Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 15:18 WIB
Penggunaan jargas di salah satu warung nasi goreng milik warga di Sleman, Jumat (14/8/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Pemilik warung di Sleman merasakan penghematan biaya energi dan pasokan lebih pasti setelah beralih menggunakan jargas.
  • Kementerian ESDM menargetkan pembangunan 119.379 sambungan rumah pada periode 2025–2026 demi memperkuat ketahanan energi nasional.
  • PT PGN menyatakan pengembangan jargas menghadapi tantangan batasan teknis jaringan pipa dan tingginya biaya investasi infrastruktur.

Secara kumulatif, hingga 2025 Indonesia telah memiliki 949.008 sambungan jargas rumah tangga. Sebanyak 703.308 sambungan berasal dari pembiayaan APBN, sedangkan 245.700 sambungan dibangun melalui pendanaan non-APBN.

Namun ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak gas tersedia di dalam perut bumi. Gas itu harus bisa sampai ke konsumen dan di titik inilah tantangan jargas menjadi lebih kompleks.

Sugianto Eko Cahyono, Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, menjelaskan pengembangan jargas masih menghadapi batasan teknis jaringan.
Saat ini, jaringan memiliki batas maksimal tertentu dalam jangkauan pipa. Kondisi itu membuat pengembangan dan pertukaran jaringan harus dilakukan secara bertahap.

"Namun kapasitas PRS (Pusat Regulator Station-red) masih cukup untuk pengembangan," ujarnya.

Sugianto menyebut, ada pekerjaan rumah berupa pembangunan infrastruktur distribusi, penyambungan pelanggan, kesinambungan proyek, hingga transisi dari pembangunan berbasis proyek menuju pengelolaan sektor komersial. Di Kecamatan Depok, Sleman yang memiliki PRS jargas, pemanfaatannya diakui baru tercapai sekitar 30 persen. 

Jargas memang dapat lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi. Tarif gas untuk pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil ditetapkan Rp10.000 per meter kubik, dengan volume minimum empat meter kubik atau biaya minimum Rp40.000.  Batas tarif dasar itu berlaku hingga pemakaian 50 meter kubik. 

"Jika pemakaian melampaui angka tersebut, kelebihannya dikenakan tarif Rp12.000 per meter kubik," jelasnya.

Sementara untuk pelanggan komersial, tarifnya berbeda berdasarkan golongan. Salah satu golongan tertinggi yang disebut saat ini, Bronze 2, berada di kisaran Rp12.400 per meter kubik.

Bagi konsumen yang selama ini menggunakan LPG nonsubsidi, peralihan ke gas bumi bisa menawarkan efisiensi. 

Baca Juga: Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa

Saat ini di wilayah Jawa Tengah terdapat 22.099 pelanggan jargas termasuk sektor rumah tangga, industri  komersial serta usaha kecil dan menengah. Di DIY, baru sekitar 4.545 pelanggan jargas rumah tangga yang tercatat selain 6 pelanggan kecil (PK) dan 4 pelanggan komersial industri (KI).

"Kalau yang kami capai selama, dilihat dari yang kami capai 4.545 tadi, itu dihitung dari sejak proyek kami pertama kali di tahun 2023 ya," jelasnya.

Tetapi bagi masyarakat yang masih menikmati LPG bersubsidi, hitung-hitungan ekonominya menjadi jauh lebih rumit. Sebab di sinilah proyek jargas bersinggungan dengan persoalan kebijakan subsidi energi.

Selain harga dan kepastian pasokan, aspek keamanan menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan jargas. Menurut Sugianto, tekanan gas pada jaringan berada pada level rendah, sekitar 0,03, sehingga risiko akibat tekanan gas relatif minim.

Gas bumi juga memiliki karakteristik lebih ringan dibandingkan udara. Jika terjadi kebocoran, gas cenderung bergerak ke atas dan keluar melalui ventilasi yang memadai.

"Pengelola juga menyiapkan tim siaga 24 jam untuk menangani laporan kebocoran, dengan layanan perbaikan tanpa biaya," imbuhnya

Load More