SuaraJogja.id - Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin Sinovac sebagai salah satu upaya penanganan covid-19. Selain itu, ada beberapa tokoh publik yang ikut menjadi bagian orang-orang pertama yang menerima vaksin untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada keamanan vaksin yang diberikan gratis oleh pemerintah.
Di tengah semarak penyuntikan vaksin hari pertama Rabu (13/1/2021), aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengingatkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menolak diberikan vaksin. Tindakan tersebut juga tak bisa dipidana dengan undang-undang Karantina Kesehatan jika negara belum mengumumkan lockdown atau status karantina wilayah.
"Penolakan Vaksin tidak bisa dipidana dengan UU Karantina Kesehatan Jika Negara Belum Umumkan Lockdown atau Status Karantina Wilayah," tulis Natalius dalam cuitannya.
Dalam cuitan tersebut, Natalius juga mengunggah sebuah poster yang menjelaskan masalah yang sama. Ia mempertanyakan mengenai pernyataan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) yang menyebutkan jika menolak vaksinasi covid-19 bisa dipidana. Natalius mempertanyakan asal sekolah Wamenkumham dan apakah yang bersangkutan mengerti arti karantina.
Selanjutnya Natalius menceritakan jika UU kesehatan, UU tantang kesehatan dan UU wabah menyebutkan jika kekarantinaan itu harus dengan national adress mengenai entry and exit darat, laut dan udara. Lock and open wilayah. Sementara Presiden Jokowi belum menerapkan peraturan tersebut. Oleh karenanya penolakan vaksin tidak bisa dipidana.
Sejak diunggah, cuitan Natalius yang menjelaskan mengenai pidana kepada orang yang menolak vaksin tersebut sudah disukai lebih dari 2000 pengguna Twitter. Ada 500 lebih warganet yang membagikan ulang. Selain itu, tidak sedikit warganet yang ikut memberikan tanggapan di kolom komentar. Berbagai pendapat ikut disampaikan warganet mengenai vaksin covid-19.
"Kenapa Habib Rizieq juga dianggap melanggar UU Karantina Kesehatan? Padahal Indonesia Belum Pernah Lockdown/ Karantina. Hukum Milik Penguasa," tulis akun @leitojazzy.
"Hukum, separo dijalankan, separo justru enggak. Bergantung selera. Itu namanya contradicto in terminis; tumpang tindih pikiran di lingkungan kekuasaan. Preet," komentar akun @Ayatulla03.
"Terserah kau aja bang, gimana enaknya kau aja, supaya nggak jadi ganjalan hati, biar tak sakit kau nanti," tanggapan kun @waelah_rizky.
Baca Juga: Natalius Pigai: Menolak Vaksin Covid-19 Itu Hak Asasi Rakyat
Sementara akun @MattRai3 menyampaikan, "Bukannya pidana berlaku dalam satu koridor uu karantina bang? Sementara negeri ini belum menerapkan uu karantina. Maksud pernyataan dalam bahasa hukum wamenkumham itu apa bang."
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan
-
JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang