SuaraJogja.id - Sebanyak 270 warga Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman mengikuti sosialisasi terkait proyek pembangunan tol Jogja-Solo.
Sosialisasi dilakukan oleh Pemprov DIY bersama BPN DIY serta tim Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen. Kegiatan sosialisasi digelar di balai desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Rabu (4/12/2019)
Salah seorang warga Bokoharjo, Rukiman (66) mengungkapkan jika pihaknya mendukung pembangunan jalan bebas hambatan itu. Namun ia meminta kejelasan soal waktu survey serta warga diberi tanah relokasi sebagai lokasi pembangunan rumah baru.
"Undangan ini sifatnya masih sosialisasi, karena ini program pemerintah, otomatis kita harus menerima. Kami mendukung proyek ini, tapi pemerintah harus jelas memberitahu kapan jadwal penyelenggaraan pembangunan seperti survey tanah. Sebenarnya warga meminta pemerintah juga menyediakan tanah relokasi untuk kami yang rumahnya terdampak pembangunan proyek itu," jelas Rukiman kepada wartawan.
Ia menjelaskan dari informasi yang didapat ada dua rumah miliknya yang terdampak pembangunan jalan tol trase Jogja-Solo.
"Dua rumah itu masing-masing ada di sebelah Utara dan Selatan. Rumah sebelah utara seluas 170 meter persegi, sementara rumah sisi selatan seluas 101 meter persegi. Dua rumah tersebut sudah bersertifikat," jelas dia.
"Harapannya ada tanah yang disediakan pemerintah nantinya. Jadi kami yang membangun rumah pribadi tapi diberi tanah oleh pemerintah sendiri," katanya.
Disinggung soal harga tanah, Pria yang lahir di Bokoharjo, Sleman ini menyebut jika tanah di sekitar tempat tinggalnya bisa dihargai hingga Rp 2 juta per meternya. Sehingga pihaknya meminta hitungan ini bisa menjadi dasar bagi pemerintah saat memberi ganti untung.
"Kami sebut nantinya mendapat ganti untung. Di kawasan tempat saya tinggal satu meternya dihargai sekitar Rp 2 juta. Sehingga biaya yang kami dapatkan bisa sesuai dengan hitungan yang kami harapkan," ungkapnya.
Kendati demikian, Rukiman tak menampik jika pemerintah juga sudah punya hitungan sendiri terhadap luas tanah warga yang terdampak. Ia berharap yang penting ada kejelasan antar warga terdampak dan pemprov DIY saat melakukan pengadaan tanha tersebut.
Baca Juga: Diduga Lakukan Klitih, 2 Remaja di Sleman Ditangkap Warga
"Yang jelas warga mendukung, namun kejelasan dan keterbukaan ini harus benar-benar dilakukan pemerintah, agar tak terjadi simpang siur informasi," ungkap dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
Terkini
-
Gandeng Ndarboy dan Happy Asmara, Film Musikal 'Cidro Asmoro' Siap Gebrak Bioskop 2026!
-
Persiapan ke Luar Negeri Lebih Praktis dengan BRI Money Changer di Lokasi Strategis
-
Nandhur Srawung di Jogja: Ajang Jambore Nasional Pemilik Xpander se-Nusantara
-
Dapat Sepeda dari BRI Peduli, Mahesa Semangat ke Sekolah: Tak Lagi Mesti Jalan Kaki Saat Banjir Rob
-
Dapur Warmindo di Sleman Meledak, Tiga Pegawai Terpental Keluar Warung