-
Laut Bercerita versi film tidak hanya mengangkat kisah aktivisme mahasiswa menjelang Reformasi 1998.
-
Film baru ini juga menyoroti kehilangan, trauma, dan harapan keluarga korban penghilangan paksa.
-
Sutradara Yosep Anggi Noen memilih fokus pada dampak kemanusiaan pascakekerasan serta pesan tentang pentingnya merawat ingatan sejarah agar tragedi serupa tidak terulang.
SuaraJogja.id - Novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori kini hadir dalam format film layar lebar yang segera hadir di bioskop.
Di bawah arahan sutradara Yosep Anggi Noen, adaptasi ini tidak hanya menyoroti perjuangan aktivis mahasiswa menjelang Reformasi 1998, tetapi juga mengangkat sisi kemanusiaan melalui kisah kehilangan, trauma, dan keteguhan keluarga yang terus menyimpan harapan di tengah ketidakpastian.
Anggi bersama Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Kevin Julio, dan Ben Nugroho membagikan pengalaman selama proses produksi sekaligus makna yang ingin dihadirkan lewat film tersebut.
Anggi menegaskan bahwa Laut Bercerita tidak semata-mata berbicara tentang peristiwa politik, melainkan mengenai kisah keluarga yang harus menghadapi kehilangan.
"Pada dasarnya Laut Bercerita adalah cerita tentang sebuah keluarga yang kehilangan anaknya pada masa Orde Baru dan bagaimana mereka terus mencari serta mempertahankan harapan," ujar Anggi saat media junket di Manohara Hotel Yogyakarta, Jumat (23/10).
Dalam mengadaptasi kisah penghilangan paksa ke layar lebar, Anggi memilih fokus pada dampak emosional yang ditanggung korban dan keluarga, alih-alih mengeksplorasi adegan kekerasan secara rinci.
"Yang ingin saya tunjukkan itu sebenarnya adalah efek dari kekerasan. Traumatik momennya pascakekerasan kuat sekali. Plus membayangkan keluarga yang mengalami kekerasan, itu mengerikan sekali sebagai sebuah keluarga," sambung Anggi.
Film ini mengikuti perjalanan Biru Laut dan kelompok anak muda yang terusik oleh berbagai persoalan sosial, mulai dari ketidakadilan, korupsi, hingga terbatasnya ruang berekspresi pada masa tersebut.
Pilihan mereka untuk menyuarakan keresahan kemudian membawa konsekuensi besar, termasuk represi dan penghilangan paksa yang turut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Baca Juga: Film Empat Musim Pertiwi: Saat Realitas Penyintas Kekerasan Seksual Bertemu Fiksi Sinematik
Meski berlatar pada penghujung era Orde Baru, Anggi menekankan bahwa film ini tidak hanya berbicara tentang tekanan politik. Di dalamnya terselip kisah mengenai persahabatan, cinta, solidaritas, hubungan keluarga, hingga peran perempuan dalam perjuangan mahasiswa.
"Film ini berbicara tentang harapan. Tentang keluarga yang terus bertahan dan memilih untuk tidak menyerah meski berada dalam situasi yang sangat sulit," katanya.
Proses adaptasi novel ke medium film juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tim kreatif memutuskan mengubah struktur cerita yang semula maju-mundur menjadi lebih linear agar lebih mudah dipahami penonton.
"Kami membuat alur film lebih linear agar penonton lebih mudah mengikuti cerita. Film dan novel adalah dua medium yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula," ujar Anggi.
Selain penyesuaian struktur cerita, sejumlah adegan turut dikembangkan untuk memperkaya konteks sejarah. Salah satunya adalah adegan demonstrasi anak muda pada era 1990-an sebagai bentuk protes terhadap putusan pengadilan yang menghukum pembaca buku karya Pramoedya Ananta Toer.
Tantangan juga hadir selama proses produksi. Salah satu adegan yang paling sulit direalisasikan adalah pengambilan gambar di ladang jagung pada malam hari dengan kondisi hujan.
"Tantangan terbesar produksi ada pada adegan di ladang jagung yang dilakukan pada malam hari dalam kondisi hujan. Persiapan lokasi membutuhkan waktu berbulan-bulan agar sesuai dengan kebutuhan cerita," kata Anggi.
Sejumlah adegan dalam film direkam di berbagai lokasi di Yogyakarta dan Semarang yang dinilai masih mampu merepresentasikan suasana perkotaan pada dekade 1990-an.
Melalui film ini, Anggi juga ingin mengajak generasi sekarang untuk tidak melupakan sejarah. Ia menilai ingatan kolektif terhadap masa lalu penting dijaga agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
"Hal yang kedua adalah tentu merawat ingatan. Bahwa kita punya sejarah yang tidak terlampau jauh jaraknya. Mungkin kalau dihitung-hitung 28 tahun yang lalu. Itu adalah sebuah sejarah yang mudah-mudahan tidak terulang lagi," ucap Anggi.
Pandangan tersebut diamini Reza Rahadian yang memerankan tokoh Biru Laut. Menurutnya, semangat menyuarakan keresahan dan memperjuangkan keadilan yang diangkat dalam film masih sangat relevan hingga kini.
"Film ini penting karena memperlihatkan bagaimana anak-anak muda berusaha menyuarakan keresahan dan memperjuangkan apa yang mereka yakini," kata Reza.
Ia menilai generasi saat ini memiliki lebih banyak ruang untuk menyampaikan pendapat dibandingkan masa yang digambarkan dalam film.
"Hari ini ruang untuk menyampaikan pendapat jauh lebih terbuka. Namun semangat untuk bersuara kritis dan memperjuangkan keadilan tetap relevan," ujarnya.
Reza menambahkan bahwa film ini juga menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak melupakan berbagai peristiwa dalam perjalanan bangsa.
"Kita perlu merawat ingatan terhadap sejarah agar berbagai peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan," katanya.
Dalam film tersebut, Reza memerankan Biru Laut sebagai sosok aktivis yang tenang, reflektif, dan memiliki pergulatan batin yang kuat. Kompleksitas karakter itu menjadi tantangan tersendiri baginya selama proses pendalaman peran.
"Apa yang dituangkan ke dalam skenario saya rasa cukup memberikan kompleksitas karakter Laut. Menurut saya, cukup sulit untuk bisa diterjemahkan kembali," ungkap Reza.
Di sisi lain, Dian Sastrowardoyo mengungkapkan bahwa karakter Kinan yang diperankannya merupakan hasil riset dari berbagai kisah aktivis perempuan yang terlibat dalam gerakan mahasiswa 1997-1998.
"Karakter Kinan terinspirasi dari sejumlah aktivis perempuan yang terlibat dalam pergerakan mahasiswa pada 1997 hingga 1998," kata Dian.
Melalui proses riset tersebut, Dian melihat bagaimana para aktivis perempuan pada masa itu menempatkan kepentingan perjuangan di atas kepentingan pribadi.
"Mereka tidak sempat memikirkan cinta ataupun naksir sama siapa. Karena hidup matinya benar-benar memperjuangkan keadilan," tutur Dian.
Lebih dari sekadar film sejarah maupun film politik, Laut Bercerita menawarkan refleksi tentang daya tahan manusia dalam menghadapi kehilangan.
Lewat perjalanan Biru Laut, Kinan, dan keluarga yang terus berupaya mencari jawaban, film ini menunjukkan bahwa perjuangan, harapan, dan upaya merawat ingatan tidak berhenti meski waktu terus berjalan.
"Jangan melihat Laut Bercerita hanya sebagai film politik. Ini juga cerita tentang keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan, dan harapan," pungkas Anggi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Keruk Batubara RI Tapi Sumbang Rp1,7 T ke Singapura, Eks Kepala BKPM Sentil Bos Bayan Resources
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Tak Sekadar Soal Reformasi 1998, Laut Bercerita Angkat Duka Keluarga Korban Penghilangan Paksa
-
BRI Buka Jalan Karier bagi Talenta Muda Lewat Program Magang Nasional
-
Bikin Pembatik Jogja Bernapas Lebih Lega, Inovasi Lilin Ini Ternyata Berasal dari Bahan Tak Terduga
-
Jaga Kesehatan Diri dan Keluarga, BRI Tawarkan Privilege Eksklusif bagi Nasabah
-
Reklasifikasi MSCI Ancam Pasar Modal RI, Pemerintah Diminta Waspadai Geopolitik Global