres itu wilayahnya ketua partai. Apalagi di PDIP, dimana seorang capres haruslah dari trah Soekarno.

Load More