SuaraJogja.id - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Daerah Istimewa Yogyakarta menutup sementara tempat usaha Platinum Kitchen, Bar & Lounge menyusul pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan. Penutupan sementara ini berlaku selama 3x24 jam terhitung sejak hari ini, Kamis (17/12/2020).
Kabid Penegakan Perundang-undangan Satpol PP DIY Nur Hidayat, mengatakan penutupan sementara ini berdasarkan hasil dari aduan masyarakat dan pemantauan yang telah dilakukan dalam beberapa waktu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Gubernur DIY Nomor 77 tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di DIY.
"Ada aduan dari masyarakat yang mana Platinum ini melanggar protokol kesehatan. Ada kerumunan yang tidak jaga jarak, tidak memakai masker dan melanggar operasional buka," kata Hidayat, kepada awak media di sela penyegelan sementara tempat usaha Platinum Kitchen, Bar & Lounge, di Jl. Urip Sumoharjo No.111A, Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Hidayat menyebut terkait jam operasional, tempat usaha Platinum yang seharusnya diperbolehkan buka sampai maksimal pukul 24.00 WIB malam. Justru malah melewati batas itu dengan tetap buka hingga pukul 02.00 WIB dini hari.
Disampaikan Hidayat bahwa penutupan ini akan berlangsung selama tiga hari atau 3x24 jam sejak surat penghentian kegiatan itu diterima oleh pihak tempat usaha. Selama waktu itu, pihaknya juga akan tetap melakukan investigasi guna memastikan tempat usaha tersebut benar-benar tidak ada kegiatan.
"Kalau masih ada indikasi dibuka selama waktu yang ditentukan itu kami akan tutup permanen bersama dengan TNI dan Polri. Intinya Satpol-PP menindak tegas bagi siapa pun yang melanggar protokol kesehatan," tegasnya.
Hidayat mengharapkan penutupan sementara tempat usaha ini menjadi perhatian bagi pengusaha lain yang ada di Jogja. Setidaknya para pengusaha harus mau turut andil untuk saling mengoreksi dan menjaga diri masyarakat dari penyebaran kasus Covid-19.
"Jogja tidak ada toleransi untuk kerumunan. Nanti malam tahun baru pun juga tidak akan ada kerumunan. Kalau ada kerumunan langsung kami tutup," ucapnya.
Sementara itu salah satu pemilik tempat usaha Platinum Kitchen, Bar & Lounge, Welly Sutanto Wibowo, mengakui bahwa pihaknya telah lalai dalam menerapkan protokol kesehatan khususnya dalam menjaga kerumunan. Tidak hanya itu, melainkan pihaknya juga telah melanggar waktu operasional buka yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Pria Pekanbaru Pakai Mobil ke Jogja Demi Pujaan Hati, Endingnya Bikin Mewek
"Kita sebagai pelaku bisnis pasti sedih dan kecewa tapi kita tetap harus ikuti aturan. Mungkin ini peringatan bagi kita agar lebih ketat lagi untuk menerapkan protokol kesehatan," ujar Welly.
Kendati begitu Welly menyampaikan bahwa pihaknya telah sebisa mungkin untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Mulai dari meminta pengunjung yang datang mencuci tangan, selalu memakai masker hingga menjaga jarak satu sama lain saat di dalam ruangan.
Menurut Welly, karena tempat usahanya bergerak di bidang restoran makan dan minum maka untuk selalu menggunakan masker itu hal yang tidak mungkin. Namun hal itu bukan lantas menjadikan tempat usahanya mengabaikan begitu saja protokol kesehatan yang berlaku.
"Semua kita jaga kebersihannya, selalu kita bersihkan dengan desinfektan sebelum dan sesudah operasional. Tamu juga sudah kita batasi sesuai jumlah kursi," ucapnya.
Terkait dengan pelanggaran jam operasional yang berlaku, Welly menyebut hal itu disebabkan karena saat itu tempat usahanya sedang merayakan ulang tahun. Kendati lewat jam operasional, kata Welly, saat itu tidak ada event besar yang diselenggarakan seperti mengundang bintang tamu dan sebagainya.
"Kita saat itu juga tidak merayakan ulang tahun secara besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi memang kita akui sempat molor," cetusnya.
Berita Terkait
-
Layak Disanksi Kasus Kerumunan Rizieq, Refly Minta Jokowi Tegur Mahfud MD
-
Jemaah Gereja Diminta Patuhi Protokol Kesehatan Saat Rayakan Natal
-
Movie Time Bareng SCH, Sensasi Baru Nonton Film di Era New Normal
-
Presiden PKS: Ada Tebang Pilih Penegakan Hukum Prokes Covid-19
-
FPI Cs Besok Geruduk Istana, Kapolda: Klaster Petamburan Terbukti Berbahaya
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat