Muhammad Ilham Baktora
Jum'at, 30 Oktober 2026 | 17:10 WIB
Pedagang Dimsum, Firdha saat menata barang jualannya di warung jajanan pasar yang ada di Salatiga, Senin (26/10/2026). [Suara.com/Baktora]
Baca 10 detik
  • Firdhailsa Cintora, seorang ibu tunggal di Salatiga, gigih berjuang menjadi pedagang makanan sejak tahun 2024.
  • Ia memanfaatkan aplikasi BSya dari BCA Syariah untuk mengelola transaksi keuangan usaha dan menabung tanpa potongan admin.
  • Keberhasilan usahanya dalam menjual dimsum membantu ia mencukupi kebutuhan hidup serta merencanakan masa depan anaknya.

SuaraJogja.id - Alarm handphone Samsungnya berbunyi kencang di dekat kasur. Jam di gawai saat itu menunjukkan pukul 03.00 WIB.

Setengah terpejam, tangannya mencari sumber suara tersebut untuk ia matikan. Sambil mengumpulkan energinya sedikit demi sedikit, perempuan muda ini bangkit dari kasur dan segera menuju ke kamar mandi.

Kran air pun ia buka, setetes pertama air yang menyentuh kulitnya jadi sinyal ke otak untuk memaksa mata terbuka dari rasa kantuk dia.

Segenggam air yang ia basuh ke muka menjadi penyegar yang sekelebat membuka lebar mata untuk mengawali aktivitas pagi butanya dengan shalat tahajud.

Selepas tahajud, perempuan yang merupakan single parent ini langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan barang dagangannya. Bihun, cilok, puding dan makanan basah yang sudah disiapkan semalam ia rapikan di dalam plastik untuk nantinya dititipkan di warung jajanan pasar yang ada di Salatiga.

Kewajibannya sebagai muslimah pun tak ia tinggalkan, di sela-sela membungkus makanan itu ia pun mengambil jeda untuk melaksanakan shalat subuh bersama ayah dan adiknya.

Pukul 04.15 WIB, aktivitas di rumahnya mulai menunjukkan kehidupan. Suara mesin cuci, dentingan gelas hingga aroma harum masakan pagi menjadi pertanda satu keluarga sudah mulai bergerak menyambut hari.

Tak hanya menyiapkan barang dagangan, perempuan pemilik nama Firdhailsa Cintora ini pun membangunkan anak semata wayangnya, termasuk menyiapkan pakaian anak dan baju kerjanya.

Tidak ada kata lelah baginya untuk melaksanakan semua itu. Bukan tanpa alasan, meski tak lagi ditemani suaminya dalam membangun rumah tangga, hidup sebagai ibu anak satu harus tetap berjalan bagaimanapun keadaannya.

Baca Juga: Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja

Tak hanya berjibaku di dapur dan tempat cucian baju, perempuan yang lahir di Bali dan menetap di Salatiga ini juga bekerja di sekolah TK yang ada di daerah tempatnya tinggal.

Setelah pekerjaan rumah selesai ia lakukan, termasuk memandikan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun, ia pun mengantar anaknya ke sekolah lalu lanjut berangkat ke tempatnya bekerja.

Untungnya, jarak antara sekolah anak dan tempatnya bekerja masih satu lajur yang bisa dijangkau. Semuanya sudah ia perhitungkan agar kegiatan paginya berjalan sesuai rencana.

"Sejauh ini ya semuanya dinikmati sih. Kalau enggak seperti ini siapa yang menjamin kita bisa hidup nyaman," celetuknya ketika ditemui, Minggu 18 Oktober 2026.

"Bukan soal sulitnya aktivitas sehari-hari, tapi bagaimana caranya kita ubah keseharian yang lelah itu untuk belajar dan berkembang, meski ngurus anak sendirian," ujar dia.

Firdha, sapaan akrabnya tidak melihat single parent adalah ujian yang membebaninya dalam hidup. Justru, ia banyak belajar dan berkembang menjadi manusia yang siap dalam segala hal mengarungi kehidupan di dunia ini.

Begitupun dengan perencanaan hidupnya sejauh mengurus anak termasuk mengatur keuangan, baik dari hasil jualan dan juga kerja kerasnya di sekolah.

Sejauh mengarungi kehidupannya, nasabah BCA Syariah ini tak jarang menggunakan kemudahan produk layanan tempatnya menyimpan uang.

Terlebih lagi, sebagai penjual makanan, transaksi jual beli selalu ia lakukan lewat bank. Apalagi di era digital saat ini, transfer lewat gawainya sangat membantu dengan memanfaatkan BSya, aplikasi yang dimiliki BCA Syariah.

