- Sejak 2011 di Kabupaten Sleman, Ardi Sahami memproduksi arum manis tradisional untuk mempertahankan jajanan tempo dulu.
- Usaha yang awalnya memiliki tiga pekerja itu kini mempekerjakan sekitar 30 karyawan dengan jangkauan pemasaran hingga Bali.
- Meskipun menghadapi kenaikan harga bahan baku dan penurunan omzet, ia tetap berupaya mempertahankan kelangsungan usaha serta para pekerjanya.
SuaraJogja.id - Bagi Ardi Sahami atau yang akrab disapa Haji Ardi, arum manis bukan sekadar camilan tradisional. Di balik teksturnya yang lembut dan rasa manisnya, ada usaha yang telah ia rawat sejak 2011.
Lebih dari itu, arum manis sekaligus menjadi saksi perjuangan mempertahankan mata pencaharian puluhan pekerja di tengah tekanan ekonomi.
Dari rumah produksi Arumanis Haji Ardi di Ngrangsang, Selomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ia berusaha menjaga keberadaan jajanan tempo dulu yang perlahan harus bersaing dengan beragam makanan modern.
Perjalanan selama sekitar 15 tahun itu membawanya dari pemasaran antarkota hingga menjangkau pasar di luar Pulau Jawa.
Merawat Camilan yang Mulai Dilupakan Zaman
Pria yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menekuni usaha arum manis, salah satu makanan khas Jawa yang dikenalnya melalui perjalanan usaha dan cerita keluarga, terutama dari mertuanya yang berasal dari Kebumen.
Menurut cerita yang ia dengar, arum manis dahulu banyak dijajakan di lingkungan sekolah. Penjualnya memiliki bunyi khas untuk menarik perhatian anak-anak, sebelum jajanan itu dibungkus dengan kertas sederhana.
"Arum itu dari tepung yang digoreng menjadi harum. Kemudian manisnya itu dari gula yang direbus jadi karamel," kata Ardi ditemui di rumah produksinya, Selasa (13/10/2026).
Seiring perkembangan zaman, pola konsumsi masyarakat berubah. Makanan instan dan produk industri semakin mudah ditemukan, sementara arum manis tradisional membutuhkan ketelatenan dalam pembuatannya.
Baca Juga: Sambut HUT ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Gelar Donor Darah: Perkuat Kepedulian Terhadap Sesama
Bagi Haji Ardi, proses yang tidak sederhana itu menjadi salah satu alasan mengapa jajanan lawas tersebut perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Ia mengungkap terdapat perbedaan proses produksi dan penyajian antara arum produksinya dengan arum manis yang lazim ditemukan di pasar malam.
"Kok beda ya dengan arum manis yang di pasar malam misalnya ya? Kalau itu mungkin namanya arum manis modern. Nah ini namanya arum manis tradisional atau snack jadul," ujarnya.
Berawal dari Tiga Pekerja, Kini Memiliki Puluhan Karyawan
Sebelum berfokus pada arum manis, Haji Ardi lebih dahulu bekerja sebagai tenaga penjualan untuk berbagai produk makanan. Ia pernah memasarkan roti cokelat, emping jagung, keripik pisang, onde-onde, hingga arum manis.
Setelah melihat respons pasar yang cukup baik, ia memutuskan memusatkan perhatian pada produksi arum manis pada 2011. Usaha itu tidak dimulai dengan modal yang berlimpah, melainkan meminjam dana dari koperasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Perjalanan Merawat Arum Manis Jadul, Kisah UMKM Bertahan di Tengah Harga Bahan Baku yang Melonjak
-
Jangkau 60 Ribu Desa, 1,06 Juta BRILink Agen Dorong Literasi Keuangan Masyarakat
-
Sambut HUT ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Gelar Donor Darah: Perkuat Kepedulian Terhadap Sesama
-
Ketua Yayasan Little Aresha Dituntut 10 Tahun Penjara, 83 Anak Korban Minta Restitusi Rp2,12 Miliar
-
BRI Bidik Peluang Bisnis dari MotoGP Mandalika 2026