- Unisa Festival 2026 menyalurkan dana Rp20 juta untuk membantu UMKM penyandang disabilitas dan melibatkan 20 tenant UMKM dalam Pasar Rakyat.
- Program pengolahan botol plastik bekas dan infak mahasiswa mendukung beasiswa Rp1,5 juta per semester bagi sekitar 90 mahasiswa.
- Pengumpulan sekitar 1.500 botol plastik selama Unisa Festival 2026 menjadi upaya Unisa Yogyakarta mendukung program Green Campus dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
Setiap mahasiswa penerima beasiswa mendapatkan bantuan sebesar Rp1,5 juta per semester. Hingga saat ini, sekitar 90 mahasiswa telah merasakan manfaat beasiswa yang didukung oleh hasil penjualan botol plastik bekas dan dana infak tersebut.
Dana infak yang dikelola juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa yang menghadapi kendala dalam membayar biaya kuliah atau membutuhkan biaya pengobatan. Dengan demikian, program ini tidak hanya mendukung pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kebutuhan mahasiswa.
Unisa Festival 2026 Targetkan Pengumpulan Ribuan Botol Plastik
Pengumpulan botol plastik bekas dalam Unisa Fest 2026 juga menjadi bagian dari upaya Unisa Yogyakarta mewujudkan kampus hijau atau Green Campus. Melalui program ini, kampus berupaya menerapkan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle, dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga:Demi Dampingi UMKM, Kepala Unit BRI Rela Terjang Jalan Berlumpur dan Minim Sinyal
Selama festival berlangsung, pengunjung diajak berpartisipasi dengan membawa minimal tiga botol plastik bekas yang telah dibersihkan. Botol-botol tersebut kemudian dikumpulkan untuk dikelola oleh Madaris.
Andis memperkirakan jumlah botol plastik yang terkumpul selama pelaksanaan Unisa Fest 2026 mencapai sekitar 1.500 botol. Jumlah tersebut masih dapat bertambah karena proses pengumpulan berlangsung hingga sore hari.
Menurut Andis, program ini memiliki manfaat ganda, yakni memberikan nilai ekonomi dari sampah plastik sekaligus membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah. Ia mengungkapkan bahwa pada awal pelaksanaan program, botol plastik yang terkumpul masih sering bercampur dengan jenis sampah lainnya.
Namun, edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara rutin mulai menunjukkan perubahan. Masyarakat perlahan terbiasa memisahkan botol plastik dari sampah lainnya sehingga proses pengumpulan dan pengelolaan menjadi lebih mudah.
Andis berharap, keterlibatan mahasiswa dan pengunjung dalam program tersebut dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga lingkungan melalui langkah sederhana, seperti memilah sampah dari sumbernya.
Baca Juga:BRI Perkuat Ekonomi Desa BRILiaN Balbar di Sofifi Maluku Utara dan UMKM Lewat Semarak Merah Putih
“Tujuan kita ingin mengajak teman-teman mahasiswa, ayo peduli lingkungan. Kita sama-sama pilah botol kita sendiri dan ayo kita kelola dengan baik, barangkali ke depannya bisa lebih bermanfaat buat teman yang lain,” kata Andis.
Ia juga berharap praktik pengelolaan botol plastik bekas yang telah diterapkan di lingkungan kampus dapat menjangkau masyarakat sekitar. Melalui upaya tersebut, sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik untuk menjaga lingkungan maupun membantu sesama.