Budi Arista Romadhoni
Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:10 WIB
Sejarah panjang RM Soeharjo Djajengasmoro yang hilang dalam Fragmen Memori Djajengasmoro, Rabu (28/10/2026).(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • RM Soeharjo Djajengasmoro berperan penting dalam mendirikan ASRI, PTPI, dan memproduksi poster perjuangan di Yogyakarta sejak 1928.
  • Kontribusi besar Djajengasmoro dalam sejarah seni rupa Indonesia kini tenggelam dan kalah populer dibanding tokoh-tokoh kanonik lainnya.
  • Kurator Tomi Firdaus bersama seniman mengangkat kembali arsip Djajengasmoro melalui pameran seni di Yogyakarta pada Oktober 2026.

SuaraJogja.id - Yogyakarta memiliki sosok yang ikut menggerakkan seni rupa Indonesia pada masa pergerakan pemuda dibawah bimbingan Ki Hadjar Dewantara pada periode 1928. Adalah RM Soeharjo Djajengasmoro yang bukan sekadar seniman, melainkan pengajar, tokoh pergerakan pemuda, organisator, sekaligus penggerak seni sebagai medium perjuangan.

Namun, ironisnya, nama Djajengasmoro justru tenggelam dalam sejarah seni rupa yang ikut dibangunnya pada saat ini. Padahal, Djajengasmoro punya peran penting dalam perkembangan pendidikan seni rupa di Yogyakarta.

"Dia terlibat dalam pendirian lembaga seni, menginisiasi ruang belajar, hingga menggerakkan produksi poster perjuangan pada masa awal kemerdekaan," ungkap kurator pameran Fragmen Memori Djajengasmoro: Yang Tersisa, Yang Rumpang di Pojok Rumah DAS, Tomi Firdaus di Yogyakarta, Rabu (28/10/2026).

Menurut Tomi, hilangnya jejak kontribusi Djajengasmoro bukan tanpa sebab. Perannya dalam pergerakan pemuda hingga seni selama ini ternyata luput dari perhatian.

"Bagaimana seorang tokoh yang ikut membangun ekosistem seni rupa Indonesia dan pergerakan sejak 1928 justru tidak banyak dikenal, bahkan oleh kalangan pendidikan seni," ungkapnya.

Dia mengatakan Djajengasmoro merupakan sosok penting dalam medan seni rupa Yogyakarta maupun Indonesia secara luas. Djajengasmoro memiliki rekam jejak panjang dalam perkembangan kebudayaan dan pendidikan seni.

Dia pernah terlibat dalam Kongres Kebudayaan I di Magelang. Setelah itu, dia bersama sejumlah orang mendapat tugas merancang cikal bakal Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kemudian muncul pada 1950.

Djajengasmoro juga aktif menginisiasi ruang pendidikan seni, termasuk Prabangkara, serta mendirikan Persatuan Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI). Organisasi tersebut menggunakan seni sebagai medium perjuangan pada masa awal kemerdekaan.

PTPI terbentuk pada 20 Oktober 1945, ketika Indonesia baru merdeka. Djajengasmoro menjadi ketuanya, dengan sekitar 60 seniman terlibat dalam gerakan tersebut.

Baca Juga: Sarkemfest 2026 Tak Sekadar Pesta, UMKM Lokal Didorong Ketiban Berkah Wisata Malioboro

"Mereka tidak hanya memproduksi karya, tetapi juga bekerja sama dengan warga untuk mendistribusikannya," ungkapnya.

Poster dan spanduk berukuran besar menjadi bagian dari strategi menyebarkan pesan perjuangan. Materi tersebut bahkan dipasang di kereta, menjadikan seni sebagai sarana komunikasi kepada masyarakat di tengah situasi negara yang baru berdiri.

"Secara perancangan, Pak Djajengasmoro bekerja dengan bantuan teman-teman seniman. Ada berbagai tema yang diangkat, termasuk pembangunan dan tema-tema lainnya," ujarnya.

Kontribusi Djajengasmoro tidak berhenti pada aktivitas organisasi dan pendidikan. Dia juga dipercaya mengerjakan sejumlah proyek seni yang berkaitan dengan tokoh-tokoh penting pada masanya.

Tomi menjelaskan, Djajengasmoro pernah menerima permintaan dari Bung Hatta untuk membuat tiga mimbar keagamaan di tengah konflik Ambon. Dia juga mendapat komisi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk membuat landmark berupa air mancur di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

"Sayangnya jejak karya seni air mancur itu saat ini hilang," ungkapnya.

Load More