SuaraJogja.id - Virus corona varian Delta yang telah sampai di Indonesia cukup mengkhatirkan. Apalagi dengan kemampuannya penularannya yang jauh lebih tinggi dari varian asli.
Melansir dari Healthshots, selain lebih menular varian Delta juga mampu menghapus sebagian besar kekebalan populasi pada orang-orang yang sempat terinfeksi. Dalam sebuah studi baru melaporkan bahwa rangkaian mutasi unik pada varian Delta membuat virus lebih infektif. Hal ini menyebabkan viral load yang lebih tinggi pada manusia dan menyebabkan kelompok wabah yang lebih besar.
Penelitian tersebut dilakukan oleh gabungan peneliti India termasuk Institute of Genomics and Integrative Biology (IGIB) bekerja sama dengan Gupta Lab Universitas Cambridge.
“Temuan utama dari makalah ini adalah bahwa varian Delta memiliki potensi pelepasan kekebalan yang baik seperti yang ditunjukkan di laboratorium. Itu juga dengan cepat menggantikan varian lain dan menyebabkan sebagian besar infeksi terobosan (infeksi setelah vaksinasi lengkap) pada petugas kesehatan," kata Dr Rajesh Pandey, salah satu penulis makalah dan ilmuwan senior di Institute of Genomics and Integrative Biology.
"Ini artinya kita harus sangat berhati-hati dan berperilaku sewajarnya, apalagi sekarang kita juga melihat kasus Delta Plus. Kami masih tidak tahu apa-apa tentang potensi pelarian kekebalannya,” imbuhnya.
Varian Delta memiliki transmisibilitas maksimum yang belum terlihat dan mengurangi perlindungan netralisasi dari infeksi dan vaksin sebelumnya. Model matematika berdasarkan kasus dan kematian yang dilaporkan dari Mumbai menunjukkan bahwa pada akhir Januari, ada peningkatan 2 persen dalam penularan varian Delta terhadap semua virus corona lain yang beredar.
Varian ini juga menunjukkan peningkatan 32 persen dalam penghindaran kekebalan dari infeksi sebelumnya.
“Kami menemukan bahwa Delta lebih menular dan lebih mampu menghindari kekebalan sebelumnya yang ditimbulkan oleh infeksi sebelumnya dibandingkan dengan virus corona yang beredar sebelumnya," ujar tulis tweet dari Gupta Lab yang berkolaborasi dari Cambridge University.
"Meskipun ada ketidakpastian substansial dalam perkiraan kami, kami menemukan bahwa di Mumbai, varian Delta 10 persen hingga 40 persen lebih dapat ditularkan daripada garis keturunan yang beredar sebelumnya, dan mampu menghindari 20 hingga 55 persen perlindungan kekebalan yang diberikan oleh infeksi sebelumnya,” imbuhnya.
Baca Juga: Pulang Nonton Euro 2020 di Rusia, 100 Fans Finlandia Terpapar COVID-19
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Tegas! UAD Berhentikan Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual di Lokasi KKN
-
Dugaan Warga Sleman Jadi Korban Mafia Tanah, Kantor Pertanahan Ungkap Temuan Ini
-
Unisa Yogyakarta Raih Penghargaan JBBA 2026 di Klaster Pendidikan
-
Seru, Dapatkan Harga Istimewa Hyundai Creta Lewat Program Triple Zero & Trade-In Benefit
-
Pesan Sri Sultan HB X di JBBA 2026, Bisnis Dibangun dengan Hati dan Kepercayaan