Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:17 WIB
Pasangan suami istri, Erna Wanti (42) dan Ari Utoyo (50) di Kegiatan TJSL BULOG Peduli RPK Mandiri di Kota Yogyakarta, Kamis (1/10/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Pasangan disabilitas Erna Wanti dan Ari Utoyo sukses mendirikan warung sembako di Yogyakarta sejak 2020.
  • Usaha kecil tersebut berkembang pesat saat pandemi karena lonjakan permintaan bahan pangan pokok masyarakat.
  • Perum Bulog memberikan dukungan barang modal usaha dan pendampingan melalui program TJSL untuk memperkuat kemandirian.

Perjalanan sebagai atlet sekaligus pelaku usaha membuat Erna memiliki pandangan tersendiri tentang kemandirian penyandang disabilitas. Menurutnya, keterbatasan tidak semestinya membuat seseorang merasa rendah diri.

Bagi mereka, keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk menggantungkan hidup pada iba dan bantuan orang lain. Ia justru melihat ada kemampuan tertentu yang dapat tumbuh dari kondisi yang dianggap sebagai kekurangan. 

"Ya kita gak usah malu dengan keterbatasan kita ya, karena kadang yang menjadikan keterbatasan kita itu malah menjadi kelebihan kita yang orang lain mungkin tidak punya," ungkapnya.

Pesan itu sejalan dengan kehidupan yang dijalani Erna dan Ari. Mereka tidak hanya berusaha mempertahankan penghasilan dari warung, tetapi juga terus mengembangkan diri melalui olahraga yang mereka tekuni.

Warung kelontong di Jalan Srikaloka Nomor 11F, Bugisan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta itu sudah sejak beberapa waktu terakhir bahkan mendapatkan dukungan komoditas melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BULOG Peduli Rumah Pangan Kita (RPK) Mandiri.

Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk barang yang kemudian dijual kembali. Sehingga keuntungan dari penjualan dapat diputar untuk mengembangkan usaha.

"Modal usaha tapi bukan berupa uang, tapi barang, yang kita jual intinya nanti dikembangbiakkan mungkin ya, mungkin bahasa kasarnya melalui untungnya gitu, nanti kita kembangkan," tandasnya.

Menjaga Warung, Menjaga Kemandirian

Direktur Operasi Perum Bulog, Andi Afdal mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan usaha bagi penyandang disabilitas di Kota Yogyakarta. Program kali ini menyasar 30 RPK yang dikelola penyandang disabilitas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Baca Juga: Gandeng Ndarboy dan Happy Asmara, Film Musikal 'Cidro Asmoro' Siap Gebrak Bioskop 2026!

"Setiap RPK ada 30 RPK dengan karakteristik mereka adalah penyandang disabilitas atau difabel dan mereka mendapatkan uang modal untuk kerja sebesar Rp5 juta masing-masing," kata Andi.

Namun, bagi pasangan seperti Erna dan Ari, keberlanjutan usaha pada akhirnya tetap ditentukan oleh bagaimana mereka menjalankan warung tersebut setiap hari. 

Rak yang terus terisi, pelanggan yang datang, dan keuntungan yang kembali diputar menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk mempertahankan kemandirian.

Andi mengatakan Bulog turut melakukan pendampingan agar dukungan yang diberikan tidak berhenti pada pemberian modal awal. Para penerima diharapkan tetap mendapatkan akses informasi dan bantuan ketika menghadapi kendala dalam menjalankan usaha.

"Jadi bukan satu kali kita lepas, berikan modal kemudian kita tinggalkan begitu saja," ujarnya.

Kisah Erna dan Ari menunjukkan bahwa kemandirian tidak selalu hadir dalam bentuk usaha besar. Terkadang, ia tumbuh dari warung kecil yang dibangun sedikit demi sedikit, dari latihan yang terus dijalani, hingga keberanian untuk tetap bekerja meski memiliki keterbatasan.

Load More