SuaraJogja.id - Budayawan sekaligus tokoh intelektual Muslim Emha Ainun Nadjib alis Cak Nun mengungkapkan duka cita atas meninggalnya sastrawan Jogja Iman Budhi Santosa pada Kamis (10/12/2020).
Sebagai sahabat karib, Cak Nun mengingat banyak kenangan bersama Iman. Menurutnya, Iman adalah seorang pejuang sejati.
Dalam video yang ditayangkan kanal YouTube CakNun.com, Jumat (11/12/2020), dia mengaku ikhlas dan legawa atas kepergian Iman. Namun menurutnya, tokoh sastra itu juga tidak akan pernah mati.
"Kalau seseorang sudah kita bawa dari kehidupan ke kuburan, menurut Allah itu sudah terputus artinya tidak bisa makan lagi, tidak bisa nulis lagi. Tapi Mas Iman tidak pernah mati. Tidak matinya bergantung pada kita yang masih hidup, kita harus menghidupkan jariahnya Mas Iman," katanya, dikutip dari HarianJogja.com.
Dalam video itu, Cak Nun mengatakan telah mengenal Iman selama 51 tahun. Dia mengaku menjadi saksi hidup perjalanan sosok Iman yang telah mencapai, mengalami, dan melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukan olehnya dan kebanyakan orang.
Dia melanjutkan bahwa Iman memiliki manfaat yang sangat besar dan jariah yang sangat luas.
Menurutnya, kesetiaan, ketekunan, dan kesungguhan Iman dalam mengurusi tugas hidupnya sangat lah luar biasa.
Oleh sebab itu, Cak Nun mengaku sangat kehilangan beliau, begitu juga dengan seniman Yogyakarta dan Indonesia.
Mengingat sosok Iman yang merupakan salah satu guru terbaik dalam sastra dalam negeri.
Baca Juga: Polisi vs FPI di Kematian Laskar Rizieq, Cak Nun Bongkar Sosok Kafir
"Kita ikhlaskan, kita pulangkan. Dan belajar untuk berjuru kepada Mas Iman tanpa berhenti, sampai sekarang pun kita tetap belajar kepada beliau dari puisi, tulisan, dan essai beliau," katanya.
"Masi Iman adalah orang yang hatinya mulia, pikirannya jujur, dan seluruh jiwanya dipenuhi pertimbangan berdasarkan kehendak Allah SWT," ujar Cak Nun.
Seperti dikutip Wikipedia, Iman Budhi lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 28 Maret 1948.
Dia dikenal sebagai IBS. Dia adalah seorang penulis Indonesia yang berbasis di Jogja.
IBS dididik dalam bidang pertanian, tetapi mengembangkan kemampuan sastra dari usia muda.
Pada 1969, ia membantu pendirian Persada Studi Klub. Kemudian menerbitkan sejumlah karya, yakni kumpulan puisi, novel, dan cerita pendek. Puisinya dianggap memiliki pengaruh budaya Jawa yang kuat.
Berita Terkait
-
Polisi vs FPI di Kematian Laskar Rizieq, Cak Nun Bongkar Sosok Kafir
-
Laskar Rizieq Dibunuh, Cak Nun: FPI Diperintahkan Allah untuk Perang
-
Sebut Polri-FPI Dapat Perintah Allah Agar Berperang, Cak Nun: Lampiaskanlah
-
Profil Ronggowarsito: Sang Pujangga Jawa
-
Nama Cak Nun Dicatut KAMI untuk Acara Bertema Pelanggaran HAM
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
Pilihan
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
-
MBG Makan Korban Lagi, Siswa SD Lampung Meninggal Tersedak Menu Kelengkeng
Terkini
-
BRI Private Berikan Akses Premium Medical Check Up untuk Nasabah
-
Kuliah Gratis PTN Didorong, Akademisi Ingatkan Jangan Sampai PTS Kehilangan Mahasiswa
-
BRI inFrame 2026, Saat Fotografi Mengisahkan Perjalanan Ekonomi Kerakyatan Indonesia
-
6 Fasilitas Kereta Kelas Luxury yang Membuat Perjalanan Berbeda
-
Pestapora 2026 Makin Seru, BRI Kartu Kredit Hadirkan Cicilan 0%