Firdha mengaku terbantu dengan fitur yang disediakan bank tersebut. Biaya transfer antar bank salah satu yang meringankan dia.

Seperti yang banyak diketahui orang, transfer sesama nasabah tak dikenakan biaya sepeserpun. Mitra usahanya pun menggunakan bank yang sama sehingga memangkas pengeluarannya.

Sebagai seorang ibu tunggal, Firdha akan menyiapkan masa depan anaknya, begitupun dengan masa depan di hari tuanya.

Tak Kenal Menyerah

Tak hanya memasak pagi buta, ia pun juga menjual makanan di sebuah kedai makanan yang ada di pinggir Kota Salatiga.

Tapi sebelum menemukan kedai yang membuatnya bertahan saat ini, ia berjibaku dengan peluh keringat serta puluhan resep makanan untuk membuat menu terbaik yang ia tawarkan.

Bakpau mini berisi coklat dan keju pernah ia buat. Ia titipkan di toko frozen food, tetapi tak begitu laku karena beberapa pelanggan mengeluhkan cara penyajiannya yang terlalu ribet.

Firdhailsa Cintora, pedagang makanan ringan saat mengirim barang jualannya di warung jajanan pasar. [Suara.com/Baktora]

Tak mau menyerah, ia pun pernah membuat masakan pizza. Namun pembuatan pizza tersebut mengeluarkan cost yang tinggi sehingga biaya dan keuntungannya tak sebanding, jika diteruskan justru buntung di tiap pekannya.

Lagi-lagi perempuan lulusan UKSW Salatiga ini tak mau berhenti hanya karena pizza-nya tak berhasil. Ia pun membuat corndog. Makanan viral dari Korea Selatan itu pun ia jajakan.

Beruntung banyak pelanggan yang cocok dengan rasanya hingga dititipkan di toko makanan beku. Namun, bagi perempuan yang berbakat di dunia masak-memasak ini, satu menu tentu tak cukup, masih banyak menu yang dapat dieksplor lagi.

Gayung bersambut, kegigihannya menawarkan menu makanan hasil olahan rumahan ini akhirnya pecah telur di sebuah kedai. Awalnya ia ditawari apakah bisa membuat menu tambahan untuk kedai tersebut.

Firdha berusaha memutar otak mencari menu yang tepat. Melihat menu makanan yang disukai pelanggan kedai adalah makanan China, ia pun mencoba membuat dimsum.

Perempuan yang besar di lingkungan keluarga yang lihai dalam meracik bumbu ini, mencari bagaimana cara memasak dimsum. Ia pun, memanfaatkan media sosial dan bumbu racikan yang tepat.

Akhirnya ia mencatat dan membuat racikan bersama adiknya agar dimsum buatannya nikmat dan berbeda dari dimsum yang dijual di tempat lain.

Beruntung, rasa dan bentuk dimsum yang ia tawarkan ke kedai mendapat apresiasi tinggi dari pemiliknya. Sejak 2024 lalu, Firdha menjadi pemasok utama menu dimsum itu ke warung makan tersebut.

"Saya yakin banget kalau kita berusaha dan enggak mudah nyerah, Allah itu bantu hambanya di setiap waktu. Buktinya sekarang saya sudah rasakan," kata Firdha.

"Jadi usaha apapun manusia itu, enggak bakal sia-sia kalau dilakukan dengan niat yang baik dan memohon berkah dari Allah SWT," tambah pemilik akun @fiicifood di Instagram ini.

Kemudahan Transaksi

Kerja kerasnya tentu berbuah pada pemasukannya. Pendapatannya pun ikut bertambah. Semua uang yang ia kumpulkan ia simpan di BCA Syariah. Ada beberapa alasan dia menyimpan uang tersebut di bank ini.

Sejak awal pembukaan rekening dilakukan secara online. Firdha cukup berada di rumah mengikuti arahan dari customer service ketika sudah menginstall aplikasi BSya, mengisi formulir, termasuk verifikasi yang dilakukan melalui video call.

Lebih mudahnya lagi, ketika mengambil uang cash di ATM, Firdha juga tak perlu membawa kartu fisik. Di mana kartu fisik bisa saja hilang ketika apes dan membuat aktivitasnya terganggu.

Cukup menggunakan aplikasi, lalu mengetik nominal uang yang ingin diambil. Jika sudah, langsung ke ATM untuk mengambil uang tersebut.

