Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 12 Januari 2021 | 06:48 WIB
Lurah Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo menunjukkan kesiapan salah satu barak di Wonokerto, Senin (11/1/2021). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

"Sudah kami siapkan barak di Balai Desa Wonokerto dengan kapasitas sekitar 75 orang. Kemudian ada SDN Nganggrung 1 dan 2 dengan kapasitas masing-masing sekitar 30 orang," kata Tomon.

Selain itu, masih ada barak pengungsian di Desa Wisata Kelor, yang berada di wilayah Bangunkerto, Turi, Sleman. Disampaikan Tomon, barak pengungsian tersebut nantinya diperkirakan dapat menampung sebanyak 60 orang.

Di Wonokerto sendiri, kata Tomon, terdapat Pedukuhan Tunggularum, yang cukup berpotensi terkena ancaman bahaya Gunung Merapi. Di Tunggularum sendiri terdapat 627 jiwa dengan kelompok rentan mencapai 239 jiwa.

Terkait evakuasi warga, Tomon menjelaskan bahwa pihaknya telah menginisiasi warga setempat untuk melakukan evakuasi mandiri. Namun, pihaknya tidak akan lepas tangan begitu saja.

Baca Juga: Aktivitas Merapi Meningkat, Hari Ini 19 Kali Guguran Lava Pijar

"Evakuasi itu dari Pedukuhan Tunggularum sudah mempersiapkan timnya dari masyarakat sendiri bukan kita, tapi kita akan sebagai pendukung, kalau membutuhkan sesuatu kita siapkan semua," tegasnya.

Tomon menambahkan, skema upaya evakuasi mandiri oleh warga tersebut untuk mengurangi sebaran virus Covid-19. Bahkan pihaknya juga tidak menerima relawan dari luar tanpa tujuan dan syarat yang lengkap untuk datang ke Wonokerto.

"Dalam kondisi semacam ini, tentunya kita sangat protektif terhadap orang lain. Saya berharap, mereka akan lebih safe ketika yang melakukan evakuasi adalah orang yang sudah kenal betul. Tentu tetap kita disediakan apa yang mereka lakukan dengan menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan," terangnya.

Load More