SuaraJogja.id - Rencana Presiden Prabowo Subianto mengurangi transfer dana ke daerah, termasuk dana keistimewaan (danais) pada 2026 kepada Pemda DIY hingga mencapai Rp 500 Miliar memunculkan pro dan kontra di masyarakat.
Gubernur DIY, Sri Sultan HX mengaku legawa dengan kebijakan tersebut.
Bahkan Raja Keraton Yogyakarta tersebut tidak mau melobi pemerintah untuk membatalkan rencana pengurangan danais hingga lebih dari 50 persen dari total Rp 1 Triliun yang diterima DIY.
Meski pengurangan anggaran tersebut akan berdampak besar dalam pelaksanaan berbagai program yang sudah disiapkan dua tahun terakhir.
"Kalau saya punya beban untuk menyampaikan negosiasi [pembatalan pengurangan danais ke presiden prabowo] untuk ditambah," papar Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (21/8/2025).
Beban politis tersebut, menurut Sultan tidak lepas dari sejarah pemberian danais pemerintah pada Pemda DIY.
Danais diketahui merupakan bentuk pengakuan dan dukungan terhadap keistimewaan DIY melalui Undang-undang Keistimewaan (UUK) Nomor 13 Tahun 2012.
Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keraton Yogyakarta pada masa kepemimpinan Sri Sultan HB IX banyak membantu negara ini pada 1940-an dengan menyumbangkan sekitar 6 juta gulden untuk kepentingan negara.
Pada saat itu keuangan Indonesia berada di titik kritis dan kas negara kosong.
Baca Juga: Sultan Legawa Danais Dipangkas, DPRD DIY Meradang! Apa yang Terjadi?
Sumbangan dari Keraton Yogyakarta itu menopang biaya operasional negara, mulai dari kesehatan, pendidikan, militer, hingga gaji pegawai.
"Saya tidak mau dalam pengertian politik danais sebagai bentuk dipersamakan sewaktu swargi [Sri Sultan HB ke-9] membantu membiayai republik. Almarhum membantu itu ikhlas kok, bukan itu dikonversi sama [Danais] ini. Jadi itu kan beban bagi saya. Jadi saya tidak bisa berkomentar apapun. Itu kira-kira, saya anggap beban politik," ungkap dia.
Sultan menyebut, keputusan pemberian danais berada sepenuhnya di pemerintah pusat dan DPR.
Apalagi pengurangan anggaran tidak hanya danais namun juga pos pendapatan daerah lainnya demi efisiensi anggaran.
"Ya gimana, itu kan APBN. Semua dipotong, ya mau apa lagi dan itu sudah dimasukkan ke bagian usulan pemerintah ke DPR. Saya nggak tahu apakah [anggarannya akan naik atau tidak. Kalau saya, terserah saja pemerintah bagaimana, anggarannya juga turun," ungkap dia.
Namun Sultan mengakui, pengurangan anggaran dari pemerintah pusat berdampak pada pembangunan DIY.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Es Jeruk di Malioboro Rp20 Ribu Viral, Hasto Bakal Turunkan Satpol PP
-
BPPD DIY Dorong Yogyakarta Jadi Destinasi Cultural Wellness Berkelanjutan Lewat Festival 2026
-
Gandung Pardiman Meninggal Dunia di RS Panti Rapih, Dimakamkan di Ponjong
-
BRI Terus Lakukan Buyback Saham, Fundamental Perseroan Jadi Penopang Pertumbuhan
-
JPW Desak Ketegasan Polda DIY Tindak Parkir Liar Selama Operasi Patuh Progo 2026