"Biasanya dikasih waktu sampai satu jam untuk mengambil uang itu selepas transaksi di aplikasinya," jelas dia.

Namun di era digital saat ini, Firdha lebih banyak menggunakan pembayaran cashless. Bahkan tidak ada niat untuk mencetak kartu ATM, mengingat transaksi saat ini banyak menggunakan QRIS.

Kemudahan inilah yang membantunya dalam bertransaksi termasuk menyelesaikan pembayaran hasil jualannya. Uang yang langsung terkumpul di aplikasi BSya-nya bisa langsung dia pilah-pilah baik untuk kebutuhan pribadi, anaknya serta tabungan hari tuanya kelak.

Tak melulu soal menabung di BSya saja. Single parent ini pun paham dengan konsep investasi.

Di tengah situasi ekonomi yang tak menentu di Indonesia, Firdha juga berinvestasi emas. Ia memanfaatkan sejumlah aplikasi terpercaya yang bisa menabung emas untuk kebutuhannya termasuk masa depan anaknya.

Ilustrasi tumpukan emas batangan dan logam mulia. (Zlatáky.cz/Pexels)

Seperti diketahui, BCA Syariah saat ini tengah menurunkan pembelian emas dari 10 gram ke 5 gram. Bukan tanpa alasan, hal ini juga untuk kemudahan akses nasabah dalam memanfaatkan investasi emas.

Melalui mobile banking BSya, nasabah-nasabah bisa mengakses fitur Emas iB yang telah tersedia.

Mengutip pernyataan Direktur Keuangan Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah, Pranata menerangkan bahwa emas menjadi daya tarik masyarakat sebagai investasi jangka panjang.

Kurun waktu 10 tahun terakhir saja, harga emas cukup meningkat sebanyak 200 persen lebih, namun kenaikan ini dipengaruhi kondisi ekonomi dunia.

Pembiayaan emas BCA Syariah tidak hanya emas Antam, perseroan ini juga sudah mengembangkan jenis emas lain, seperti emas Galeri 24 dan Hartadinata.

Peluang pembiayaan emas era sekarang masih menjadi alternatif investasi jangka panjang untuk masyarakat. Namun Pranata juga menyebutkan para nasabah harus memahami karakteristik investasi dan tidak menumpuk seluruh investasinya ke dalam satu instrumen saja.

Bahkan masyarakat juga diingatkan mampu melakukan diversifikasi termasuk menentukan tujuan keuangan itu untuk kebutuhan apa di masa mendatang.

Dengan kata lain, BCA Syariah berupaya memperluas jangkauan pembiayaan emas, kemudahan memilih ragam serta edukasi investasi untuk masa depan masing-masing nasabahnya.

Firdha tak menampik di BCA Syariah tempat tinggalnya pun menawarkan dan memberikan fasilitas tambahan untuk masa depan nasabah. Meskipun belum menggunakan, ketika pendapatannya mulai bertambah ada saatnya dia akan memanfaatkan investasi yang ada di bank tempatnya menyimpan uang.

Sebelum memanfaatkan fasilitas dan kembali berinvestasi, ia juga memperhitungkan pengeluaran.

Firdha paham di tengah situasi ekonomi Indonesia yang tak menentu ini, membeli barang yang bukan kebutuhannya harus dipikirkan dua kali.

Tak hanya itu ia juga harus memperhitungkan pengeluaran dalam sehari, sehingga dalam satu bulan, ada tabungan dan uang yang dihemat untuk bulan selanjutnya.

Termasuk pembayaran bulanan yang ditagih secara autodebit. Seperti yang diketahui, masyarakat menabung di bank ada tagihan administrasi yang perlu dibayarkan tiap bulannya.

Menjadi nasabah BCA Syariah, Firdha sempat menghitung pengeluarannya untuk masalah administrasi bank tersebut. Namun dari perhitungannya, bank tidak pernah menarik apapun setiap bulannya.

"Ya itu saya juga pas hitung, enggak ada uang yang berkurang di tabungan saya. Pas buka handphone uang masuk dan keluar yang sudah saya hitung juga masih sama," katanya sambil menunjukkan riwayat pengeluarannya di aplikasi BSya.

Firdha saat menunjukkan aplikasi BSya yang dia gunakan selama bertransaksi jual beli dagangannya. [Suara.com/Baktora]

Firdha menjelaskan saat pertama kali menjadi nasabah dan mendaftar, ada klausul pilihan apakah nasabah ingin bagi hasil atau tanpa bagi hasil.

Ia memilih tidak mendapat bonus atau tidak mendapat bagi hasil, sehingga uang di rekeningnya masih sama.

