Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Mutiara Rizka Maulina
Selasa, 02 Februari 2021 | 17:50 WIB
dr Tirta ceritakan pengalaman 16 kali swab tes. - (Instagram/@dr.tirta)

SuaraJogja.id - PT Kereta Api Indonesia (KAI) rencananya akan menggunakan GeNose sebagai alat pendeteksi virus corona dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sebagai syarat melakukan perjalanan. GeNose dipilih karena dinilai memiliki harga yang lebih murah dan akurasi yang cukup tinggi untuk mendeteksi virus. 

Sampai saat ini, KAI masih menjadikan bukti pemeriksaan rapid test antigen untuk syarat melakukan perjalanan kereta jarak jauh. Akibatnya, masyarakat banyak yang kesulitan melakukan perjalanan karena tidak cukup uang untuk melakukan tes yang hanya berlaku untuk beberapa hari saja. 

Relawan Kesehatan Tirta Mandira Hudhi alias dr Tirta mengaku tidak setuju dengan penggunaan surat keterangan sehat sebagai syarat perjalanan. Cara untuk menangani pandemi adalah dengan membatasi mobilitas seseorang. Mengapresiasi penggunaan produk lokal seperti GeNose, tetapi menurut dr Tirta, hal tersebut tidak akan mengubah apa pun dalam dunia transportasi. 

"GA mengubah APAPUN DI DUNIA TRANSPORTASI. Mau transportasi aje ribet amat, pake surat-surat ini itu, padahal tinggal protokol 3M," tulis dr Tirta. 

Ia menegaskan jika penggunaan surat-surat keterangan yang jadi syarat perjalanan justru menjadi kebijakan yang mempersulit rakyat. Menurutnya, dibandingkan menggunakan tes kesehatan sebagai persyaratan lebih baik menekankan pelaksanaan protokol kesehatan menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker (3 M). 

Pria kelahiran Surakarta ini meyakini jika ada GeNose atau tidak, masyarakat Indonesia akan tetap melakukan mudik besar-besaran pada hari lebaran mendatang.

Untuk mencegah Covid-19 adalah dengan membatasi mobilitas penduduk. Salah satunya dengan membatasi jumlah penumpang dalam setiap angkutan umum yang beroperasi. 

Menurutnya, GeNose justru akan lebih efektif untuk melakukan screnning di kampung-kampung atau pedesaan. Terutama wilayah-wilayah yang sulit untuk menggelar PCR atau Swab Test.

Sebab, fungsi utama GeNose adalah untuk melakukan screening. Kenapa justru digunakan untuk persyaratan transportasi. 

Baca Juga: Gawat ! Polisi Ancam Tutup Usaha Warga, Ini Alasannya

"Minimal kampung di Jogja dulu, kan penelitianne di Jogja hehe @fkkmkugm . Secara warga biasa juga penasaran to sama test ini. Bukan hanya yang mau bepergian," tulis dr Tirta. 

Tes kesehatan apapun akan percuma jika pelaksanaan protokol kesehatan 3 M tidak dijalankan dengan maksimal. Ia menegaskan jika dimanapun, tes kesehatan digunakan untuk screening bukan untuk syarat melakukan perjalanan, surat masuk kantor dan sebagainya. 

Mengingat kasus pemalsuan surat keterangan bebas Covid-19 yang sempat viral di media sosial sebelumnya, dr Tirta mempertanyakan apakah pemerintah tidak kapok dengan tetap menerapkan kebijakan tersebut.

Tidak ada jaminan, jika hasil GeNose negatif tidak akan tertular Covid-19 selama berada di perjalanan. 

Sejak diunggah Selasa (2/2/2021), pendapat dr Tirta mengenai penggunaan GeNose sebagai syarat melakukan perjalanan tersebut sudah disukai lebih dari 25 ribu warganet.

Selain itu, ada 600 lebih komentar yang saling berbagi pendapat mengenai penggunaan GeNose dalam unggahan tersebut. 

Load More