- Yayasan Vasatii Socaning Lokika menggugat UU Nomor 20 Tahun 2009 ke Mahkamah Konstitusi pada Kamis, 11 Juni 2026.
- Gugatan bertujuan menghapus syarat rekomendasi daerah yang dianggap menghambat pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Sri Sultan HB II.
- Panel hakim meminta pemohon memperbaiki berkas gugatan mengenai kerugian konstitusional paling lambat pada Rabu, 24 Juni 2026 mendatang.
SuaraJogja.id - Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang pemeriksaan pendahuluan atas gugatan uji materiil Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Kamis (11/6/2025).
Gugatan ini diajukan oleh Yayasan Vasatii Socaning Lokika yang mewakili 80 ahli waris sah Trah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II.
Perkara yang teregistrasi dengan nomor 197/PUU-XXIV/2026 dan 200/PUU-XXIV/2026 ini mempersoalkan Pasal 25, Pasal 26, dan Pasal 33 ayat (2) huruf b UU tersebut.
Aturan itu dinilai menjegal langkah keluarga untuk mengusulkan Sri Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional akibat birokrasi yang berbelit dan kewajiban adanya persetujuan dari pihak Sultan HB X.
Dalam persidangan, Ketua Umum Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto, langsung menyatakan menarik kembali permohonan nomor 200/PUU-XXIV/2026, sementara permohonan nomor 197/PUU-XXIV/2026 tetap dilanjutkan.
"Menyatakan pasal tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, conditionally unconstitutional sepanjang tidak dimaknai khusus untuk tokoh pejuang masa lampau kerajaan pra kemerdekaan pengusulan gelar pahlawan nasional dapat diajukan langsung oleh ahli waris atau masyarakat kepada dewan gelar tanpa wajib melalui syarat rekomendasi daerah yang berbelit," kata Fajar membacakan petitum permohonannya, seperti keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Kamis (11/6/2026).
Trah HB II merasa dirugikan karena syarat administratif tersebut memaksa adanya persetujuan atau tanda tangan dari pihak di luar garis keturunan langsung.
"Ketentuan ini menciptakan diskriminasi dan hambatan sewenang-wenang terhadap hak waris dan martabat keluarga," ujarnya.
Menurut Fajar, aturan ini memberikan wewenang mutlak kepada pihak lain yang tidak memiliki hubungan silsilah langsung untuk menjegal hak konstitusional keluarga.
Baca Juga: Polisi Rekonstruksi Kasus Little Aresha, Orang Tua Minta 13 Tersangka Dihukum Berat
Merespons gugatan tersebut, Panel Hakim MK yang dipimpin Enny Nurbaningsih bersama Arsul Sani dan Ridwan Mansyur memberikan sejumlah saran perbaikan.
Pemohon diminta memperjelas kerugian konstitusional, hubungan sebab-akibat aturan tersebut, serta bukti konkret yang menunjukkan pemohon merupakan Trah HB II yang berhak menggugat. MK memberikan tenggat waktu perbaikan berkas paling lambat Rabu (24/6/2026) pukul 12.00 WIB.
Sementara itu, Sekjen Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Ananta Hari Noorsasetya, menegaskan bahwa Sri Sultan HB II sangat layak menyandang gelar Pahlawan Nasional atas kegigihannya melawan kolonialisme secara fisik maupun intelektual.
"Sultan HB II dikenal menghasilkan karya sastra dan kebudayaan yang bernuansa perjuangan, yang merefleksikan wataknya yang keras dan penuh semangat melawan penjajahan," jelas Ananta.
Melalui uji materi ini, pemohon berharap MK membatalkan pasal-pasal diskriminatif tersebut agar proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Sri Sultan HB II dapat berjalan lancar tanpa intervensi pihak luar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air
-
Ramai Wisatawan Dipalak Saat Foto di Plang Malioboro, UPT Tertibkan Fotografer
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Kekeringan di Gunungkidul, Warga Kemesu Terpaksa Jual Ternak Demi Beli Air
-
Chemistry Keisya Levronka dan Paul Aro Warnai Film 'Dan Bandung', Bakal Berperan Jadi Siapa?