- Romo Vincentius Kirjito mengampanyekan pemanenan air hujan untuk mengatasi kekeringan di Desa Bunder Klaten sejak 2014.
- Kondisi geologi batuan padat di kawasan Merapi Purba menyebabkan air hujan sulit tersimpan di dalam tanah.
- Warga menampung dan mengolah air hujan melalui bak penampungan untuk mencukupi kebutuhan air bersih saat kemarau.
SuaraJogja.id - Ketika hujan turun, sebagian orang mungkin sibuk mencari tempat berteduh. Namun bagi Romo Vincentius Kirjito Pr, hujan justru membawa harapan bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih, terlebih di musim kekeringan yang berkepanjangan saat ini.
Bagi imam purnatugas Keuskupan Agung Semarang itu, air hujan bukan sesuatu yang harus dikeluhkan, melainkan sumber kehidupan yang perlu dikelola dengan baik. Melalui gerakan memanen air hujan, ia mengajak masyarakat belajar menghadapi kekeringan dengan memanfaatkan air yang tersedia di sekitar mereka.
"Saya ajak warga untuk memanen air hujan untuk ketersediaan air di rumah mereka saat musim panas," ujar Kirjito dalam Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (Sendimas) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).
Sejak sekitar 2014, Romo Kirjito meneliti sekaligus mengampanyekan pemanfaatan air hujan. Salah satu upayanya dilakukan dengan mendampingi warga Desa Bunder, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menampung air hujan dari atap rumah untuk mengatasi keterbatasan air bersih.
Baca Juga:161 Bank di Indonesia Bertumbangan, 3 di Antaranya dari Jogja! Cek Masalahnya
Ia mengajak masyarakat melihat hubungan antara manusia, kesehatan, dan lingkungan. Menurutnya, menjaga kehidupan tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap alam, termasuk memastikan ketersediaan air bersih.
Ketertarikan Romo Kirjito terhadap air tidak terlepas dari pengalamannya meneliti kondisi geologi di kawasan Gunung Merapi. Ia menemukan karakter tanah dan batuan ikut menentukan ketersediaan air di suatu wilayah.
Di kawasan Merapi Purba, khususnya Dukuh Jarakan dan Bunder, air hujan sulit tersimpan di dalam tanah. Sebab wilayah tersebut terbentuk dari aliran lava andesit-basaltik sekitar 700.000 tahun lalu.
"Batuan yang padat, rapat, dan keras membuat air tidak mudah meresap dan tersimpan. Meski banyak tanaman tumbuh, warga setempat tidak selalu berhasil mendapatkan air ketika menggali sumur," paparnya.
![Ilustrasi Romo Vincentius Kirjito Pr yang menjelaskan memanen air hujan sebagai solusi menghadapi musim kemarau. [Foto Putu/Ilustrasi Dok Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/10/14/32091-romo-vincentius-kirjito.jpg)
Kondisi tersebut berbeda dengan sisi barat dan selatan Gunung Merapi, seperti Magelang dan Sleman, yang memiliki sumber mata air. Di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, misalnya, terdapat lebih dari 500 sumber mata air.
Baca Juga:Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan
Perbedaan kondisi alam itu membuat masyarakat di sejumlah wilayah harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan air. Bagi warga Dukuh Jarakan dan Bunder, salah satu jawabannya adalah menampung air hujan.
"Itu semua pakai air hujan, semua punya tampungan. Ada yang besar, ada yang kecil, tergantung biaya," jelasnya.
Dari pengalaman masyarakat tersebut, pemanenan air hujan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing keluarga. Air yang jatuh di atap rumah dialirkan melalui saluran menuju bak penampungan.
Ukuran bak dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan biaya warga. Air yang terkumpul kemudian diolah sebelum digunakan sesuai peruntukannya.
Romo Kirjito mendorong pendekatan ini agar masyarakat tidak hanya bergantung pada sumber air tanah atau pasokan air dari luar wilayah. Ketika musim kemarau datang dan sumber air semakin terbatas, cadangan air hujan yang dikelola dengan baik dapat membantu memenuhi kebutuhan warga.
Lebih dari sekadar menampung air, gerakan ini mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap hujan. Air yang sebelumnya dibiarkan mengalir begitu saja dapat menjadi cadangan berharga jika dikelola sejak awal.
"Air hujan yang akan diminum harus melalui pengolahan menggunakan sistem elektrolisis atau mengalirkan arus listrik kecil. Hal itu untuk membunuh mikroba dan menyesuaikan tingkat pH air agar layak minum," jelasnya.
Sementara itu Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Iwan Aang Soenandi menyatakan pengabdian yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan satu arah.
"Penguatan riset terapan serta kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media menjadi bagian penting dari upaya tersebut," jelasnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi