- Sejumlah musisi dan pelaku UMKM membatalkan keikutsertaan mereka dalam acara RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo pada 31 Oktober-1 November 2026.
- Pelaku UMKM Jeruk Lokal Maguwoharjo mendapatkan keuntungan setelah warganet memborong lima ratus cangkir minuman dagangan mereka akibat keputusan mundur tersebut.
- Pengamat media Fajar Junaedi menyatakan fenomena penolakan tersebut menunjukkan bahwa opini publik dan tekanan media sosial dapat memengaruhi keputusan bisnis.
SuaraJogja.id - Seruan boikot terhadap RANS Carnival yang digelar di kawasan Stadion Maguwoharjo 31 Oktober-1 November 2026 kemarin tak bisa dianggap main-main. Mundurnya sejumlah musisi yang memilih mundur serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semula berencana membuka lapak dalam acara tersebut disebut bukan sekedar boikot.
Salah satunya Jeruk Lokal Maguwoharjo. Pihak pengelola saat dikonfirmasi melalui Direct Message (DM) media sosial (medsos) mengaku memilih tidak melanjutkan keterlibatan sebagai tenant RANS Carnival. Keputusan itu diambil atas pertimbangan situasi dan kondisi masyarakat, bukan karena adanya sanksi dari penyelenggara
Admin Jeruk Lokak Maguwoharjo menyebut pihak penyelenggara bahkan bersedia mengembalikan biaya sewa tenant yang telah dibayarkan.
"Tidak ada punishment atau penalty. Mereka mau kembalikan biaya sewa tenant kami. Murni keputusan kami karena melihat situasi dan kondisi masyarakat, hanya ini yang bisa kami lakukan," ungkapnya.
Alih-alih merugi, keputusan mereka untuk mundur berbuah manis. Dagangan mereka diborong warganet untuk dibagikan ke ojek online dan lainnya. Sebanyak 500 cup minuman jeruk terjual habis.
"Total ada 500 cup lebih," jelasnya.
Sementara itu Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat media, Fajar Junaedi menilai fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep cancel culture atau budaya pembatalan.
Keputusan tersebut memperlihatkan polemik RANS Carnival telah meluas.
"Penolakan tidak lagi sebatas komentar dan kritik di media sosial, tetapi mulai memengaruhi keputusan bisnis pelaku usaha lokal," ujar Fajar di Yogyakarta, Senin (2/11/2026).
Fajar menjelaskan tekanan opini publik dapat memengaruhi keputusan individu maupun kelompok dalam menentukan keterlibatan mereka pada suatu kegiatan. Merujuk penelitian Pippa Norris berjudul "Cancel Culture: Myth or Reality? yang terbit dalam jurnal Political Studies edisi 2023", fenomena tersebut disebutnya juga berkaitan dengan teori spiral of silence atau spiral keheningan yang diperkenalkan Elisabeth Noelle-Neumann.
Baca Juga: Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
Teori ini menjelaskan kecenderungan seseorang menahan pendapat ketika merasa pandangannya berbeda dari opini yang dianggap dominan. Ketika seseorang merasa pendapatnya berbeda dari suara mayoritas, muncul kecenderungan untuk diam karena khawatir menghadapi tekanan sosial.
"Akibatnya, suara mayoritas semakin terlihat dominan, sementara kelompok yang berbeda semakin sulit menyampaikan pandangannya," jelasnya.
Fajar menilai kuatnya opini di medsos dapat memengaruhi keputusan pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan komunitas tertentu. Dalam konteks Yogyakarta, dinamika penolakan RANS Carnival tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial setelah rangkaian demonstrasi mahasiswa.
Isu kekuasaan, solidaritas, dan aspirasi masyarakat menjadi bagian dari konteks yang memengaruhi penilaian terhadap figur publik. Karenanya ketika seorang figur atau kelompok dipersepsikan tidak sejalan dengan nilai yang sedang menguat di suatu komunitas, mereka berpotensi ditempatkan sebagai pihak yang dianggap berbeda dari norma sosial setempat.
"Namun keputusan setiap musisi maupun pelaku usaha untuk mundur harus dibaca berdasarkan alasan masing-masing. Tidak semua keputusan tersebut otomatis disebabkan tekanan atau ancaman di media sosial," tandasnya.
Di sisi lain, munculnya solidaritas masyarakat terhadap UMKM yang terdampak disebut memperlihatkan bentuk kepedulian. Masyarakat menyampaikan ketidaksetujuan terhadap figur atau kegiatan tertentu tetap menunjukkan kepedulian kepada pelaku usaha lokal yang berpotensi menanggung kerugian ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Generasi Muda Mulai Apatis terhadap Tuhan, Muhammadiyah Jawab Fenomena Agnostisisme dengan ChatHPT
-
RANS Carnival Kena Cancel Culture, Pakar Komunikasi Sebut Ini Bukan Sekadar Retorika
-
Dominasi Lapangan, SMK Nusantara dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi Jadi Juara AXIS Nation Cup 2026
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional