SuaraJogja.id - Keresahan warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah terhadap kedatangan intensif aparat kepolisian akan dilaporkan ke Mabes Polri. Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) merasa dalih patroli aparat sudah di luar batas wajar.
Kuasa Hukum warga desa Wadas (Gempadewa), Julian Dwi Prasetya mengatakan bahwa pihaknya sudah mencatat laporan masyarakat terhadap aksi aparat ke Desa Wadas. Pihaknya segera melaporkan ke Mabes Polri.
"Dengan catatan dari warga hingga 16 kali aparat berpatroli ini akan kami laporkan ke Mabes Polri. Meskipun tidak tahu apakah akan direspon atau tidak," terang Julian saat konferensi pers di Kantor Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Yogyakarta, Kamis (4/11/2021).
Meski tahu kecil kemungkinan laporan Gempadewa direspon oleh kepolisian, Julian menyebut bahwa cara ini bisa menunjukkan bagaimana polisi menindaklanjuti laporan masyarakat yang jarang terselesaikan.
"Sebelumnya pada kejadian 23 April (ricuh aparat dan warga) sudah kami laporkan dan mengirim surat keberatan ke Kapolri. Namun sampai saat ini tidak ada respon apapun, tinggal kami lihat bagaimana polisi merspon laporan ini," ujar dia.
Pihaknya juga menyoroti kegiatan aparat ke Desa Wadas yang diluar kata normal. Jika hanya untuk patroli, seharusnya polisi menjaga keamanan warga Wadas.
"Kalau warga sudah mencatat hampir 16 kali aparat berpatroli, kita tidak bisa naif ini adalah patroli biasa. Apalagi ini spesifik di Desa Wadas saja. Terlebih lagi, warga khawatir patroli aparat ini bukan menjaga warga tapi justru mengamankan proyek (penambangan andesit)," terang dia.
Kekhawatiran itu muncul karena saat peristiwa keributan April 2021 lalu, aparat bertindak represif. Bahkan tak sedikit warga yang ditangkap saat itu.
"Memang alasan patroli itu untuk keamanan dan ketertiban wilayah. Hanya saja berkaca dari peristiwa 23 April menjadi kesan yang berbeda, warga menganggap hal itu sebagai upaya mengamankan proyek penambangan. Karena perbedaan persepsi itu warga merasa khawatir dengan kedatangan aparat yang intensif ini," jelas dia.
Baca Juga: Gugatan Walhi Terhadap PT NAN Ditolak PN Padangsidimpuan
Terpisah, Direktur Walhi Yogyakarta, Halik Sandera mempertanyakan dalih patroli yang dilakukan aparat. Jika memang ingin menjaga keamanan, cukup beberapa personel dan tidak perlu membawa senapan laras panjang.
"Kalau memang benar berpatroli seharusnya cukup dengan satu mobil. Jadi tidak perlu banyak anggota polisi sampai membawa senjata seperti itu dan tidak perlu mengenakan rompi anti peluru. Itu di luar normal, dan sangat wajar warga merasa sangat resah," kata dia.
Ia juga meyakini jika hanya sebatas menjaga keamanan desa, warga Wadas juga memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga wilayahnya jika memang masih bisa dikendalikan oleh warga. Sehingga tidak perlu aparat terlalu intensif turun ke lapangan.
Sebelumnya, warga Wadas merasa khawatir dan trauma dengan kedatangan aparat polisi berseragam lengkap dengan senapan laras panjang ke desa setempat. Tidak hanya 1-2 hari, warga mencatat lebih dari 15 kali aparat datang berpatroli.
Warga mendesak agar polisi menyudahi aktivitas yang dinilai tidak normal itu. Mereka mengecam tindakan intimidasi dan teror yang dirasakan dengan kedatangan aparat.
Berita Terkait
-
Tolak Penambangan: Mengapa Warga Wadas Terusik Kehadiran Aparat?
-
Warga Desa Wadas Ungkap Keberpihakan Polisi Terhadap Penambangan Daripada Rakyat
-
Polisi Mendadak Patroli di Desa Wadas, Warga: Padahal Sebelumnya Tidak Pernah Diperhatikan
-
Komnas HAM Siap Kawal dan Tuntaskan Pelanggaran HAM Terhadap Warga Wadas
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY
-
Honda DBL Jogja 2026 Dimulai: Sensasi Riding Test dan Peluang Bawa Pulang New Honda BeAT
-
Influenza A Terdeteksi di DIY, 24 Kasus Muncul, Sekolah Belum Diliburkan
-
Pestapora 2026 Siap Makin Meriah, BRImo Bawa Program Spesial
-
Cak Nun hingga Eross Sheila on 7, Jejak 77 Tahun MUHI Yogyakarta Diabadikan dalam Buku