SuaraJogja.id - Program vaksinasi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah mulai memasuki tahap kedua. Setelah nakes, sasaran vaksin pun diperluas ke pelayan publik, mulai dari pelayan publik di instansi pemerintah, wartawan, petugas pariwisata, termasuk para pedagang pasar.
Namun nyatanya, tidak sedikit dari sasaran vaksinasi Covid-19 tahap kedua ini, khususnya pedagang, masih enggan untuk diberi vaksin dengan alasan takut.
Menanggapi hal ini, Sosiolog Kriminalitas dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Soeprapto mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang membuat masyarakat ketakutan untuk menerima vaksinasi Covid-19, termasuk yang paling penting tentang sebaran informasi di media sosial.
Pasalnya, sejauh ini masih saja ditemukan informasi yang bertentangan terkait dengan vaksinasi Covid-19. Informasi yang simpang siur ini menjadi pemicu ketakutan masyarakat untuk divaksin Covid-19 itu muncul.
"Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat sepenuhnya karena di media sosial pun masih banyak informasi yang bertentangan apa yang menjadi imbauan maupun peraturan pemerintah. Masih banyak pihak yang menyatakan vaksin tidak penting, malah membuat orang sakit hingga meninggal. Padahal dimungkinkan orang yang meninggal setelah divaksin bukan karena vaksinasinya tapi ada riwayat kesehatan tertentu," kata Soeprapto, saat dihubungi awak media, Kamis (25/2/2020).
Isu hoaks, kata Soeprapto juga masih ditemukan di dunia media sosial. Hal itu yang membuat masyarakat lantas berpikiran negatif terhadap penanganan pandemi Covid-19 yang ada di Indonesia.
Soeprapto menyebut terdapat informasi dari berbagai sumber terkait dengan vaksin Covid-19. Bahwa pada dasarnya vaksin memang tidak lantas membuat virus corona tidak masuk sepenuhnya ke dalam tubuh.
Namun sisi lain, disebutkan bahwa vaksin akan membantu memberikan kekebalan terhadap tubuh. Khususnya terhadap gejala berat yang lebih bisa dikurangi apabila terpapar Covid-19.
"Tiga hal itu yang membuat masyarakat masih bingung. Bahwa [vaksinasi Covid-19] ini sebetulnya, berbahaya atau tidak," terangnya.
Baca Juga: Tinjau Vaksinasi untuk Wartawan, Jokowi Harap Bisa Lindungi Awak Media
Ketakutan masyarakat yang masih merasa takut menerima vaksinasi Covid-19 ini perlu disikapi dengan bijak oleh pemerintah. Pasalnya Soeprapto menilai bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia sudah patuh terhadap aturan termasuk peraturan perundang-undangan.
"Sebetulnya pada dasarnya masyarakat Indonesia itu sangat patuh terhadap peraturan perundangan di negara. Jangankan di negara, hukum adat dan budaya yang berlaku di masyarakat pun dipatuhi," ungkapnya.
Menurut Soeprapto, sosialisasi yang terus menerus dilakukan kepada masyarakat menjadi salah satu solusi mengurangi ketakutan tersebut. Masyarakat perlu benar-benar menyadari dan yakin bahwa Covid-19 itu memang ada.
Di sisi lain pemerintah juga harus menindak tegas oknum-oknum yang secara sengaja menyebarkan informasi tidak benar atau hoaks, khususnya terkait dengan vaksinasi Covid-19, agar makin meredam keresahan masyarakat.
"Menurut kami perlu sosialisasi yang terus menerus agar masyarakat yakin bahwa pertama corona itu ada. Selain itu, pemerintah juga harus tegas menindak orang-orang yang menyebarkan hoaks bahwa vaksinasi itu justur akan mematikan," tegasnya.
Soeprapto meyakini bahwa pemerintah tidak akan mengambil risiko untuk rakyat jika memang benar vaksin Covid-19 itu berbahaya. Justru pemerintah sudah mempertimbangkan itu dengan terus memantau pelaksanaan vaksinasi di lapangan.
Berita Terkait
-
Tinjau Vaksinasi untuk Wartawan, Jokowi Harap Bisa Lindungi Awak Media
-
Vaksin Covid-19 Tahap Dua Tiba di Lampung
-
Ghana Jadi Negara Pertama yang Dapat COVAX, Vaksin Covid-19 Patungan Dunia
-
Tim Vaksin AstraZeneca: Ada Kemungkinan Vaksin Berbentuk Pil atau Semprotan
-
182.700 Dosis Vaksin Covid 19 untuk Lansia Tiba di Palembang
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana
-
Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini, BRI DPLK Kini Lebih Praktis Dibuka lewat BRImo
-
Duh! Gunungkidul Sampai Ajukan Tambahan Stok BBM, Pemda DIY Lakukan Efisiensi Transportasi
-
Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius