Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora
Selasa, 16 Agustus 2022 | 14:25 WIB
Aparat kepolisian sedang berjalan melintas di depan salah satu EWS Merapi di Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Selasa (16/8/2022). (Kontributor Suarajogja.id/Uli Febriarni)

"Peserta upacara akan menggunakan pakaian adat berbagai daerah nusantara," kata dia.

Upacara dilanjutkan dengan flash mob bersama dan pertunjukkan tari tradisi Kabupaten Sleman, tari baduwi.

Akan ada pengumuman diikuti pembagian hadiah kepada peserta upacara berpakaian adat menarik dan peserta paling aktif saat flash mob.

"Hadiah berasal dari dana yang dikumpulkan secara inisiatif bersama seluruh pelaku pariwisata," ucapnya.

Baca Juga: Aktivitas Gunung Merapi: Terjadi 129 Kali Gempa Selama 24 Jam Terakhir

Bandang menjelaskan, kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya untuk menyemarakkan HUT RI. Melainkan sebagai cara untuk menunjukkan kepada masyarakat dan wisatawan, bahwa pariwisata Kaliurang mampu tampil dan cepat bangkit dari keterpurukan pascapandemi Covid-19.

Selain itu, mengenalkan Tari Badui sebagai khas Kabupaten Sleman dan Nawang Jagad sebagai satu destinasi baru yang inovatif dari warga Kabupaten Sleman, khususnya kawasan Kaliurang.

Untuk kali pertama, pada 17 Agustus 2022 retribusi masuk ke kawasan wisata Kaliurang dan Kaliadem ditiadakan selama sehari, mulai pukul 07.30 WIB sampai 21.00 WIB.

Program khusus tersebut sudah disetujui Bupati Sleman. Ada alasan Dispar hanya bisa menerapkan pungutan retribusi tiket alias tiket gratis masuk pada 17 Agustus 2022 itu, untuk dua kawasan destinasi wisata.

"Karena memang, yang bisa kami kelola berdasarkan Perda untuk pungutan retribusi adalah kawasan Kaliurang dan Kaliadem," kata dia.

Baca Juga: Puskesmas Bantuan Korban Erupsi Merapi 2010 Mangkrak, Sumbangan Masyarakat Jawa Timur

Ia menjelaskan, dalam satu hari kunjungan pada akhir pekan, kawasan bertarif tiket masuk Rp5.000 per orang itu bisa didatangi 4.500 hingga 5.000 wisatawan.

Load More