SuaraJogja.id - Vaksin merupakan salah satu peneluan medis yang digunakan untuk mengatasi penyakit menular berbahaya sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja, masih banyak masyarakat yang memercayai mitos maupun berita keliru terkait vaksin.
Terutama di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, di mana isu vaksin kembali naik dan menimbulkan banyak perdebatan sengit.
Dikatakan Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Virolog dr. Dirga Sakti Rambe M. Sc. Pd., setidaknya ada dua mitos tentang vaksin yang paling banyak dibahas dan dipercaya masyarakat.
"Ada dua mitos yang paling sering muncul. Pertama, vaksin tidak aman. Jelas itu keliru," kata dalam webinar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan bahwa vaksin yang digunakan luas kepada masyarakat sudah melewati rangkaian penelitian panjang juga diawasi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Keamanan pemakaian vaksin juga akan selalu dipantau sekalipun sudah diedarkan ke masyarakat.
Mitos kedua, lanjutnya, adalah bahwa vaksin tidak ada gunanya dan tidak efektif. Lagi, dokter Dirga menegaskan bahwa pemahaman itu keliru.
"Karena vaksin fungsinya melatih sistem imunitas agar mampu membentuk sistem antibodi sehingga kebal. Dan vaksin punya keunggulan yang tidak dimiliki upaya pencegahan lain yaitu vaksin memberikan perlindungan spesifik. Sehingga bisa netralisir virus secara langsung," paparnya.
Upaya pencegahan seperti protokol kesehatan dengan 3M dibarengi dengan konsumsi makanan bergizi dan rutin olahraga, menurut Dirga, sifatnya general. Sedangkan vaksin memiliki ciri khas spesifik yang hanya mampu memberikan perlindungan khusus penyakit tertentu.
Cara kerja vaksin, lanjutnya, dengan membentuk antibodi dalam tubuh yang kemudian akan berfungsi untuk kekebalan.
Baca Juga: Warga Sekitar Markas FPI Ikuti Rapid Test Massal, Hasilnya Mengejutkan
"Vaksin mengandung komponen virus atau bakteri. Setelah disuntik, tubuh akan mengenali lalu melawan dengan membentuk antibodi yang berfungsi sebagai kekebalan. Lalu tubuh akan mengingat. Sehingga jika tertular dengan virus beneran tubuh sudah punya kekebalan," jelasnya.
Komponen virus yang dimaksud merupakan sebagian organ virus yang sudah dilemahkan. Komponen itu kemudian dijadikan salah satu bahan baku vaksin dan diteliti hingga disuntikan ke tubuh manusia. Menurut dokter Dirga, kebanyakan vaksin memang mengandung komponen virus.
"Tidak semua vaksin mengandung virus yang dilemahkan. Tapi kebanyakan vaksin mengandung komponen virus. Sehingga saat vaksin diberikan ke tubuh tidak dapat menimbulkan penyakit," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Ketua Yayasan Little Aresha Dituntut 10 Tahun Penjara, 83 Anak Korban Minta Restitusi Rp2,12 Miliar
-
BRI Bidik Peluang Bisnis dari MotoGP Mandalika 2026
-
Pemerintah Berencana Buat Program Kuliah Gratis, PTS Terancam Gigit Jari Kehilangan Mahasiswa
-
Ngenes! Prabowo Tambah Pejabat, Transfer ke DIY Malah Susut Rp910 Miliar
-
MotoGP Mandalika 2026 Makin Ramah Lingkungan, BRI Peduli Kerahkan 500 Relawan