SuaraJogja.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum lama ini menyatakan bahwa kampanye politik boleh dilakukan di lingkungan kampus. Keputusan ini menimbulkan perdebatan oleh sejumlah kalangan.
Pakar Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Wawan Masudi menilai bahwa hal itu sah-sah saja dilakukan. Namun harus dibarengi dengan konsep yang matang dalam realisasinya.
Model kampanye politik yang dilakukan di dalam lingkungan kampus pun harus berbeda. Jika kemudian dibandingan dengan kampanye di luar kampus.
Ia menyebut jika memang dapat dilakukan secara baik akan ada benefit atau dampak positif yang dapat dirasakan. Baik oleh partai politik (parpol) maupun mahasiswa yang ikut.
"Jadi yang pasti dari sisi parpol dan kandidat mereka akan dipaksa untuk bisa menghadirkan ide yang memang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kampanye kan sekaligus merupakan political janji politik. Selain substansi juga cara berkampanye yang jauh lebih cerdas," kata Wawan dihubungi awak media, Rabu (27/7/2022).
Kemudian dari mahasiswanya, kata Wawan itu akan menjadi sangat bagus untuk bisa menghadirkan tantangan-tantangan bagi para kandidat atau parpol yang berkampanye. Serta kemudian memberikan agenda-agenda politik yang dianggap penting untuk dijalankan.
"Jadi akan ada benefit dari dua belah pihak, yang benefit yang paling tinggi adalah menyehatkan proses demokrasi kita yang lebih bagus. Sebab selama ini kan kita hanya sibuk melulu tentang proseduralnya," ujarnya.
Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) itu kampus juga disebut sebagai tempat pemilih muda terepresentasi. Walaupun memang pemilih muda sendiri dapat berasal dari berbagai tempat.
Belum lagi melihat dari demografi pemilih muda di kampus yang terbilang cukup banyak. Sehingga tidak dipungkiri kampus menjadi salah satu tempat yang strategis.
Baca Juga: Sejumlah Catatan PAN Soal KPU Izinkan Kampanye di Kampus
"Harus diingat dari sisi demografi politiknya nanti jumlah pemilih dari pada pemilu 2024 itu mencapai sekitar angka kasarnya 45-46 persen. Jadi anggaplah hampir separuh dari pemilih untuk 2024 itu berada di usia kategori 17-40an, itu jumlah pemilih yang sangat gede," ungkapnya.
Kampanye di kampus, kata Wawan, harus digunakan untuk mendorong model-model proses elektoral. Kebijakan tersebut akan bagus sejauh memang masih dalam kerangka programatik tadi.
Namun kemudian tidak menjadi bagus jika kemudian semata-mata hanya digunakan sebagai arena menggali suara saja. Apalagi memanfaatkan semata-mata jaringan kemahasiswaan di kampus.
"Apalagi yang kita tahu jaringan kemahasiswaan di kampus itu punya afiliasi politik. Nah itu yang kurang bagus. Jadi urut-urutan berpikirnya begitu, jangan langsung dipotong, kampus tempat kampanye, iya lalu idenya apa. Itu yang saya kira perlu diperhatikan," tandasnya.
Berita Terkait
-
Antara Pangan Instan dan Kampanye Sehat, Ironi Spanduk di Pasar Tradisional
-
Tunggu Perda Disahkan, Dana Rp300 Juta per RW di Depok Cair 2026
-
Misteri Kematian Mahasiswa UKI: Polisi Jamin Transparansi, Titik Terang Segera Muncul?
-
Tewas usai Pesta Miras di Kampus, Polisi Gelar Prarekontruksi Kasus Mahasiswa UKI Hari Ini
-
Gelar Kampanye Sosial di Panti Asuhan, Comminfest 2025 Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang bagi Anak
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Seusai Lebaran Terpantau Stabil
-
Tiga Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Parangtritis, Satu Masih Hilang
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo