- Tercatat ada 11.000 orang di DIY terjangkit ISPA
- Perubahan cuaca menyebabkan daya tahan tubuh manusia turun
- Dinkes DIY juga mengimbau penyakit lain yang bisa menyerang warga Jogja
Selain pengawasan medis, pemerintah juga menekankan pentingnya komunikasi risiko kepada masyarakat.
Edukasi mengenai etika batuk, penggunaan masker bagi yang sedang bergejala, serta kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah sederhana yang efektif mencegah penyebaran ISPA.
Sebab selain ISPA, Dinkes DIY juga mencatat peningkatan Penyakit Serupa Influenza (ILI) dan Pneumonia sepanjang tahun 2025.
Meski jumlah kasus ILI lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya, data menunjukkan adanya lonjakan aktivitas virus respiratori pada pertengahan tahun.
Puncaknya terjadi 190 kasus pada minggu ke-35 sebelum menurun kembali.
Sementara itu, pneumonia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di minggu-minggu terakhir.
Meskipun masih berada dalam batas maksimum historis, kasus pneumonia meningkat konsisten menjelang akhir periode pengamatan.
"Kenaikan ini perlu diantisipasi dengan penguatan kewaspadaan dini, surveilans klinis di fasilitas kesehatan, serta edukasi pencegahan melalui imunisasi dan perilaku hidup bersih," ungkapnya.
Selain penyakit pernapasan, Dinkes mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit lain yang berkaitan dengan musim hujan.
Baca Juga: 5 Minuman Khas Jogja Pelepas Dahaga saat Lelah Berkeliling Wisata di Cuaca Panas
Sebut saja leptospirosis, terutama di daerah rawan banjir dan genangan air.
Gejala penyakit ini sering kali mirip dengan flu. Namun dapat berkembang menjadi kondisi serius dengan gejala demam tinggi, mata kuning, dan gangguan ginjal.
"Surveilans terhadap Leptospirosis perlu diperkuat, termasuk verifikasi cepat terhadap laporan suspek atau kematian dengan gejala klinis kompatibel," ungkapnya.
Dengan meningkatnya berbagai penyakit menular selama 2025, Dinkes mendorong adanya koordinasi lintas sektor.
Mulai dari bidang penyakit tidak menular (PTM), gizi, hingga promosi kesehatan untuk menekan risiko yang dipicu faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
Apalagi perubahan cuaca yang semakin ekstrem perlu diimbangi dengan kesiapsiagaan masyarakat terhadap penyakit musiman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Gejayan Dikepung Massa, Tuntut Penurunan Harga BBM Hingga Tolak MBG dan UU TNI/Polri
-
Diguyur Hujan, Ratusan Mahasiswa dan Elemen Sipil Padati Gejayan Gelar Seruan Bersama
-
IHR: Piala Paku Alam 2026 Akan Digelar di Yogyakarta, Hadirkan Kemeriahan Pesta Karnaval
-
IHR: Piala Paku Alam 2026 Siap Digelar di Yogyakarta, Hadirkan Kemeriahan Pesta Karnaval
-
PTN Masih Ngeyel Buka Jalur Mandiri, PTS di Jogja Terancam Tutup Prodi