SuaraJogja.id - Salah seorang pengguna Twitter @oktaviamanroe membagikan pengalamannya dalam merawat kedua orangtuanya yang tergolong sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Sempat merasa kacau dan pasrah, wanita ini berterimakasih kepada tenaga kesehatan yang melayani.
Dibagikan sebanyak 2,2 ribu kali, Oktavia menceritakan bahwa yang pertama dirawat adalah ibunya. Dua hari setelah mengikuti wisata bersama perkumpulan ibu-ibu gereja Sabtu (15/3/2020), ibunya menunjukkan gejala demam. Setelah periksa ke klinik dekat rumah, ibunya diberikan paracetamol, antibiotik dan vitamin.
Setelah lima hari rawat jalan, ibunya tak kunjung membaik, akhirnya memutuskan untuk rawat inap di RSIA Hermina Sabtu (21/3/2020). Ibunya dirawat dengan prosedur cek laboratorium dan rontgen paru. Selama dirawat demamnya turun, namun batuk yang diderita semakin parah dan sesekali sesak nafas.
"Setelah 3 hari, kondisi membaik, karena kami pikir tinggal sisa batuk, kirain udah boleh pulang, ternyata perwakilan keluarga dipanggil dan dijelaskan dokter jaga kalau Ibu pneumonia," tulisnya.
Menurut keterangan rumah sakit, pasien dengan pneumonia harus diisolasi karena diduga Covid-19. Oktavia mengaku tidak kaget tapi sedikit khawatir. Namun, ia tetap percaya pada langkah-langkah yang ditempuh rumah sakit.
Siang itu juga, ibunya dipindah ke ruang isolasi. Oktavia menyebutkan bahwa ibunya sendiri sempat menangis saat akan dipindah dan menanyakan akan dibawa kemana. Selasa (24/3/2020) ibunya lantas dipindah ke Wisma Atlet dengan ambulans rumah sakit.
Ia mengatakan, hari itu masih hari kedua Wisma Atlit dibuka, sehingga masih banyak prosedur yang tidak berjalan baik. Setelah menunggu selama 9 jam, akhirnya ibu Oktavia dipindahkan ke ruang perawatan di lantai lima.
"Tapi dokter-dokter di Wisma baik-baik, saya masih ingat betul dr Max, di balik APD google glassnya yang berembun, masih bisa saya lihat bagaimana matanya dengan sabar menjelaskan bahwa persiapan masih dilakukan di setiap kamar. Ibu boleh masuk UGD dulu sebelum masuk kamar," tulis Oktavia.
Setelah satu minggu mengurus kebutuhan ibunya, Oktavia mengaku kurang perhatian dengan Bapaknnya. Ternyata sang Bapak juga mulai menunjukkan gejala yang sama, demam dan batuk. Sempat dibawa ke klinik, namun setelah tiga hari tidak kunjung membaik, Ia membawa ayahnya ke RS Hermina.
Baca Juga: Pasien Covid-19 Bisa Alami Sindrom Kelelahan Kronis, Begini Gejalanya
Sempat mengikuti test laboratorium dan rontgen paru, Bapak Oktavia lalu dirawat di UGD. Bapaknya sempat harus menjalani puasa dan tinggal di UGD sebelum pindah ke ruang perawatan. Setelah menjalani rontgen kedua, adiknya diberitahu bahwa bapak mereka masuk dalam kategori PDP berat.
Oktavia mengaku kacau dan sempat menangis kencang di parkiran rumah sakit. Pihak rumah sakit sempat memanggil seluruh keluarga dekat dan menyampaikan penjelasan mengenai tindakan yang akan diambil.
"Saya agak tenang kalau Hermina bakal melakukan yang terbaik selama masih mencari RS rujukan. Walaupun kasih yang terbaik tetap keluarga pasrah kalau ternyata Tuhan berkehendak lain," tulis Oktavia.
Setelah masuk ruang isolasi UGD, bapak Okatvia langsung didaftarkan swab dan diberi tindakan layaknya pasien positif covid-19. Sepuluh hari menjalani perawatan di ruang isolasi, Bapak Oktavia kemudian dipulangkan dengan kondisi belum sembuh sepenuhnya.
Diputuskan pulang karena kondisi ruang isolasi yang dikhawatirkan makin membuat kondisi pria berusia 72 tahun itu stres, karena banyak pasien yang berteriak karena tertekan. Pulang kerumah dengan membawa banyak obat dan kondisi tubuh yang lemas, Oktavia tetap memperlakukan Bapaknya layaknya pasien positif.
Baik alat makan maupun cucian baju dipisahkan dan semua makanan diblender. Selama isolasi di rumah tetap harus kontrol ke rumah sakit satu minggu sekali. Tiga minggu kemudian hasil swab keluar dan dinyatakan negatif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Upacara HUT RI ke-81 di Kulon Progo Berlangsung Tanpa Tenda Pejabat, Seluruh Peserta Berdiri Sejajar
-
Ketika Persoalan Bangsa Tak Kunjung Usai, Bendera 25 Meter Mengingatkan Arti Cinta Tanah Air
-
Civitas Akademika Jogja Pilih Sindir MBG, Kopdes hingga Korupsi Lewat Karnaval Kemerdekaan
-
Perubahan Iklim Mulai Menggerus Produktivitas Ternak, Pakar UGM Dorong Strategi Baru
-
KKN Berubah Jadi Misi Kemanusiaan, 61 Mahasiswa UMY Bertahan di Tengah Bencana NTT