- Ratusan mahasiswa dan Forum Cik Di Tiro menggelar aksi protes di Pertigaan Gejayan, Yogyakarta pada Sabtu, 13 Juni 2026.
- Massa menuntut perbaikan kebijakan ekonomi serta evaluasi menyeluruh terhadap program strategis nasional yang dianggap gagal dan bermasalah.
- Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kemunduran demokrasi, penyempitan ruang sipil, dan keterlibatan militer dalam jabatan sipil.
SuaraJogja.id - Hujan yang mengguyur kawasan Pertigaan Gejayan, Sabtu (13/6/2026) tak menyurutkan langkah ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil untuk turun ke jalan. Massa yang tergabung dalam Forum Cik Di Tiro bersama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta bertahan menggelar aksi "Seruan Bersama".
Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap menyengsarakan rakyat. Demokrasi juga dinilai mengalami kemunduran dan ruang kebebasan sipil semakin menyempit.
Sejumlah peserta aksi tampak membawa payung dan jas hujan sambil membentangkan poster berisi berbagai tuntutan. Sebut saja "Stop MBG", "Stop Pemborosan APBN", "Prabowo Turun, Rupiah dan BBM Turun".
Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Media Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki yang juga menjadi inisiator Forum Cik Di Tiro, menyatakan aksi tersebut merupakan puncak akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dinilai gagal ditangani pemerintah.
"Ada tiga isu utama yang menjadi fokus gerakan kali ini" ujarnya.
Masduki menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak diimbangi langkah mitigasi dan terobosan kebijakan yang progresif. Karena itu massa menuntut menteri-menteri di sektor ekonomi, seperti Menteri Keuangan atau Gubernur Bank Indonesia beserta wakilnya segera diganti untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Evaluasi terhadap kinerja pemerintahan dan berbagai program strategis nasional juga harus dilakukan. Sebab terjadi ketidaksesuaian antara seruan penghematan dengan praktik yang terjadi di lapangan.
Contohnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seringkali bermasalah. Selain itu program-program pemerintah lainnya seperti Koperasi Merah Putih yang tak kalah berantakan.
"Kasus dugaan korupsi di program MBG kemarin menunjukkan ada masalah serius," ujarnya.
Baca Juga: Penyelenggara Event di Jogja Ketar-ketir,Imbas Rupiah Melemah dan BBM Naik
Yang tidak kalah memprihatinkan, lanjutnya, terjadinya kemunduran demokrasi di Indonesia. Selain itu adanya peningkatan peran militer dalam jabatan sipil.
Karenanya elemen masyarakat di DIY mendukung gerakan protes di tingkat nasional. Bila tidak ada ruang dialog, maka tuntutan yang lebih besar, termasuk desakan agar Presiden mundur diperkirakan menguat.
"Kita akan terus menyampaikan tuntutan," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais