SuaraJogja.id - Penjelasan lengkap proses terjadinya hujan. Indonesia memiliki 2 musim dalam satu tahun. Musim kemarau dan musim penghujan.
Pergantian musim terjadi 6 bulan sekali. Kemarau terjadi diantara bulan April-September, sedangkan penghujan terjadi di bulan Oktober-Maret.
Bila masuk musim penghujan, Indonesia akan sering diguyur hujan entah pagi, siang, dan sore. Setiap tempat memiliki curah hujan yang berbeda-beda.
Ingin tau proses terjadinya hujan? berikut penjelasan singkatnya.
Hujan merupakan bentuk perpindahan uap air yang bergerak ke atas, kemudian mengumpal hingga titik jenuh dan akhirnya turun ke bumi. Secara umum terjadinya hujan terbagi menjadi 3 tahapan yaitu evaporasi, kondensasi, dan presipitasi.
1. Evaporasi
Evaporasi atau penguapan air merupakan tahap pertama terbentuknya hujan. Proses ini dibantu dengan panas matahari. Apabila terik matahari semakin panas, penguapan airpun semakin banyak. Uap air ini akan naik ke atas atmosfer bumi.Hal tersebut sebagai tanda awal hujan.
2. Kondensasi
Kondensasi merupakan tahap selanjutnya setelah penguapan air. Uap air akan naik ke atmosfer mengalami pengembunan. Perubahan uap air menjadi kristal es kecil. Proses penguapan ini dipengaruhi oleh perbedaan suhu dan ketinggian awan.
Baca Juga: Waspada Banjir dan Longsor Lebak! BPBD Wanti-wanti Warga Siap Siaga
Semakin tinggi awan maka suhu akan mendingin. Setelah itu kristal es akan terbentuk dan berkumpul menjadi awan, proses ini disebut Koalensi.
3. Presipitasi
Proses terakhir yaitu presipitasi atau pencairan es pada awan, kemudian turun ke bumi menjadi hujan. Awan yang sudah terlalu padat akan jatuh menjadi titik-titik hujan.
Butiran es yang turun sebagai hujan memiliki ukuaran yang bervariasi kisaran 0,5 mm. Ukuran tersebut tergantung dengan lokasi awan. Hujan gerimis turun diturunkan awan dangkal. Sedangkan hujan. Sedang diturunkan awan menengah dan tinggi.
Jadi bisa ditarik kesimpulan, pertama hujan turun apabila awan sudah mencapai titik jenuh dan tak bisa menampung uap air. Kedua butiran es yang tertarik oleh gravitasi bumi.
Tak seluruhnya butiran es sampai ke bumi sebagai hujan. Gesekan butiran es dengan atmosfer ikut mengikis sehingga menguap kembali. Bila butiran awal es kecil, kemungkinan besar tidak bisa turun menjadi hujan.
Berita Terkait
-
Makassar Sampai Tana Toraja Berpotensi Hujan Ringan Siang Ini
-
Viral! Hujan Deras di Parkiran Hanya Guyur Satu Mobil Saja
-
Bikin Bingung, Warganet Rekam Hujan yang Hanya Mengguyur 1 Mobil
-
Heboh Hujan Turun Hanya di Satu Mobil, Warganet Auto Berdebat
-
Prakiraan Cuaca Jakarta Selasa 2 November: Siang Hujan
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Jogja Punya 22 Masalah Besar yang Tak Kunjung Tuntas, Kampus Akhirnya Diminta Turun Tangan
-
Dari Pelosok hingga Perkotaan, BRI Perkuat Akses Keuangan untuk Masyarakat Indonesia
-
Siapa Sajakah yang Bisa Mendapatkan Penawaran BRI Multiguna Pre-Approved?
-
Saat Anggaran BNPB Turun Tajam, Dana Bencana Rp7,3 Triliun Diminta Lebih Mudah Diakses Daerah
-
Tak Bisa Lagi Jor-joran di Tengah Efisiensi , FKY 2026 Andalkan Kekuatan Komunitas Seni