Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Senin, 13 September 2021 | 08:48 WIB
Peternak ayam petelur di Gunungkidul sedang merapikan telur hasil panen untuk dijual ke konsumen. [Kontributor / Julianto]

Bagaimana tidak, dengan populasi 3.000 ekor ayam petelur yang ia milik, saban harinya ia membutuhkan kurang lebih 360 kilogram pakan. Sementara hasil yang ia dapatkan yakni telur 150 kilogram per hari. Jumlah ini tentu saja tidak cukup untuk menutup biaya produksinya. Alhasil, setiap harinya ia harus tombok. 

Terpisah, Ketua Paguyuban Unggas Handayani, Subandi menyampaikan, hampir kurang lebih satu tahun ini para peternak terus dihantam dengan persoalan mahalnya harga pakan. Ia menyebutkan saat ini harga pakan mencapai Rp 6600/kg.

"Hampir satu tahun ini kita sedang prihatin, dengan harga jual telur Rp 16 ribu, kami harus menanggung kerugian sekitar Rp 6 ribu perkilogramnnya,"ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga pakan ini disebabkan mahalnya harga campuran pakan seperti jagung dan konsentrat. Normalnya harga jagung hanya berkisar Rp 3800 sampai Rp 4000, namun saat ini harga bahan pokok pakan mengalami kenaikan hingga Rp 20% sehingga kondisi ini semakin memberatkan peternak. Padahal, 50% komponen pakan menggunakan jagung.

Baca Juga: Bersama Istri, Oknum ASN di Gunungkidul Bawa Lari Mobil Rental yang Digadaikan

Ia menyebut jumlah peternak di Gunungkidul itu ada sekitar 300an yang tergabung di Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia Pinsar Petelur Nasional. Dari 300 peternak sudah ada beberapa yang berhenti produksi, kalau tidak ada perubahan atau bantuan dari pemerintah, kemungkinan dirinya juga akan 
 berhenti produksi.

Terpisah, Direktur Pembibitan, Ditjen PKH Kementerian Pertanian Sugiyono menyampaikan pihaknya akan segera menindaklanjuti terkait keluhan yang disampaikan oleh para peternak di Gunungkidul untuk mengupayakan adanya kestabilan harga telur dan jagung.

"Sebetulnya ini bukan tupoksi saya, tapi karena ada perintah langsung dari Presiden dan Kementan saya akan mengusahakan ini dan kita sudah bergerak,"ujarnya.

Pihaknya akan melakukan kerjasama-kerjasama dengan berbagai perusahaan untuk menambah suplai jagung. Selain itu, sebagai langkah konkrit, Negara membuat keputusan dengan menambah stok jagung baik dengan cara impor ataupun menambah lahan pertanian jagung.

Kontributor : Julianto

Baca Juga: Buron Kasus Korupsi Rp5,2 Miliar, Lurah Serahkan Diri ke Mapolres Gunungkidul

Load More