SuaraJogja.id - Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Puspresnas Kemdibud Ristek) kembali menggelar Kompetisi Robot Indonesia (KRI) mulai 22 September hingga 1 Oktober 2021 dengan UGM. Kompetisi secara daring ini diikuti 278 tim robot dari 107 perguruan tinggi (PT) di Indonesia.
Berbeda dari sebelumnya, proses penjurian pada tahun ini mengalami perubahan. Sebab putusnya jaringan kabel laut beberapa waktu lalu berdampak pada koneksi jaringan antarpulau.
"Untuk penilaian dilakukan dengan mengambil rata-rata nilai dari beberapa kali pertandingan. Penjurian ini kita ubah karena takutnya saat tim bermain dapat giliran putus koneksi sehingga diambil beberapa kali pertandingan dan ambil rata-ratanya,” papar salah satu dewan juri KRI, Benyamin Kusumoputro dalam pembukaan KRI di UGM, Kamis (23/09/2021).
Menurut Benjamin pelaksanaan KRI secara daring bukan hal yang mudah. Sebab terdapat ketidaksamaan infrastruktur di setiap wilayah Indonesia.
Selain persoalan kabel laut yang putus, permasalahan jaringan juga bukan perkara mudah. Misalnya delay jaringan internet di Pulau Jawa biasanya berlangsung 3-5 detik. Sedangkan di luar Pulau Jawa delay terjadi lebih dari 10 detik.
“Perbedaanya kelihatannya sedikit tidak masalah namun dengan kompetisi yang berlangsung secara real time maka perbedaan delay itu jadi persoalan,” tandasnya.
Sementara Koordinator Pokja Dikti Puspresnas, Rizal Alfian mengungkapkan pelaksanaan KRI selama pandemi memang mengalami sejumlah hambatan. Terutama putusnya jaringan internet di laut yang berdampak pada kompetisi secara daring.
"Memang tidak mudah melaksanakan kri selama pandemi," ujarnya.
Rizal berharap kontes robotika tahunan ini bisa meningkatkan minat, ide, serta kreativitas mahasiswa dalam bidang teknologi robotika. Mahasiswa tidak hanya bersemangat mengembangkan robot untuk kontes robot namun juga memberikan solusi terhadap problematika di masyarakat melalui rekayasa robot.
Baca Juga: Alga Coklat Berpotensi Jadi Antivirus, Ini Penelitian Mahasiswa UGM
KRI kali ini dikelompokkan dalam dua bagian seperti KRI Wilayah I dan KRI Wilayah II. KRI Wilayah I diikuti 140 tim mahasiswa dari 54 PT di wilayah Indonesia bagian Barat. Sedangkan KRI Wilayah II diikuti 138 tim mahasiswa dari 53 PT di wilayah Indonesia bagian Timur.
"Kedepan bagaimana kolaborasi antarmahasiswa pascakompetisi terjadi. Kita bangun proyek bersama, tidak hanya kompetisi tapi proyek yang menghasilkan sesuatu untuk indonesia," ungkapnya.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Suharyadi menambahkan, peserta KRI bertanding di universitas masing-masing. Kompetisi ditayangkan secara daring melalui video conference.
"Juri dan panitia terpusat secara luring di gsp ugm," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Fakta Pahit Buruh Pengupas Bawang di Jogja, Kerja Seharian Hanya Diupah Rp3 Ribu
-
Ospek Bukan Ajang Perpeloncoan, Rektor UNY: Perlakukan Mahasiswa Sebagai Raja-Ratu
-
BRI Cetak Rekor MURI: Hadirkan Kredit Kendaraan Serentak di 131 Lokasi
-
Dokter dan Nakes Viral Komentar Nirempati, FKKMK UGM Sebut Pembekalan Etika Bermedsos Sejak Maba
-
Dinkes DIY Siapkan 240 Kg Obat untuk Korban Gempa NTT, Pastikan Stok Jogja Tak Tertanggu