SuaraJogja.id - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah atau yang sebelumnya dikenal RSUP Sanglah di Bali berhasil melakukan operasi otak perdana tanpa membedah atau membongkar kepala pasien.
"Ini sebenarnya tindakannya namanya 'Stereotactic Surgery' operasi khusus kelainan-kelainan di otak yang letaknya dalam, sehingga kalau operasi biasa menuju ke sana merusak banyak tempat," kata Dokter Spesialis Bedah Syaraf RSUP Prof Ngoerah Prof Dr. dr. Sri Maliawan seperti dikutip dari Antara.
Pada operasi perdana ini, tim bedah RSUP Prof Ngoerah menyelamatkan seorang pasien anak-anak berusia empat tahun yang dirujuk dari Indonesia bagian timur.
Di kepalanya, pada titik yang dalam dan melewati bagian-bagian otak terpenting terdapat nanah.
"Dengan teknik Stereotactic Surgery tersebut kita bisa menjangkau lokasi nanah yang dalam di bagian otak dengan aman dengan bukaan tulang yang sangat kecil," kata dokter bedah syaraf tersebut.
Selain itu, dengan melakukan metode operasi otak yang umumnya harus membedah kepala akan muncul potensi salah lokasi, sedangkan Prof Sri menyebut dengan alat yang digunakan di RSUP Prof Ngoerah akan mampu mengukur jalan paling aman ke sasaran.
Dokter spesialis di Rumah Sakit Prof Ngoerah ini menyebut metode Stereotactic Surgery adalah metode operasi masa depan, hampir seluruh rumah sakit di luar Bali menerapkannya. Taktik ini dikatakan sebagai cikal bakal untuk nantinya berkembang pesat di dunia kesehatan.
"Mudah-mudahan ini merangsang di rumah sakit dipasang stereotactic, sehingga RSUP Prof Ngoerah jadi one stop service sehingga tak perlu dikirim ke mana-mana untuk kelainan seperti itu. Dan untuk di Bali jadi rujukan, sehingga untuk kasus gangguan pergerakan atau movement disorder tidak perlu jauh ke Surabaya atau Jakarta," ujar Prof Sri.
Ia turut menyampaikan bahwa tak sedikit kasus yang membutuhkan metode ini, namun karena keterbatasan alat maka ditentukan skala prioritas.
Baca Juga: Menghuni Lebih dari 65 Tahun, 72 KK Desa Adat Buleleng Diberi Hibah Sertifikat Tanah Gubernur Bali
Dengan adanya tambahan bantuan ini, Prof Sri berharap ke depan metode ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin demi pasien, bahkan muncul harapannya agar Stereotactic Surgery menjadi bagian dari tanggungan BPJS Kesehatan.
Pada operasi Stereotactic Surgery yang berlangsung di Denpasar itu, tim bedah syaraf RSUP Prof Ngoerah mampu menyelesaikannya dalam waktu 30 menit, dengan tambahan dua jam waktu persiapan.
Tahapan pertama yaitu persiapan alat Stereotactic Surgery dan pembiusan, selanjutnya pemasangan rangka di kepala pasien dan CT Scan. Dari hasil CT Scan, tim dokter memantau koordinat sasaran yang dituju. Dilakukan lah perencanaan jalur masuknya alat dan setelah itu operasi otak dilakukan.
Berita Terkait
-
Terpental 6 Meter Akibat Hajar Polisi Tidur, Maling HP yang Nyamar jadi Polisi di Cilandak Kini Operasi Otak
-
Model Ini Nekat Bikin Konten Dewasa di Rumah Sakit, Padahal Baru Saja Operasi Otak
-
Tersangka Korupsi Masjid Sriwijaya Diklaim Pernah Hilang Ingatan Usai Operasi Otak
-
Usai Menjalani Operasi Otak, Pria Ini Tak Lagi Merasa Rasa Takut
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur
-
Tanggapi Pembubaran Ibadah di Bantul, Sultan HB X: Tidak Ada yang Boleh Merasa Paling Benar Sendiri!
-
Kesbangpol Bantul Kaji Legalitas Tempat Ibadah GMS Usai Dugaan Aksi Pembubaran
-
Tanah Adat Dirampas, Konflik dengan Negara Kian Memanas, RUU Masyarakat Adat Mendesak Disahkan
-
Dua Dekade Gempa Jogja, Ancaman Megathrust dan Pentingnya Klaster Bencana