SuaraJogja.id - Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkap terdapat sejumlah anomali cuaca di wilayah Indonesia belakangan ini. Hal tersebut berdampak pada musim kemarau yang diprediksi akan mundur hingga Mei 2024.
"Apabila dibandingkan dengan rata-ratanya, awal musim kemarau 2024 seluruh wilayah DIY diprediksi mundur dibandingkan rata-ratanya antara 1 hingga 2 dasarian. Perhitungan dasarian ini adalah per 10 hari," kata Reni, dikutip Senin (25/3/2024).
Dipaparkan Reni, sejumlah anomali cuaca yang terjadi tersebut antara lain El Nino. Fenomena itu akan memasuki masa netral pada medio Mei hingga Juni 2024.
Kemudian ada fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) netral yang diprediksi akan bertahan setidaknya hingga pertengahan tahun 2024 nanti. Ada pula anomali terkait Suhu Muka Laut Perairan Indonesia atau Sea Surface Temperature (SST) yang diprediksi berlangsung pada Maret hingga Agustus 2024.
Tak hanya itu, masih ada fenomena atau anomali Monsun Australia pada Mei 2024. Anomali itu diprediksi muncul di Indonesia di wilayah bagian selatan pada Juni hingga Agustus 2024.
Lalu pada April hingga Juli 2024 juga diprediksi akan muncul anomali tersendiri. Tepatnya saat Indonesia diprediksi menjadi daerah pertemuan angin sekitar ekuator atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ).
"Berdasarkan kondisi dinamika atmosfer laut tersebut maka diprediksi awal musim kemarau baru terjadi pada Mei 2024, khusus di wilayah Yogyakarta," ujarnya.
Musim kemarau yang datang nanti pun, kata Reni akan berlangsung secara bertahap. Mulai dari dasarian I yang berlangsung di wilayah Kabupaten Sleman bagian Utara, Kabupaten Kulon Progo bagian Utara, Kabupaten Gunungkidul bagian Tengah dan Selatan dan Kota Jogja.
Kemudian pada dasarian III Mei disusul oleh wilayah Kabupaten Kulon Progo bagian Tengah dan Selatan, Sleman bagian Selatan, seluruh Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul bagian Utara dan Barat.
"Puncak musim Kemarau 2024 di DIY diprediksi berlangsung antara Juli hingga Agustus 2024," ucapnya.
Berita Terkait
-
H+3 Lebaran: Mayoritas Kota Besar Diguyur Hujan Ringan Hingga Petir
-
Jakarta Bernapas Lega: Kualitas Udara Membaik di Hari Lebaran! Kota Lain Bagaimana?
-
Waspada! Cuaca Ekstrem Ancam Mudik Lebaran 2025, Ini Daftar Daerah Rawan
-
Mudik Lebaran 2025, Siap-siap Gelombang Tinggi dan Angin Kencang Ancam Penyeberangan!
-
Modifikasi Cuaca Kembali Dilakukan Jelang Lebaran, Habiskan Rp200 Juta per Sekali Operasi
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah
-
Gembira Loka Zoo Hadirkan Zona Cakar, Pengalaman Baru untuk Pengunjung Berjalan Bersama Satwa Buas
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan