SuaraJogja.id - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, fenomena La Nina akan melanda Indonesia. Diperkirakan La Nina muncul selama periode lima bulan hingga Februari 2022 mendatang. Karenanya Dwikorita menghimbau masyarakat untik berhati-hati.
"Fenomena [la nina] ini membuat curah hujan meninggkat 20 hingga 70 persen," ujar Dwikorita usai memberikan kegiatan sekolah lapang iklim tematik di Yogyakarta, Jumat (22/10/2021).
Menurut mantan Rektor UGM tersebut, La Nina muncul karena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Akibatnya udara terasa lebih dingin dan curah hujan tinggi.
Saat ini fenomena ini mulai bergerak ke moderat atau menengah. Kondisi ini mengakibatkan makin tingginya curah hujan. Di DIY bahkan diperkirakan kenaikan curah hujan bisa mencapai 60 persen.
Untuk menghindari dampak La Lina yang merugikan, masyarakat diminta menjaga lingkungan. Sebab bila curah hujan yang turun semakin tinggi maka dikhawatirkan bisa merusak lingkungan.
"Jangan merusak lingkungan, jangan membuang sampah, gencarkan penghijauan. Masyarakat jangan merusak lahan meski hujan tidak deras bisa merusak lahan karena lahannya sudah rusak. Apalagi kalau hujannya semakin esktrim, lahannya bisa semakin rusak. Itu bisa menjadi bencana yang merusak," tandasnya.
Sementara Kepala Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan, Bambang Widhyo mengungkapkan Pemda DIY berusaha mengantisipasi sejak awal dampak fenomena La Nina. Diantaranya pemanfaatan lahan dengan benar karena akan berdampak terhadap pengaliran dan penyerapan air yang berlebih dari fenomena ini.
"Ini jadi sangat urgent untuk bersama melakukan analisa terkait dengan kapasitas-kapasitas yang ada, saya kira baik di wilayah perkotaan maupun di luar kota juga dengan prediksi varian [fenomena la nina] yang tidak hanya panjang tapi bisa juga menit," ungkapnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga: Gelombang Samudra Hindia di Selatan Jawa Capai Kategori Sangat Tinggi
Berita Terkait
-
Gelombang Samudra Hindia di Selatan Jawa Capai Kategori Sangat Tinggi
-
Waspadai Potensi Longsor dan Banjir di Sumut
-
Dua Gempa Kembali Goyang Wilayah Ambarawa
-
Fenomena La Nina di Bali Diperkirakan Terjadi Pada November-Februari 2022, Ini Dampaknya
-
Peringatan BMKG, Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Kilat di Sejumlah Daerah Ini
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY
-
Honda DBL Jogja 2026 Dimulai: Sensasi Riding Test dan Peluang Bawa Pulang New Honda BeAT
-
Influenza A Terdeteksi di DIY, 24 Kasus Muncul, Sekolah Belum Diliburkan
-
Pestapora 2026 Siap Makin Meriah, BRImo Bawa Program Spesial
-
Cak Nun hingga Eross Sheila on 7, Jejak 77 Tahun MUHI Yogyakarta Diabadikan dalam Buku