Budi Arista Romadhoni
Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:52 WIB
Kondisi Kota Yogyakarta yang panas, Kamis (8/10/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan DIY melaporkan kasus ISPA melonjak sebanyak 1.059 kasus dalam sepekan akibat cuaca panas dan berdebu pada minggu ke-38 tahun 2026.
  • Pekerja lapangan di DIY menghadapi risiko tinggi gangguan kesehatan akibat panas, meski belum ada laporan kasus heatstroke hingga saat ini.
  • Dinkes DIY mengimbau warga memperbanyak minum air putih, memakai masker di tempat umum, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan saat mengalami keluhan.

SuaraJogja.id - Cuaca panas yang berlangsung berkepanjangan di DIY mulai membawa berdampak pada kesehatan masyarakat. Di tengah kondisi udara yang panas, kering dan berdebu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) melonjak tajam.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menunjukkan, kasus ISPA mencapai 13.677 kasus berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) minggu ke-38. Yang mengkhawatirkan, angka tersebut melonjak 1.059 kasus.

"Lonjakan ini terjadi dalam satu pekan dibandingkan data minggu sebelumnya," ujar Kepala Dinas Kesehatam (kadinkes) DIY, Gregorius ANung Trihadi di Yogyakarta, Kamis (8/10/2026).

Menurut Anung, lonjakan tersebut menjadi sinyal cuaca panas dan kering tidak sekadar persoalan ketidaknyamanan bagi warga. Kondisi lingkungan yang kering dan paparan debu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

Karenanya Dinkes DIY mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi tersebut. Selain ISPA, penyakit saluran pencernaan juga termasuk penyakit yang perlu diwaspadai.

"Kondisi cuaca panas dan kering berlangsung gampang mengganggu saluran pencernaan," jelasnya.

Ancaman lain yang juga mengintai adalah gangguan kesehatan akibat paparan panas. Meski sampai saat ini belum ada laporan kasus heatstroke di DIY, kelompok yang bekerja di bawah terik matahari dalam waktu lama berada pada risiko lebih tinggi.

Pekerja bangunan, pekerja jalan, petani dan pekerja lapangan lainnya menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Gejala gangguan akibat panas yang harus dikenali masyarakat antara lain kulit terasa panas, pusing, mual hingga kehilangan kesadaran. Jika mulai merasa pusing atau lemas saat berada di bawah terik matahari, masyarakat diminta segera mencari tempat yang lebih sejuk.

Baca Juga: Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?

Dinkes DIY mendorong masyarakat tidak menunggu sampai kondisi kesehatan memburuk. Warga dianjurkan memperbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi serta menggunakan pakaian longgar dan berwarna terang.

"Hindari aktivitas terlalu lama di bawah sinar matahari langsung," ujarnya.

Untuk menghadapi lonjakan ISPA, masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika berada di tempat umum, terutama saat kondisi udara berdebu. Paparan asap dan debu secara langsung sebaiknya dihindari.

Apalagi berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, kondisi cuaca di DIY berkisar mencapai 31-34 derajat Celcius. Kondisi panas dan terik ini dipicu minimnya pembentukan awan hujan, gerak semu matahari, serta pengaruh musim kemarau kering.

Karena itu kontak dengan orang yang sedang mengalami flu atau batuk juga perlu dikurangi. Asupan makanan bergizi dan sumber vitamin C dianjurkan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Di sisi lain, Dinkes DIY meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan kasus ISPA. Pemda juga terus melakukan edukasi agar masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. 

Load More