- Dosen Unisa Yogyakarta Erni Saharuddin meluncurkan Program Tangkas Gizi di Sleman pada Juli-Agustus 2026.
- Program tersebut melatih kader PKK mengolah makanan bergizi, membudidayakan ayam petelur, serta menanam sayuran secara vertikal.
- Inisiatif ini bertujuan memberdayakan keluarga agar mampu menyediakan pangan bergizi secara mandiri untuk mencegah stunting.
Menurut Erni, pemanfaatan pekarangan dapat membantu keluarga menjaga ketersediaan bahan pangan bergizi tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar rumah.
“Telur tidak harus selalu dibeli dari luar. Sayuran tidak selalu bergantung pada pasar. Sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari lingkungan rumah sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, kemandirian pangan bukan berarti seluruh kebutuhan gizi keluarga harus diproduksi sendiri. Upaya tersebut menjadi salah satu alternatif untuk memperluas akses terhadap bahan makanan bergizi sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan masing-masing keluarga.
Kader PKK Jadi Penggerak Keberlanjutan
Erni menilai keberlanjutan program pemberdayaan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, kader PKK memiliki peran penting untuk meneruskan edukasi dan menjaga kegiatan tetap berjalan setelah pendampingan dari perguruan tinggi berakhir.
Melalui kader yang dekat dengan warga, pengetahuan tentang gizi dan pengelolaan pangan diharapkan dapat diterapkan lebih luas di lingkungan keluarga.
Program Tangkas Gizi juga diarahkan pada penguatan kelembagaan kelompok, termasuk penyusunan mekanisme pengelolaan budidaya ayam petelur dan sayuran, pengelolaan kas, serta pemanfaatan hasil produksi.
Hasil produksi diprioritaskan untuk mendukung pemenuhan gizi balita dan kegiatan PKK. Sementara itu, kelebihan hasil dapat dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan usaha kelompok, misalnya untuk membeli bibit dan pakan.
Pola tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima bantuan atau penyuluhan, tetapi memiliki kemampuan mengelola sumber daya secara mandiri.
Baca Juga: Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Luar, Ini Alasannya
“Melawan stunting memang membutuhkan kebijakan yang kuat, namun perubahan yang bertahan lama juga membutuhkan keluarga dan masyarakat yang tangguh,” kata Erni.
Dengan demikian, pencegahan stunting perlu berjalan melalui dua pendekatan yang saling melengkapi: peningkatan pengetahuan tentang gizi dan penguatan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan. Keduanya menjadi bagian penting agar pemenuhan gizi anak tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan
-
Krisis Air di Bantul, Siswa SD Terpaksa Tayamum karena Tak Bisa Berwudhu
-
Usai Dilantik, Bupati Sleman Minta 5 Lurah PAW Diminta Fokus pada Program dan Pelayanan Publik
-
Resmi Pimpin Candibinangun, Atik Sunaryati Komitmen Salurkan Gaji dan Hak Pelungguh untuk Warga
-
Cuaca Jogja Dihantam Panas Berkepanjangan, ISPA Meledak 13.677 Kasus, Naik 1.059 dalam Sepekan