"Nah pas awal pembukaan itu saja saya dikenakan admin Rp25 ribu," ungkap dia.

Baginya yang berada di lingkungan keluarga sederhana dan tidak berfoya-foya hingga flexing kehidupan pribadi, tak ada tunggakan hingga penarikan uang bulanan sangat berarti untuk dia.

Jelas saja, potongan administrasi dari bank ataupun dari cicilan lain bisa ditabung dan bisa membelikan keinginan anaknya yang masih duduk di bangku TK.

Membahagiakan anak juga menjadi salah satu upayanya untuk memberikan masa depan anak lebih baik dan bermimpi lebih berani. Maka keringanan dari bank ini juga membuatnya bisa mengatur uang di situasi global yang sedang pelik ini.

Mengedukasi anak soal keuangan pun juga penting, BCA Syariah juga memberikan produk layanan untuk anak yang duduk di bangku TK. Firdha juga tak jarang membuka fitur iB Simpel (Simpanan Pelajar).

Nasabah yang masih di duduk di banguk Paud, TK, SD, SMP hingga SMA bisa menggunakan produk layanan ini. Bahkan untuk pembukaan rekening tabungannya hanya Rp35 ribu.

Nasabah anak bisa menabung mulai dari Rp1.000. Nantinya anak-anak juga mendapatkan buku tabungan sebagai bukti kepemilikan. Seperti produk tabungan yang dirasakan Firdha, iB Simpel tidak dikenakan biaya administrasi bulanan, sehingga jumlah tabungan anak bisa terus bertambah seiring rajinnya ia menabung.

Bukan sekadar produk, layanan iB Simpel ini mengajak anak-anak sadar terhadap keuangan, di mana pengelolaan keuangan sejak dini penting untuk memahami bagaimana memprioritaskan kebutuhan ketimbang keinginan.

Di sisi lain, ini juga bisa memudahkan orang tua untuk mengontrol keuangan anak dan sedisiplin apa anak untuk memilah uangnya ketika tabungannya sudah cukup. Bahkan ketika anak berhasil menabung dengan baik, itu juga bentuk apresiasi dirinya bisa mengatur keuangan sejak kecil.

Menabung bukan Sekadar Bertahan

Sejauh melangkahkan kakinya sebagai ibu muda dengan satu anak, Firdha paham bahwa di dunia ini tidak ada yang praktis. Jikapun ada, itupun bantuan Tangan Tuhan yang hadir karena kesabaran dan kegigihannya.

Seperti ia menjadi pemasok utama menu dimsum di salah satu kedai makanan di tempatnya tinggal. Tak cukup 1-2 hari, tapi berbulan-bulan ia jalani hingga akhirnya mendapatkan kesempatan emas tersebut.

Mengumpulkan serta penggunaan pundi-pundi pendapatannya pun selalu dijaga dan digunakan sebijak mungkin. Firdha tak mau salah langkah dalam pengelolaan uangnya. Bukan tanpa alasan, harga kebutuhan pokok yang naik signifikan seperti sekarang juga bisa menyebabkan pengeluarannya jebol jika tak diatur.

Menabung dari hasil jerih payahnya adalah sebagian cara dia melangkah ke masa depan. Firdha sudah cukup lihai bertahan dalam badai rumah tangganya lalu.

Maka dari itu, berjalan pelan ataupun lambat ke depan adalah cara dia mencapai tujuannya saat ini. Hidup berkecukupan, anak bisa bersekolah, bersosialisasi dengan circle sehatnya hingga bisa memberikan inspirasi hidup bagi orang di sekitarnya.

Perempuan dua bersaudara ini juga paham menjadi seorang ibu yang mengurus anak tanpa suami merupakan tantangan yang besar. Namun hal itu tak membuatnya mengeluh.

Semakin mendapat tekanan, hati kecilnya terus akan melawan. Memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya mulai dari fasilitas keuangan tempatnya ia menabung, hingga memanfaatkan relasi dan temannya di komunitas pengajian adalah cara dia untuk kembali fokus ke masa depannya.

Firdha bisa jadi gagal sebagai istri di sebuah kata pernikahan, namun ia sedang menuju keberhasilannya sebagai perempuan dan ibu untuk anak semata wayangnya. Single parent bukan berarti membangun keluarganya sendiri, namun caranya bertahan dan kegigihan serta masuk di lingkungan orang yang tepat adalah jalan mendapat keberkahan hingga akhirnya ia berdiri di kakinya sendiri.

Load More