Namun Sultan mengingatkan agar keputusan meliburkan sekolah dipikirkan dengan bijak. Sebab jika semua sekolah dan kampus diliburkan, maka justru bisa menimbulkan kesan negatif di masyarakat.
"Saya tidak mengatakan harus tutup atau tetap belajar. Silakan sekolah menimbang sendiri. Tapi kalau ditutup, konsekuensinya apa? Apakah siswa benar-benar di rumah atau malah ikut demonstrasi, kan kita tidak tahu. Lebih baik kampus tetap buka supaya masyarakat tidak melihat semua kampus meliburkan. Memangnya ada apa? Itu kesannya tidak bagus," imbuhnya.
Komitmen Rektor Kampus
Mengantisipasi gelombang demonstrasi mahasiswa yang kian meluas, para pimpinan perguruan tinggi di Yogyakarta mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga tradisi damai dalam menyuarakan aspirasi.
Namun mahasiswa harus menarik diri bila aksi berubah anarkis.
"Silakan demonstrasi, tidak ada larangan. Ini negara demokrasi, mereka punya alasan untuk aksi. Tetapi tolong hindari dan cegah kekerasan. Sekarang potensi anarkis gede banget, lebih sistematis dari sebelumnya,," papar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UGM, Arie Sujito usai bertemu Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Minggu (31/8/2025) malam.
Arie menyebut, kampus mendukung aksi sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara.
Namun yang perlu dihindari bukan sekadar kericuhan, tetapi juga manipulasi dari pihak luar.
Jangan sampai aksi yang digelar mahasiswa justru menciptakan horor baru.
Baca Juga: Tragis! Mahasiswa Amikom Meninggal Usai Ikut Aksi Unjuk Rasa, Kampus Berharap Penjelasan Polda DIY
Sebab, hal itu bisa menjadi alasan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mereproduksi simbol-simbol kekerasan.
"Kita akan melindungi mahasiswa, warga Jogja, tapi pada saat yang sama kita harus saling memperkuat agar potensi manipulasi tidak bisa jalan," tandasnya.
Terkait banyaknya kasus pembakaran dan penjarahan dalam aksi demo kali ini, Arie mendesak pemerintah menyelidiki dalang provokasi yang memanfaatkan situasi hingga berpotensi menjerumuskan mahasiswa menjadi korban.
Arie menilai, kondisi saat ini berbeda dengan demonstrasi 1998.
Jika pada 1998 , krisis ekonomi memicu krisis politik, maka yang terjadi saat ini krisis politik dipertajam dengan krisis ekonomi.
"Eskalasi percepatan ini luar biasa, pembakaran dan lain-lain. Saya yakin ada sesuatu yang harus diantisipasi. Jangan sampai rakyat jadi korban provokasi. Terlalu mahal kalau rakyat harus berkorban darah dan nyawa. Nah, tradisi Jogja di mana pun aspirasi selalu damai, ini harus kita jaga. Kalau ada anarkisme, biasanya kita langsung bertanya-tanya siapa di belakangnya," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Polda DIY Periksa Lima Saksi dalam Kasus Dugaan Malapraktik RSUD Prambanan
-
Diduga Terpeleset saat Tunggu Sunrise, Dua Remaja Tewas Tenggelam di Embung Kaliaji
-
Sentilan Sri Sultan HB X di Forum Jawa-Bali: Pusat Hanya Beri Teori Makro, Daerah Harus Mandiri
-
Balita 3 Tahun Tewas Diduga Korban Malapraktik RSUD Prambanan, Proses Hukum Seret Nama Direktur
-
Tangisan Haru Pengemudi! Bentor di Jogja Dimusnahkan dan Diganti Becak Listrik