Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 09 Oktober 2026 | 09:24 WIB
Para siswa melaksanakan salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di halaman SD Muhammadiyah Geger, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/10/2026). ANTARA/HO-LAZISMU Kotagede
Baca 10 detik
  • Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan di Dusun Geger, Bantul, membuat siswa SD terpaksa bertayamum karena kesulitan air.
  • Siswa SD Muhammadiyah Geger bersama warga menggelar salat Istisqa pada Rabu, 7 Oktober 2026, untuk memohon hujan.
  • LAZISMU Kotagede menyalurkan bantuan puluhan truk tangki air bersih guna membantu warga terdampak kekeringan parah.

SuaraJogja.id - Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai mengganggu aktivitas dasar masyarakat. Di Dusun Geger, Kapanewon Pundong, krisis air bersih bahkan membuat siswa sekolah dasar (SD) terpaksa bertayamum karena kesulitan mendapatkan air untuk berwudhu.

Kondisi tersebut mendorong siswa SD Muhammadiyah Geger bersama guru dan warga setempat menggelar salat Istisqa atau salat meminta hujan. Kegiatan yang diikuti sekitar 130 peserta itu berlangsung di halaman sekolah pada Rabu (7/10/2026), dengan dukungan LAZISMU Kotagede.

Wakil Kepala Kantor dan Fundraising LAZISMU Kotagede, Asyam Rafi, mengatakan salat Istisqa digelar sebagai ikhtiar spiritual menyikapi kondisi sumber air yang semakin mengering.

“Anak-anak sekolah terpaksa harus bertayamum, tidak bisa berwudhu, karena keterbatasan air,” kata Asyam di Yogyakarta, Kamis (8/10/2026).

Menurut Asyam, kemarau berkepanjangan telah menyebabkan mata air utama yang selama ini menjadi andalan warga Dusun Geger mengalami kekeringan total. Sumber air tersebut biasanya dipompa menggunakan mesin penyedot untuk kemudian dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Namun, saat ini debit air yang tersisa sangat kecil sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga secara memadai.

Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, bahkan untuk kebutuhan bersuci. Situasi yang dialami para siswa menjadi gambaran nyata bagaimana dampak kekeringan telah merambah aktivitas sehari-hari masyarakat.

Mata Air Mengering, Warga Berharap Hujan Segera Turun

Salat Istisqa menjadi salah satu upaya yang dilakukan warga untuk memohon turunnya hujan di tengah keterbatasan air. Dalam pelaksanaannya, salat terdiri atas dua rakaat, dengan tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Baca Juga: Berkaca Kasus Keracunan, Jogja Uji MBG Prasmanan dan Tak Lagi Pakai Ompreng

Imam juga membalikkan pakaian luar yang dikenakan atau tahwilul rida’. Tradisi tersebut menjadi simbol pengharapan agar keadaan berubah dari kekeringan dan kesulitan menuju kesuburan serta kelimpahan air.

Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan khutbah yang mengajak jamaah memperbanyak istighfar dan melakukan introspeksi diri atau muhasabah atas musibah kekeringan yang terjadi.

Di luar ikhtiar spiritual tersebut, kebutuhan air bersih tetap menjadi persoalan mendesak bagi warga terdampak.

Asyam menyebut LAZISMU Kotagede telah menyalurkan lebih dari 40 truk tangki air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan parah di beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul.

Penyaluran tersebut menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air selama musim kemarau. Sementara itu, kondisi di Dusun Geger memperlihatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, tetapi juga aktivitas penting seperti berwudhu bagi anak-anak sekolah.

Warga pun berharap hujan segera turun agar sumber mata air kembali terisi dan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.

Load More