- Ketua IGN Vita Datau menyatakan sekitar 45 persen dari 2.000 kuliner tradisional Indonesia terancam punah di Yogyakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026.
- Kemenpar mewajibkan pemerintah daerah menginventarisasi sepuluh kuliner unggulan untuk didokumentasikan ke dalam buku resep autentik demi menyelamatkan warisan kuliner Nusantara.
- Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menargetkan pelestarian kuliner mampu mendorong pariwisata nasional sekaligus memperkuat ekonomi serta menciptakan lapangan kerja.
Kementerian juga mencatat sekitar 40,6 persen tenaga kerja pariwisata bekerja di sektor makanan dan minuman. Sektor makanan dan minuman disebut menghasilkan sekitar Rp503 triliun atau sekitar 2,11 persen terhadap PDB nasional.
"Penyelamatan kuliner tradisional bukan hanya perkara nostalgia. Di balik resep yang nyaris hilang terdapat potensi ekonomi, pariwisata dan lapangan kerja yang dapat dikembangkan," ungkapnya.
Puteri Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara mencontohkan Sego Golong Gilig menjadi salah satu contoh kuliner tradisional yang hampir punah. Hidangan tersebut memiliki konteks tradisi tertentu dan tidak disajikan setiap hari namun semakin jarang dikenal masyarakat.
"Beberapa makanan sudah tidak populer sekarang, padahal itu salah satu dari sejarah kita, yaitu Sego Golong Gilig," ujarnya.
Baca Juga:Mulai 1992 Hingga Kini, UMKM Kuliner Ayam Panggang Bu Setu Terus Berjaya Bersama BRI
Menurutnya, makanan-makanan semacam itu perlu diperkenalkan kembali kepada industri kuliner. Salah satu caranya dengan membawa kembali sajian tersebut ke restoran sehingga generasi baru memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencicipinya.
Persoalan pelestarian juga menyentuh bahan baku. Ia mencontohkan gudeg yang menghadapi persoalan ketersediaan nangka lokal.
"Di Jogja memang kekurangan pohon nangka. Bahkan Gunungkidul mereka sudah tidak pakai nangka, tapi memakai depok pisang," katanya.
Selain Sego Golong Gilig, terdapat pula dawet sambel dari Kulon Progo yang disebut telah menjadi warisan budaya. Namun, kuliner tersebut menghadapi persoalan regenerasi karena belum banyak dikenal masyarakat.
Dawet sambel memiliki perpaduan yang tidak biasa: dawet dengan sambal pecel dan tahu. Keunikan tersebut justru dinilai dapat menjadi daya tarik wisata apabila dikemas dan diperkenalkan secara tepat.
Baca Juga:Jelajah Rasa Jogja: 7 Destinasi Kuliner Wajib Coba, Ramah di Kantong hingga Legendaris!
"Bagaimana kita coba terus promosikan dan dawet sambel itu menjadi bagian dari destinasi wisatanya, dari perjalanan paket wisata di desa," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi