Namun dalam perjalanannya antusiasme tambah besar. Diungkapkan Ratna, ternyata banyak dari para waria yang sungguh-sungguh mau belajar mengenal Tuhan. Mereka mengalami perubahan hidup. Hingga mereka kini beribadah di Hotel Horaios setiap hari Jumat pukul 16.00 WIB.
"Kebanyakan orang kan sulit untuk memberi kesempatan kedua, apa bisa bertobat, berubah, karena kita pakai cara kita. Namun kita lupa kita ini ciptaan Tuhan. Tuhan punya banyak cara untuk memanggil umatnya kembali kepada dia," ucapnya.
Peran Shinta tak berhenti sampai di situ. Sosok Shinta bahkan tetap menjadi tempat bagi para waria khususnya yang beragama Nasrani untuk curhat atau bercerita tentang keluh kesah mereka.
"Ya justru karena dia (Shinta) seorang muslim tapi justru memikirkan waria-waria nasrani yang selama ini tidak ada yang membina kerohaniannya. Loh itu yang luar biasa. Mungkin kami dari orang nasrani pun belum tentu punya kepedulian loh," cetusnya.
Tak hanya beribadah setiap pekan saja. GBI Jalan Terang Kasih Tuhan juga mencoba membantu para waria yang mengalami kesusahan. Mulai dari pengadaan sembako, pengobatan saat sakit hingga pemberian pinjamam modal ringan untuk mendorong para waria mempunyai usaha.
Sosok Shinta Ratri dianggap sebagai sebuah jembatan bagi para waria itu. Mereka yang kehilangan arah kembali dituntun ke arah yang lebih baik.
Ratna mengakui ada sejumlah program atau keinginan yang belum sempat dilakukan bersama dengan Shinta. Mengingat kesibukan Shinta selama ini. Kendati demikian semangat Shinta dalam memberikan hak yang sama bagi para waria untuk beribadah itu akan selalu berkobar.
"Tapi yang jelas dia (Shinta) ingin supaya para waria punya hak yang sama dalam ibadah. Itu kerinduan dia. Dia mengerti bahwa apapun agama kita, kita akan juga kembali kepada Tuhan," urainya.
Diketahui bahwa semasa hidupnya Shinta dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya hak-hak kelompok transpuan alias waria, sama seperti dirinya.
Baca Juga: Profil Shinta Ratri, Alami Jatuh Bangun Mendirikan Ponpes Waria Sebelum Meninggal
Dia aktif bergerak di komunitas yang memberdayakan orang-orang sepertinya agar tetap bisa mandiri walau dipandang miring oleh para tetangganya. Shinta merupakan ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO).
Meski kerap dianggap menyimpang, Shinta tak melupakan kewajibannya terhadap Tuhan. Dia bahkan mendirikan Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta sebagai tempat bernaung para transpuan yang sedang mencari Tuhan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Es Jeruk di Malioboro Rp20 Ribu Viral, Hasto Bakal Turunkan Satpol PP
-
BPPD DIY Dorong Yogyakarta Jadi Destinasi Cultural Wellness Berkelanjutan Lewat Festival 2026
-
Gandung Pardiman Meninggal Dunia di RS Panti Rapih, Dimakamkan di Ponjong
-
BRI Terus Lakukan Buyback Saham, Fundamental Perseroan Jadi Penopang Pertumbuhan
-
JPW Desak Ketegasan Polda DIY Tindak Parkir Liar Selama Operasi Patuh Progo 2026